Bisnis & Ekonomi

IHSG Melemah 0,83% Dipicu Inflasi RI yang Menguat

×

IHSG Melemah 0,83% Dipicu Inflasi RI yang Menguat

Sebarkan artikel ini

jurnalistik.co.id – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Sesi I, Kamis (1/10/2026), di tengah respons pasar terhadap rilis inflasi domestik yang bergerak lebih kuat.

Penutupan Sesi I mencatat IHSG turun 0,83% ke level 6.020, setelah sepanjang sesi terjadi tekanan jual yang cukup dominan.

Dari sisi pergerakan harga, indeks berada dalam rentang 6.095 hingga akhirnya terlemah di 6.018, sebelum aktivitas perdagangan memasuki akhir Sesi I.

Arus transaksi dan komposisi saham

Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan nilai perdagangan pada Sesi I mencapai Rp5,09 triliun.

Aktivitas transaksi ditopang oleh perputaran 20,25 miliar saham yang ditransaksikan melalui 877 ribu kali frekuensi.

Dalam komposisi pergerakan saham, tercatat 219 saham menguat, sementara 433 saham mengalami pelemahan.

Adapun 134 saham lainnya stagnan, menggambarkan bahwa selera risiko pasar cenderung menurun pada fase awal perdagangan.

Inflasi September sebagai pemicu utama

Sentimen negatif yang membayangi pergerakan IHSG bersumber dari rilis data inflasi Indonesia yang dinilai terakselerasi.

Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan inflasi September sebesar 0,3% secara bulanan (month-to-month/mtm), lebih tinggi dibanding bulan sebelumnya yang tercatat 0,21% mtm.

Dengan kenaikan angka inflasi tersebut, pelaku pasar merespons dengan melakukan penyesuaian posisi, yang kemudian tercermin pada derasnya arus jual selama sesi.

Pergerakan indeks yang turun lebih dalam di akhir Sesi I menunjukkan bahwa tekanan jual tidak berhenti di awal perdagangan.

Ritme transaksi menggambarkan pasar lebih memilih menekan posisi beli, sehingga indeks terkoreksi menuju area bawah dalam rentang pergerakan sesi.

Hasil akhirnya, IHSG menutup Sesi I pada 6.020, setelah sempat bergerak di sekitar 6.095 sebelum akhirnya tertekan menuju 6.018.

Di tengah kondisi tersebut, distribusi saham yang melemah lebih besar dibanding yang menguat menjadi sinyal tambahan bahwa sentimen pasar condong negatif.

Perbandingan 433 saham yang turun berbanding 219 saham yang naik memperlihatkan bahwa mayoritas emiten merasakan tekanan pada fase awal perdagangan.

Kesimpulannya, kombinasi data inflasi yang lebih tinggi dari bulan sebelumnya dan dominasi transaksi penjualan menjadi faktor utama yang membentuk arah koreksi IHSG pada Sesi I.

Meski demikian, keputusan pasar pada sesi awal juga masih memperlihatkan adanya perimbangan, karena sejumlah saham tetap mampu bertahan untuk menguat serta sebagian lain bergerak stagnan.

Namun, dominasi pelemahan dan nilai transaksi yang besar memberi gambaran bahwa konsolidasi harga di awal perdagangan lebih dipengaruhi oleh ekspektasi terhadap arah inflasi ke depan.

Pada penutupan Sesi I, pasar berada dalam fase menahan laju kenaikan harga aset saham, sejalan dengan respons terhadap inflasi September yang tercatat 0,3% mtm.

Dengan IHSG yang terkoreksi 0,83% hingga level 6.020, perhatian pelaku pasar selanjutnya akan tertuju pada perkembangan data ekonomi dan reaksi lanjutan sepanjang sisa perdagangan.

Pergerakan indeks pada sesi awal menjadi cerminan bahwa angka inflasi yang menguat mampu memengaruhi sentimen dan keputusan transaksi investor sejak jam pertama aktivitas bursa.

Kondisi ini turut tercermin dari struktur aktivitas perdagangan yang tetap tinggi, namun cenderung dimanfaatkan untuk menyesuaikan posisi. Ketika nilai transaksi Sesi I mencapai Rp5,09 triliun dengan frekuensi hingga 877 ribu kali, pelaku pasar tidak hanya bergerak pada satu arah, melainkan melakukan seleksi cepat terhadap emiten yang dinilai paling sesuai dengan ekspektasi inflasi yang lebih tinggi.

Komposisi 433 saham yang melemah dibanding 219 saham yang menguat juga memberi gambaran bahwa kenaikan harga tidak menjadi pilihan dominan pada jam-jam awal. Di saat yang sama, keberadaan 134 saham yang stagnan menunjukkan adanya kelompok pelaku pasar yang memilih menunggu arah berikutnya, sehingga volatilitas lebih banyak muncul dalam bentuk koreksi harga menuju area bawah rentang pergerakan.

Dengan inflasi September yang berada di level 0,3% mtm—lebih tinggi dari 0,21% mtm pada bulan sebelumnya—reaksi langsung pasar menjadi penguat bahwa data makro dapat segera mengubah preferensi transaksi. Selanjutnya, pelaku pasar kemungkinan mengarahkan perhatian pada rilis indikator ekonomi berikutnya dan menilai apakah tekanan jual masih berlanjut atau mulai mereda seiring respons yang terbentuk sepanjang sisa perdagangan.