jurnalistik.co.id – Sebuah riset dari Universitas Toronto mengungkap bahwa tingkat kemakmuran finansial seseorang dapat “terbaca” dari raut wajahnya. Temuan ini memperlihatkan bahwa orang lain mampu menebak kelas sosial, meski tanpa mengetahui alasan di balik penilaiannya.
Dalam studi tersebut, peneliti menyiapkan 80 potret pria dan 80 potret wanita. Semua subjek ditampilkan dalam format hitam-putih, dengan mimik muka datar, serta tanpa mengenakan perhiasan atau atribut tambahan.
Komposisi peserta gambar juga dibuat berimbang: 50% subjek dikategorikan sebagai orang kaya, sedangkan sisanya berasal dari kelas pekerja. Potret kemudian ditunjukkan kepada orang lain untuk diuji kemampuannya menebak kelas sosial hanya dari wajah.
Hasilnya cukup menonjol. Lebih dari setengah responden, yakni 68%, menjawab dengan benar saat diminta menebak status ekonomi dari foto yang ditampilkan.
Yang menarik, responden tidak menyadari mekanisme penilaian yang mereka gunakan. Ketika ditanya bagaimana caranya, mereka justru mengaku tidak tahu sumber keyakinan itu.
“Ketika ditanya bagaimana caranya, mereka tidak tahu. Mereka tidak menyadari bagaimana mereka bisa menebaknya dengan benar,” kata R-Thora Bjorsdottir, peneliti studi tersebut seperti dilansir dari CNBC Make It, dikutip Sabtu (16/5/2026).
Peneliti lantas melakukan analisis lebih dekat dengan memperbesar fitur wajah yang menjadi fokus pengamat. Dari proses tersebut, banyak jawaban yang ternyata muncul hanya dengan mengamati area mata dan mulut.
Menurut penelitian yang diterbitkan di Journal of Personality and Social Psychology, perbedaan antara orang kaya dan orang miskin tampak pada kecenderungan ekspresi. Orang kaya digambarkan memiliki wajah yang cenderung bahagia dan tidak menunjukkan tanda kecemasan.
Berita Terkait
Sebaliknya, wajah orang miskin cenderung memperlihatkan ekspresi yang terasa tertekan. Perbedaan emosi yang “tersinyalir” dari raut tersebut kemudian menjadi dasar penilaian pihak yang melihat foto.
“Hubungan antara kekayaan dan kelas sosial sudah banyak dibahas dalam penelitian terdahulu. Namun studi ini menemukan bahwa perbedaan kekayaan seseorang bisa tercermin dari wajah setiap orang,” ujarnya.
Studi ini juga menegaskan bahwa orang dengan uang yang lebih banyak cenderung merasakan suasana hati yang lebih stabil, serta tidak terlalu cemas dibandingkan individu yang harus memenuhi kebutuhan sehari-hari. Dengan kata lain, temuan ini mengaitkan kondisi finansial dengan ekspresi wajah yang terlihat oleh orang lain.
Dampak yang juga ikut dibahas peneliti
Di balik kemampuan menebak secara akurat, salah seorang peneliti lain, Nicholas O. Rule, mengingatkan adanya konsekuensi negatif saat penilaian hanya bersandar pada wajah. Menurutnya, persepsi semacam itu bisa mendorong perlakuan yang keliru terhadap orang tertentu.
Misalnya, seseorang yang memiliki wajah yang tampak “berkelas” dari sudut pandang pengamat dapat diperlakukan sebagaimana orang yang dianggap kaya. Padahal, dasar perlakuan tersebut tidak dibangun melalui informasi langsung, melainkan dari interpretasi visual.
“Persepsi berbasis wajah tentang kelas sosial mungkin memiliki konsekuensi yang penting… Kita tahu ada yang disebut siklus kemiskinan dan ini berpotensi menjadi salah satu kontributornya,” kata Rule.
Dengan demikian, penelitian ini tidak hanya menunjukkan bahwa wajah dapat memuat petunjuk tentang kemakmuran finansial, tetapi juga membuka pertanyaan tentang bagaimana persepsi cepat di ruang sosial dapat memengaruhi cara orang diperlakukan. Temuan ini menekankan bahwa akurasi penebakan tidak otomatis berarti penilaian tersebut selalu berdampak positif.
Bagi publik, hasil riset ini dapat dibaca sebagai pengingat bahwa cara kita menilai orang kadang terjadi tanpa disadari. Sementara bagi dunia psikologi sosial, studi Universitas Toronto menambah bukti bahwa ekspresi wajah bisa menjadi “isyarat” yang cukup kuat dalam membentuk persepsi tentang kelas sosial.






