Pendidikan

Aturan Seragam Sekolah September: Hemat Biaya Seragam dengan Opsi Paling Terjangkau

×

Aturan Seragam Sekolah September: Hemat Biaya Seragam dengan Opsi Paling Terjangkau

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Back to school: How to save on uniform costs

jurnalistik.co.id – Menjelang tahun ajaran baru, sebagian orang tua justru dibuat gelisah oleh tagihan seragam yang ikut melonjak. Riset Save the Children bersama jaringan Baby Bank Alliance menunjukkan hampir setengah orang tua menyatakan khawatir dengan biaya seragam sekolah.

Dalam survei itu, dari 2.000 orang tua yang disurvei, sepertiga mengaku mereka harus mengorbankan kebutuhan pribadi agar tetap bisa menutup biaya masuk sekolah seperti seragam, tas, atau buku. Kebijakan baru yang mulai berlaku pada September juga dirancang untuk meredam tekanan tersebut.

Aturan tersebut membatasi jumlah item yang diberi logo sekolah menjadi maksimal tiga per anak. Pembatasan logo ini diharapkan membantu keluarga menekan pengeluaran tanpa mengubah kebutuhan dasar perlengkapan sekolah.

Save the Children menilai pembatasan seragam berlogo adalah “good start”, namun biaya tahun ajaran baru tetap menjadi perhatian untuk keluarga di hampir semua kelompok pendapatan. Organisasi itu juga mendorong sekolah agar lebih terbuka pada opsi-opsi yang meringankan beban.

Pemerintah pun menyampaikan bahwa sekolah seharusnya memudahkan akses terhadap seragam bekas. “Speak to a teacher you trust, and explain that the costs are difficult,” kata Megan Meek-O’Connor, head of England and Westminster di Save the Children.

Dalam praktiknya, banyak sekolah sudah memiliki wadah seragam, toko tukar, maupun penjualan yang digelar menjelang dimulainya masa sekolah. Di beberapa tempat, tersedia pula dana bantuan bagi keluarga yang mengalami kesulitan.

Di London, School Uniform Reuse Network meluncur lebih awal tahun ini dengan tujuan memberi panduan agar sekolah bisa memulai atau meningkatkan program pertukaran seragam. Pada periode pertama operasinya, jejaring itu melaporkan lebih dari 1.500 item berhasil dipakai ulang di 24 sekolah.

Manfaatkan bank seragam bila diperlukan

Bagi orang tua anak yang lebih besar, istilah “baby bank” mungkin terdengar asing. Padahal, banyak pusat dukungan di Inggris menyediakan seragam bagi anak, tidak hanya untuk usia lebih kecil tetapi hingga melewati tingkat sekolah menengah.

Baby Bank Alliance, melalui survei terbaru pada anggotanya, menyebut seragam sekolah untuk pertama kalinya menjadi prioritas dalam daftar kebutuhan. Secara nasional, terdapat 400 pusat dukungan yang membantu pengadaan seragam untuk anak-anak sampai dan termasuk jenjang secondary school.

Di Little Stars Shrewsbury, musim akhir musim panas menjadi salah satu waktu tersibuk. Pihak lembaga menyampaikan bahwa sedikit lebih dari setengah anak yang mendapat bantuan sejak bulan Juni telah menerima dukungan seragam.

Hannah Stoddart, operations manager di Little Stars Shrewsbury, menjelaskan bahwa keluarga datang dengan beragam kondisi. “A child starting school might need fully kitting out, while an older pupil may just need to replace one or two items,” ujarnya.

Stoddart juga menekankan bahwa bantuan tidak berhenti ketika liburan sekolah dimulai. “So when they’ve had that growth spurt, when they’ve scuffed their shoes or they’ve ripped their trousers or they need a winter coat, that’s something they can come back to us for as well,” tambahnya.

Belanja seragam pra-terpakai dan manfaatkan promo

Dengan aturan logo yang lebih longgar, orang tua dapat mempertimbangkan pembelian dari supermarket maupun toko bantuan. Meek-O’Connor mengatakan “relaxed rules on uniform branding” membuat keluarga bisa membeli lebih banyak item dari sumber-sumber tersebut.

Untuk seragam pra-terpakai, kualitas sering kali tetap baik karena barang biasanya cepat “tumbuh” dari anak, bukan karena produk buruk. Dalam pandangannya, pra-terpakai umumnya lebih cocok untuk kebutuhan yang memang sering berganti ukuran.

Family Action juga menyarankan agar keluarga bisa bekerja sama untuk pembelian dalam jumlah lebih besar pada barang-barang yang jika dibeli satuan berpotensi membuat anggaran melampaui batas. Pendekatan ini diharapkan membuat belanja lebih terencana.

Data dari bank Nationwide menunjukkan pola belanja yang cukup beragam di kalangan orang tua. Riset itu mencatat sepertiga orang tua membeli seragam dari supermarket, sepertiga lainnya mencari nilai terbaik dengan membandingkan opsi, dan 23% memilih ukuran lebih besar agar barang bisa dipakai lebih lama.

Untuk kebutuhan yang sering dipakai, paket promo dari supermarket bisa menjadi pilihan agar stok perlengkapan rutin tetap terjangkau. Dengan cara ini, keluarga dapat mengutamakan item yang paling sering berganti atau paling sering dipakai dalam rutinitas sekolah.

Perlengkapan olahraga juga punya cara hemat

Biaya perlengkapan olahraga sering kali menjadi beban lain di luar seragam utama. Kate Steere, parent and consumer editor di situs perbandingan Finder, menyebut ongkos perlengkapan olahraga bisa “brutal”.

Ia mendorong orang tua untuk memanfaatkan komunitas klub. “I always encourage parents to tap into their club’s community. Families with older kids are usually eager to pass down gear,” katanya.

Lebih jauh, Steere mencontohkan bahwa tim sepak bola putranya menggelar “summer sale” untuk perlengkapan bekas. Ia juga menambahkan aplikasi seperti Vinted atau Facebook Marketplace dapat menjadi “goldmines” bagi orang tua yang ingin mencari barang dengan harga lebih rendah.

Periksa peluang hibah dari pemerintah daerah

Selain jalur tukar-menukar dan bantuan komunitas, ada kemungkinan keluarga mendapatkan dana hibah dari otoritas lokal. Bila penghasilan berada di bawah ambang tertentu atau keluarga menerima manfaat tertentu, bantuan itu bisa bernilai hingga ÂŁ200 per anak.

Namun, besaran dan syarat kelayakan dapat berbeda-beda di tiap wilayah di Inggris. Karena itu, Meek-O’Connor menyarankan orang tua mengecek langsung ke dewan atau council setempat untuk mengetahui opsi yang paling sesuai.

Di bagian penutup, Save the Children menegaskan bahwa kesulitan biaya seragam adalah hal yang umum. Tidak perlu merasa malu bila keluarga perlu meminta bantuan, karena seragam seharusnya membantu akses pendidikan menjadi lebih merata.

“Uniform is supposed to be about making school kind of more accessible, more equal… it should be something positive,” kata Meek-O’Connor. Dengan berbagai rute dukungan—mulai dari seragam bekas, program tukar, bank seragam, hingga hibah daerah—orang tua diharapkan bisa tetap menyiapkan kebutuhan anak tanpa mengorbankan kebutuhan lain secara berlebihan.