jurnalistik.co.id – Lulur selama berabad-abad dikenal sebagai bagian dari ritual perawatan tubuh perempuan Jawa. Di dalamnya, racikan dari unsur alam—mulai dari bunga, daun, hingga akar tanaman—tidak hanya dimaksudkan untuk membuat kulit terasa lebih halus, tetapi juga mengiringi momen-momen penting sebagai bentuk penghormatan terhadap tubuh.
Ketika produk perawatan modern makin beragam, pengetahuan tradisional itu sempat terlupakan. Namun kini, lulur kembali dibawa ke ruang yang lebih relevan bagi generasi muda, terutama melalui cara pandang yang lebih dekat dengan praktik merawat diri atau self-care.
Dalam narasi yang diangkat Purbasari, ritual ini diperkenalkan sebagai aktivitas yang membantu orang memperlambat ritme keseharian. Lulur dipandang bukan sekadar tahapan kosmetik, melainkan pengalaman yang memberi jeda agar seseorang bisa lebih hadir pada dirinya sendiri.
Dari ritual warisan ke pengalaman Gen Z
Carensca, Brand Executive Purbasari, menyebut pengenalan kembali lulur tradisional kepada generasi muda sebagai salah satu upaya menjaga budaya Nusantara tetap dikenal. “Kami ingin melestarikan budaya Nusantara dan memberikan wawasan tentang kekayaan lokal yang tak kalah dengan produk luar negeri,” ujar Carensca.
Bagi Carensca, pembelajaran yang paling bermakna tidak berhenti pada pengetahuan dari cerita masa lalu. Menurutnya, generasi muda perlu memperoleh pengalaman langsung agar tradisi perawatan tubuh khas Nusantara tidak hanya tersimpan sebagai bagian sejarah, tetapi juga dapat dijalankan dalam kehidupan sehari-hari.
Untuk menghadirkan pengalaman tersebut, Purbasari menghadirkan Lulur Teh Keraton. “Lulur Teh Keraton menjadi salah satu yang kami hadirkan, agar masyarakat bisa merasakan perawatan ala keraton di rumah,” kata Carensca dalam siaran resmi yang diterima Kompas.com, Jumat (7/8).
Pendekatan ini diwujudkan melalui kegiatan A Touch of Royal Beauty yang digelar di halaman Candi Tirta Raharjo, Yogyakarta. Pada kesempatan itu, perempuan dari generasi Z diajak untuk mengenal lebih dekat tradisi perawatan tubuh khas Keraton Yogyakarta, sekaligus bereksperimen meracik ramuan lulur berbahan alami.
Berita Terkait
Pengalaman langsung tersebut, menurut penyampaian dalam siaran resmi, memberi gambaran bahwa perawatan tubuh tradisional memiliki ruang nilai yang lebih luas. Tradisi ini hadir sebagai bagian dari ritual turun-temurun, yang penggunaan bahan-bahannya menunjukkan kedekatan dengan kekayaan alam di sekitar masyarakat Jawa.
Konsep yang sama kemudian berusaha diterjemahkan agar tetap praktis untuk rutinitas modern. Salah satunya melalui produk lulur mandi yang memungkinkan ritual perawatan dilakukan bersamaan dengan aktivitas mandi, sehingga prosesnya tidak harus mengambil format yang rumit atau panjang.
Racikan teh, melati, dan formulasi perawatan
Terinspirasi dari tradisi, Purbasari menghadirkan Lulur Mandi Teh Keraton dengan kombinasi antara gagasan lulur tradisional dan formulasi perawatan kulit untuk penggunaan sehari-hari. Produk ini diperkaya sejumlah bahan yang disebut umum digunakan dalam rangkaian skincare, seperti Chamomilla Recutita Extract atau ekstrak chamomile, Camellia Sinensis Leaf Extract atau ekstrak teh hijau, minyak melati, serta niacinamide.
Ekstrak chamomile disebut memiliki karakter yang menenangkan kulit. Sementara itu, ekstrak teh hijau mengandung antioksidan yang membantu melindungi kulit dari paparan radikal bebas.
Minyak melati berperan pada aspek kelembapan sekaligus menghadirkan aroma floral yang menjadi ciri dari perawatan tubuh tradisional. Adapun niacinamide digunakan untuk membantu memperbaiki tampilan kulit kusam agar kulit terlihat lebih cerah dan tampak lebih sehat.
Tekstur lulur yang halus dipadukan dengan aroma teh melati yang khas, sehingga pengalaman mandi tidak berhenti pada kesan menyegarkan. Dari deskripsi yang disampaikan, proses ini juga dirancang untuk menimbulkan relaksasi yang dalam, seolah menghadirkan suasana spa mewah ala bangsawan keraton.
Pada bagian penutup, Carensca menekankan bahwa pengenalan lulur kepada generasi muda bukanlah upaya mengembalikan tradisi ke masa lalu semata, melainkan menjembatani warisan dengan perkembangan industri kecantikan. “Mengenalkan lulur kepada Gen Z juga menunjukkan bahwa warisan kecantikan Nusantara dapat berjalan beriringan dengan perkembangan industri kecantikan,” pungkas Carensca.










