jurnalistik.co.id – Pulau Biak, Papua, menjadi lokasi upacara yang tak biasa: bendera Merah Putih berkibar di dasar laut melalui rangkaian upacara dan parade yang digelar oleh Ketua Wanita Selam Indonesia (WASI) Tri Tito Karnavian bersama Bupati Biak Numfor Markus Mansnembra.
Kegiatan ini melibatkan para pengurus WASI serta penyelam setempat. Perayaan dilakukan sebagai bagian dari penghormatan sekaligus pengingat atas sejarah dan makna kemerdekaan Indonesia.
Tri Tito Karnavian menjelaskan bahwa pelaksanaan kegiatan tersebut berangkat dari kecintaan pada Tanah Air. Ia menegaskan bahwa sekitar 80 persen wilayah Indonesia adalah lautan, sehingga laut Indonesia perlu dijaga dan dicintai.
Menurutnya, memilih Biak sebagai tempat upacara tidak hanya berkaitan dengan kejernihan perairan serta keindahan terumbu karang. Pulau Biak juga menyimpan jejak sejarah penting yang berkaitan dengan berbagai peristiwa besar pada masa Perang Dunia II.
Dalam konteks sejarah tersebut, Pulau Biak pernah menjadi pangkalan militer Jepang dan juga wilayah yang terkait dengan keberadaan Tentara Sekutu. Sisa-sisa jejak peristiwa itu kemudian menjadi bagian dari narasi sejarah yang hidup di kawasan tersebut.
Selain itu, Pulau Biak juga disebut sebagai Pangkalan Militer Utama Belanda. Lokasi ini menjadi target infiltrasi Operasi Trikora TNI dalam rangka pembebasan Papua.
Upacara bawah laut dilaksanakan di dua titik penyelaman, yakni Catalina Point dan Dede Point. Di kedua lokasi itu tersimpan reruntuhan peninggalan peristiwa militer, termasuk pesawat pengebom amfibi Catalina milik Tentara Sekutu.
Di tempat yang sama juga terdapat reruntuhan pesawat angkut Scottish Aviation Twin Pioneer peninggalan Belanda. Penyelaman di titik-titik tersebut menjadi penghubung antara kegiatan memperingati kemerdekaan dengan jejak sejarah yang masih terlihat di perairan.
Keistimewaan Pulau Biak tidak berhenti pada aspek sejarah. Disebutkan pula bahwa wilayah daratan dan laut di sekitar Biak dikenal sangat bersih.
Berita Terkait
Biak bahkan dianugerahi Piala Adipura sebanyak tujuh kali berturut-turut sebagai Kota Kecil Terbersih dari Kementerian Lingkungan Hidup. Prestasi itu menjadi penguat bahwa upaya menjaga lingkungan di kawasan tersebut berjalan secara konsisten.
Tri Tito Karnavian menyampaikan harapannya agar Biak dapat menjadi salah satu tujuan wisata bagi masyarakat Indonesia maupun wisatawan internasional. Ia menilai potensi keindahan alam dan sejarah yang terkandung di sana dapat menjadi daya tarik berkelanjutan.
Setelah rangkaian upacara bawah laut selesai, kegiatan berlanjut dengan aksi nyata terhadap lingkungan. Para penyelam, pelajar, dan komunitas lingkungan Trash Hero yang merupakan non-governmental organization internasional melakukan pembersihan pantai.
Dalam agenda lanjutan, dilakukan pula penanaman mangrove. Aktivitas tersebut dimaksudkan sebagai bentuk perawatan terhadap ekosistem pesisir, sekaligus melengkapi pesan bahwa kecintaan pada negeri tidak berhenti pada simbol, tetapi juga tindakan.
Dengan demikian, rangkaian kegiatan di Pulau Biak mempertemukan beberapa lapis makna: penghormatan terhadap sejarah penting bangsa, penguatan identitas, serta kepedulian pada kelestarian laut dan pesisir.
Upacara dan parade bendera Merah Putih di dasar laut menjadi cara untuk mengingat perjalanan bangsa dari generasi ke generasi. Melalui titik penyelaman yang menyimpan jejak sejarah, peringatan kemerdekaan diangkat dalam bentuk yang terasa dekat dengan ruang hidup masyarakat pesisir.
Lewat pesan mengenai pentingnya menjaga laut Indonesia, kegiatan ini menggarisbawahi bahwa cinta pada Tanah Air dapat diterjemahkan menjadi komitmen menjaga lingkungan. Langkah pembersihan pantai dan penanaman mangrove memberi penegasan bahwa perayaan juga harus sejalan dengan tanggung jawab sosial dan ekologis.
Ketua Wanita Selam Indonesia Tri Tito Karnavian menempatkan rangkaian upacara dan parade ini sebagai bentuk penghormatan yang melibatkan keterlibatan langsung para pengurus WASI serta penyelam di lokasi. Kehadiran masyarakat penyelam setempat ikut menegaskan bahwa peringatan kemerdekaan tidak hanya dirayakan dari daratan, tetapi juga dihidupkan lewat pengalaman yang dekat dengan kondisi laut Biak.
Di Pulau Biak, pesan kemerdekaan dipadukan dengan perhatian pada kelestarian lingkungan yang selama ini menjadi identitas kawasan tersebut. Keberhasilan pengelolaan kebersihan yang tercermin dari raihan Piala Adipura sebanyak tujuh kali turut menjadi landasan, lalu diperkuat melalui pembersihan pantai dan penanaman mangrove. Dengan begitu, kegiatan tidak berhenti pada simbol, melainkan berlanjut menjadi tindakan nyata yang menjaga ekosistem pesisir dan laut.












