jurnalistik.co.id – Pemerintah Amerika Serikat mendesak warga negara AS di berbagai negara Timur Tengah untuk tetap waspada dan siap meninggalkan wilayah jika eskalasi terjadi di kawasan. Pernyataan tersebut disampaikan melalui peringatan keamanan dari Departemen Luar Negeri.
Dalam alert itu, AS menegaskan bahwa fasilitas diplomatiknya, termasuk yang berada di luar Timur Tengah, dinilai menjadi target. Departemen Luar Negeri juga mengingatkan kemungkinan sasaran lanjutan di lokasi yang terkait Amerika Serikat dan warga AS di seluruh dunia.
Peringatan: “should there be escalation”
Departemen Luar Negeri menyebut, “US diplomatic facilities, including outside the Middle East, have been targeted.” Pernyataan itu dilanjutkan dengan peringatan bahwa “Iran and groups supportive of Iran may target other US interests overseas or at locations associated with the United States and Americans throughout the world.”
Alert yang sama menekankan agar warga AS menyesuaikan rencana perjalanan dengan risiko yang dapat berubah cepat. Dalam peringatan tersebut, tertulis, “Americans currently in the Middle East should exercise caution and heightened vigilance and should be prepared for flight cancellations, periodic airspace closures, and potential travel disruptions,”.
Pemerintah AS juga mendorong warga di kawasan untuk mempertimbangkan keberangkatan sejak dini. Departemen Luar Negeri menyatakan, “Americans in the region should consider departing, or be prepared to depart should there be escalation. Americans outside the Middle East should seriously reconsider travel to and through the region.”
Peringatan itu muncul di tengah pemberitaan media AS bahwa Presiden Donald Trump kemungkinan merencanakan serangan baru terhadap Iran pada akhir pekan. Pada saat yang sama, Teheran sebelumnya menuduh Washington meningkatkan ketegangan dan menyatakan setiap negara regional yang bekerja sama dengan AS akan “engulfed by the flames of war”.
Perwakilan AS di Timur Tengah juga ikut menyebarluaskan peringatan serupa kepada warga negaranya. Kedutaan-kedutaan AS di Bahrain, Irak, Israel, Yordania, Kuwait, Lebanon, Oman, Qatar, Arab Saudi, dan Uni Emirat Arab memuat ulang alert itu dengan peringatan “unexpected escalation”.
Kabinet AS dan pernyataan Trump terkait Iran
Sejumlah laporan media mengutip pejabat AS yang menyebut Trump dapat menginstruksikan serangan lanjutan terhadap Iran sedini mungkin pada akhir pekan. Laporan tersebut menempatkan kebijakan ini pada konteks rencana penyerangan yang lebih luas, termasuk terhadap infrastruktur.
Menurut informasi yang disebutkan, AS dan Israel sedang merancang skema kampanye pengeboman yang dinilai paling berat hingga kini terhadap target infrastruktur energi Iran. CBS News, yang menjadi mitra pemberitaan BBC di Amerika, menyatakan rencana itu dibahas dalam rapat kabinet Trump pada Jumat.
Berita Terkait
CBS News juga melaporkan bahwa sebagian penasihat di lingkup politik tidak sepakat dengan arah rencana tersebut. Meski begitu, dalam rapat kabinet, Trump terdengar menyampaikan pernyataan yang dikutip media: “We’ll be hitting them [Iranians] very hard. At some point, they’re going to say, ‘We just can’t take it anymore.’”
Laporan tersebut menempatkan peringatan keamanan Departemen Luar Negeri sebagai respons atas potensi eskalasi yang mungkin berdampak pada keselamatan warga AS di luar negeri. Alert yang disebarkan menunjukkan perhatian khusus pada perubahan logistik perjalanan seperti pembatalan penerbangan dan penutupan ruang udara berkala.
Latar konflik: “heavy wave” dan serangan berbalasan
Pada Kamis sebelumnya, pihak militer AS menyatakan telah menyelesaikan serangkaian serangan balasan yang disebut “heavy wave” terhadap Iran. Serangan tersebut dilakukan sebagai respons atas percobaan serangan rudal balistik pada Selasa terhadap pasukan AS.
Komando Pusat AS, atau Centcom, menyebut bahwa serangan itu menargetkan “dozens” sasaran milik Korps Garda Revolusi Islam (IRGC). Centcom mengaitkan tindakan itu dengan respons Iran yang menembakkan proyektil ke pangkalan-pangkalan AS di Yordania serta ke kapal-kapal di Selat Hormuz.
Di sisi lain, media pemerintah Iran menyebut tiga orang tewas dalam serangan AS, termasuk seorang anak berusia dua tahun. Informasi ini menjadi salah satu elemen yang memperlihatkan eskalasi yang terjadi setelah beberapa hari sebelumnya sempat ada periode relatif tenang.
Konflik disebut melebar pekan ini setelah masa relatif tenang berakhir, dan melibatkan serangan gabungan. Dalam catatan yang disampaikan, ini termasuk penembakan bersama AS–Arab Saudi yang pertama kali diumumkan secara publik dan diarahkan pada proksi Iran di Irak.
Gagalnya gencatan senjata dan perang melalui jalur laut
AS dan Iran dikabarkan saling melakukan serangan sejak gencatan senjata pada April runtuh pada Juni. Konsekuensinya, Washington melaksanakan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran serta membombardir situs-situs Iran.
Sebaliknya, Iran juga menembakkan rudal dan drone ke aset-aset milik AS di sejumlah negara di kawasan Timur Tengah. Selain itu, Iran juga menargetkan pengiriman di Selat Hormuz, yang dikenal sebagai salah satu jalur pengiriman minyak global.
Lebih jauh, kedua pihak mulai meluncurkan serangan terhadap Iran pada 28 Februari. Rangkaian kebijakan serang-menyerang yang berkelanjutan inilah yang membuat Departemen Luar Negeri menekankan kebutuhan kewaspadaan dan rencana keberangkatan yang fleksibel bagi warga AS.
Dengan status “unexpected escalation” yang disorot di peringatan keamanan perwakilan diplomatik, warga negara AS diarahkan untuk mempertimbangkan langkah awal sebelum situasi memburuk. Peringatan itu menegaskan bahwa keputusan perjalanan, termasuk kemungkinan perubahan jadwal penerbangan dan akses wilayah, dapat terjadi secara berkala saat ketegangan meningkat.












