jurnalistik.co.id – Daniel Murphy membeli suplemen kebugaran secara online dengan keyakinan produk tersebut aman. Namun, dalam kasus yang mencuat dari Paradigm Peptides, ia akhirnya mengalami psikosis setelah pil yang diminumnya ternyata dicampur testosteron.
Kisah ini berawal dari keinginan Murphy untuk membentuk otot di gym, tetapi dua tahun berikutnya kesehatan mentalnya merosot hingga ia percaya keluarganya berniat menyerangnya. Dalam kondisi itu, Murphy meyakini istrinya ingin mengambil alih bisnisnya, sementara ibu dari pihak istrinya akan membunuhnya.
Di balik perubahan drastis tersebut, ada informasi yang tidak ia ketahui sejak awal. Pil harian yang ia konsumsi telah dicampur testosteron, padahal Murphy mengira ia sedang mengambil suplemen kebugaran yang “aman dan sudah teruji”.
Murphy menjadi salah satu dari 54.000 konsumen yang tercantum dalam perkara terhadap perusahaan peptide asal Amerika Serikat. Perusahaan itu, Paradigm Peptides, menjual produknya ke berbagai wilayah di dunia.
Dalam persidangan yang sama, pemilik Paradigm Peptides, Matthew Kawa, dijatuhi hukuman penjara selama lima tahun dan 10 bulan pada Kamis. Pengakuan bersalahnya mencakup tindakan menjual obat yang tidak disetujui, upaya menipu orang-orang terkait isi produk, serta membawa produk tersebut secara ilegal ke negara tersebut.
Adik Kawa, Jennifer Stechkober, yang juga mengaku bersalah dalam perkara penjualan obat yang tidak disetujui, dihukum satu tahun dan empat bulan. Keduanya mengakui telah berbohong mengenai asal pil, tingkat kemurnian, serta prosedur pengujian perusahaan.
Meski perusahaan mengklaim suplemen diproduksi di Amerika Serikat, dalam pengakuannya produk ternyata diimpor dari China, India, dan sejumlah negara lain. Selain itu, pasangan ini juga memalsukan certificates of analysis, yaitu dokumen yang menjadi bukti keselamatan dan kualitas suatu produk.
Di situs Paradigm Peptides, perusahaan menyatakan mereka “stringently” menguji produk untuk memastikan “efficacy, purity and potency”. Akan tetapi, dalam pengakuan di pengadilan, mereka tidak melakukan pengujian atau analisis pada produk yang dijual sehingga tidak mengetahui bahwa isinya telah dicampur testosteron.
Testosteron sendiri adalah hormon steroid yang diproduksi tubuh secara alami. Hormon ini berperan dalam perkembangan fisik, pembentukan otot, serta mengatur dorongan seks—terutama pada pria, namun juga mendukung kesehatan perempuan. Versi sintetisnya dapat diresepkan dokter, tetapi bila dikonsumsi tanpa pengawasan medis dapat menimbulkan kerusakan hati, efek psikiatrik serius, serta masalah jantung dan gangguan pada sistem pernapasan.
Testosteron juga bisa meningkatkan risiko infertilitas pada pria dan menambah peluang kanker testis. Dalam konteks kasus Paradigm Peptides, pencampuran testosteron menjadi faktor yang memperparah kondisi psikologis korban.
Industri peptide dan SARMs yang berada di zona abu-abu
Kasus Paradigm Peptides digambarkan sebagai salah satu yang paling besar mengguncang industri ini. Pasar yang tidak teregulasi secara ketat itu, menurut pemberitaan, telah meledak ke arus utama dalam 18 bulan terakhir.
Peptida adalah rantai pendek asam amino yang diproduksi tubuh. Zat ini telah lama dipakai untuk mengatasi kondisi medis tertentu, termasuk diabetes. Dalam penggunaan yang lebih baru, peptida juga dikaitkan dengan obat penurunan berat badan seperti GLP-1.
Jenis lain yang dijual Paradigm Peptides adalah SARMs (Selective Androgen Receptor Modulators), obat yang bekerja menargetkan jaringan tertentu untuk meningkatkan massa otot dan tulang. Kawa dan rekannya menjual produk-produk injeksi yang tidak teregulasi—dua kategori yang menjadi makin populer di komunitas kebugaran daring, termasuk di kalangan influencer muda.
Konten media sosial dipenuhi promosi tentang manfaat berbagai zat, seperti BPC-157, GHK-CU, dan TB 500. Zat-zat tersebut diklaim membantu membangun massa otot, mempercepat pemulihan jaringan, atau memperbaiki kesehatan kulit.
Namun, dalam pemberitaan ini, produk-produk tersebut tidak berlisensi. Produk hanya dapat dijual untuk tujuan pengujian dan tidak cocok untuk konsumsi manusia. Salah satu risikonya adalah efek samping serius yang bisa muncul ketika komposisi tidak sesuai label.
Murphy: yakin suplemen aman karena dianggap “dietary supplement”
Murphy mengatakan sebelum semuanya berubah, ia berada dalam kondisi baik. Ia menikah dengan Laura dan membangun kehidupan yang “very stable, consistent, beautiful life” di wilayah Smoky Mountains di Knoxville, Tennessee.
Ia menurunkan berat badan 130 pon (59 kg) dan menyelesaikan “completed a major health transformation” lewat diet dan olahraga. Ia mengaku tidak tertarik pada budaya gym secara khusus, tetapi setelah tujuan turun berat tercapai, ia ingin mulai membangun massa otot.
Ia menjelaskan, “I wasn’t into gym culture – I wasn’t a big gym bro or anything,” lalu menambahkan, “But after I had lost all that weight, I wanted to start building muscle and these supplements seemed like a safe way of doing that.”
Murphy percaya ia mengambil dosis harian SARMs. Karena sama seperti peptida, SARMs tidak disetujui untuk pemakaian manusia dan dianggap sebagai obat eksperimental yang berisiko memicu kerusakan hati serius, trombosis, serta masalah pada jantung.
Ia merasa aman karena produk diberi label sebagai “dietary supplement”. Murphy juga menyebut Paradigm mengklaim memiliki kontrak dengan US Food and Drug Administration (FDA) di berbagai blog, tetapi klaim itu ternyata tidak benar.
Berita Terkait
Ia mengatakan, “Like other victims, I trusted that the products were safe,” dan menambahkan, “They presented everything as research backed with claims of 99% purity – it was all a lie.”
Murphy mulai mengonsumsi SARMs Paradigm pada Januari 2023. Pada awalnya, ia merasa ada efek positif: ia bisa berlatih lebih lama dan memiliki energi lebih tinggi.
Setelah terpengaruh oleh artikel riset palsu yang ia baca di situs Paradigm Peptides, ia kemudian mulai mengambil produk lain juga. Seiring waktu, muncul insomnia dan mania, yang menurutnya menjadi pemicu ia “burn down” semua yang telah dibangun: “his marriage, his friendships, and his business”.
Dalam persidangan, konsultan psikiater dan farmakolog, Dr Erik Messamore, memberi kesaksian untuk menguatkan bahwa Murphy diduga mengalami psikosis yang dipicu oleh steroid.
FDA sudah mengincar sejak 2020; di Inggris konsumen juga dinilai berisiko
Ketika kehidupan Murphy mulai berantakan, FDA ternyata sudah menyelidiki Paradigm Peptides tanpa sepengetahuan dirinya. FDA mengirim warning letters sejak 2020 agar perusahaan menghentikan penjualan obat yang tidak disetujui.
Pada September 2023, FDA menyita produk-produk SARMs dari Paradigm untuk pengujian. Dari hasil tersebut, seluruh suplemen ditemukan telah dicampur testosteron. Proses penutupan bisnis baru berlangsung sekitar enam bulan setelah penyitaan itu.
Di Inggris, profesor anatomi Adam Taylor dari Lancaster University mengikuti kasus seperti ini. Menurutnya, komunitas ilmiah terus mengingatkan tentang pasar yang beroperasi di zona regulasi dan legalitas yang tidak jelas.
Taylor menyatakan produk tidak ilegal untuk dibeli atau dimiliki, tetapi tidak disetujui untuk penggunaan manusia sehingga tidak berada di bawah kontrol kualitas yang mengatur produksi farmasi. “This might have happened in the US,” kata Taylor, “But consumers are at risk here in the UK, this is a global industry.”
Ia menilai kasus ini menunjukkan besarnya risiko saat seseorang mengira sedang mengonsumsi satu produk tertentu, tetapi ternyata yang masuk ke tubuhnya adalah “something completely different”. Dengan kondisi itu, korban juga berpotensi menerima efek samping tambahan atau hasil yang tidak bisa dijelaskan.
Laura: perubahan terjadi “overnight”
Istri Murphy, Laura, mengatakan perubahan suaminya terjadi “overnight”. Ia menggambarkan sebelum kejadian, Murphy adalah pasangan yang perhatian, tetapi kemudian ia percaya Laura sedang merencanakan untuk mengambil alih bisnis konsulting Murphy.
Laura menuturkan, “One minute he would be crying and asking what was wrong with him, the next he would talk about wanting to take over Los Angeles,” seperti yang ia sampaikan dalam pemberitaan. Ia menambahkan, “We had no history of mental illness in our family, Dan was so calm and stable before this happened. “We did not know what to do.”
Menurut Murphy, hidupnya mulai rontok. Ia mengaku berselingkuh, mengonsumsi alkohol dalam jumlah besar, dan merasa teman maupun keluarga mengincarnya. Ia bahkan sampai berpikir ibu mertuanya ingin membunuhnya.
Ia mengingat, “I was in a full-blown psychosis – I believed that my loved ones were trying to hurt me and kill me,” dan menambahkan, “At this point, I’ve lost the plot. I’m not able to make any connection to the supplements, to anything that’s happening.”
Ia baru melihat tanda perbaikan saat suplai Paradigm Peptides habis pada Desember 2024. Setelah itu, ia mengatakan kondisinya mulai membaik.
Murphy dan keluarganya, menurut pemberitaan, tidak mengetahui bahwa FDA telah menyelidiki perusahaan. Baru pada Februari 2025 ia diberitahu bahwa obat yang dikonsumsi dicampur steroid.
Murphy menyesalkan ketidakterbukaan itu, “If only I had known, if the FDA had been more public, or even just put a notice on the Paradigm Peptides website. But instead, I’m taking this product and they know it’s been cut with steroids.”
Setakat pemberitaan ini, Murphy mengatakan ia tampak pulih sepenuhnya. Ia termasuk salah satu dari 167 korban yang maju dan meminta kompensasi total sebesar $78,317 (£58,169) atas kerusakan yang dialami.
Pemberitaan juga menyebut korban lain menderita penggumpalan darah, masalah jantung, kecemasan, dan depresi—sebagaimana dikonfirmasi oleh Department of Justice.
“Russian roulette” untuk kesehatan
Murphy kini menyadari bahwa ia sedang “Russian roulette” dengan kesehatannya. Ia mengatakan tidak lagi mengonsumsi suplemen. Ia juga menyampaikan pesannya agar orang lain tidak terjebak hal serupa.
Ia menegaskan, “Never again,” lalu berkata ia angkat suara karena tidak ingin orang lain jatuh ke dalam perangkap yang ia alami—yakni keyakinan bahwa semua suplemen aman. “I was gambling my health, my family and, in many respects, my life.”






