jurnalistik.co.id – PT Pertamina Geothermal Energy Tbk (PGEO) menegaskan arah pengembangan bisnisnya dengan menargetkan peningkatan kapasitas panas bumi yang dikelola sendiri hingga mencapai 1 gigawatt (GW) pada 2028. Langkah ekspansi tersebut, menurut manajemen, diharapkan dapat memperkuat prospek bagi hasil kepada pemegang saham dalam jangka panjang.
Dalam Investor Meeting & Connectivity 2026 di Surabaya, PGEO menyampaikan bahwa fokus perbaikan fundamental tidak hanya ditujukan untuk pertumbuhan operasional, tetapi juga untuk membentuk persepsi pasar di periode berikutnya. Manajemen berharap kinerja yang solid dan berkelanjutan dapat tercermin pada valuasi perusahaan.
“Harapan kami tentunya dengan fundamental yang solid dan berkelanjutan maka akan dapat tercermin di valuasi perseroan di market,” ujar manajemen PGEO dalam acara tersebut, sebagaimana dikutip pada Minggu (9/8/2026).
Target 1 GW pada 2028 juga menjadi kerangka yang mengarahkan pengembangan sejumlah inisiatif proyek PGEO. Perusahaan, kata manajemen, belakangan tengah mengkonsolidasikan pengembangan proyek co-generation serta melanjutkan penguatan pada unit Hululais.
Pengembangan yang dimaksud mencakup proyek co-generation. Di sisi lain, PGEO menyebut pengembangan Hululais unit 1 dan unit 2 sebagai bagian dari upaya peningkatan kapasitas yang dikelola sendiri.
Komponen strategi tersebut menunjukkan bahwa PGEO tidak hanya memusatkan perhatian pada perluasan melalui skema yang sifatnya pembangunan langsung, tetapi juga pada peningkatan kapasitas dari portofolio yang telah dimiliki. Dengan demikian, perusahaan dapat menjaga kesinambungan implementasi sekaligus memperjelas tahapan pencapaian target.
Dalam keterangannya, PGEO menempatkan pencapaian kapasitas sebagai prasyarat agar kinerja perusahaan dapat terlihat lebih kuat dari waktu ke waktu. Manajemen menilai bahwa aspek valuasi dan profitabilitas umumnya membutuhkan proses, sehingga hasilnya diharapkan lebih terlihat pada periode setelah ekspansi berjalan.
Bagian “waktu” menjadi penting dalam narasi perusahaan. PGEO menggambarkan target kapasitas sebagai upaya yang secara bertahap membangun pondasi, lalu pada akhirnya membantu pasar membaca potensi perusahaan dari sisi nilai dan kemampuan menghasilkan keuntungan.
Penguatan proyek dan opsi pertumbuhan non-organik
Selain pengembangan proyek co-generation serta Hululais unit 1 dan unit 2, PGEO juga membuka ruang untuk mempercepat ekspansi melalui pertumbuhan non-organik. Manajemen menyampaikan adanya opsi akuisisi aset panas bumi sebagai strategi untuk memperluas cakupan pengelolaan.
Berita Terkait
Dengan membuka opsi tersebut, perusahaan berupaya menambah fleksibilitas pada rencana pengembangan kapasitas. Pertumbuhan non-organik dapat menjadi jalan untuk mempercepat penambahan aset, selama sejalan dengan kebutuhan bisnis dan arah valuasi yang ingin dibangun.
Pendekatan ini juga dapat dipahami sebagai upaya menjaga ritme ekspansi di tengah kebutuhan pasar akan kepastian kinerja. Ketika perusahaan memiliki kombinasi antara pengembangan internal dan potensi akuisisi aset, maka rencana pencapaian target kapasitas dapat lebih terukur secara strategi.
PGEO tampak menaruh perhatian pada bagaimana target operasional berkait dengan respons investor. Manajemen menekankan bahwa fundamental yang kuat dan berkelanjutan menjadi kunci untuk menghadirkan dampak pada valuasi di market.
Dengan target 1 GW pada 2028, perusahaan menempatkan pencapaian kapasitas sebagai tonggak yang akan mempengaruhi ekspektasi ke depan. Pada saat yang sama, perusahaan tetap mengaitkan tujuan tersebut dengan harapan peningkatan bagi hasil kepada pemegang saham.
Rangkaian fokus menuju 2028
Jika dirunut dari pemaparan dalam acara tersebut, arah PGEO bisa dilihat sebagai serangkaian upaya yang saling melengkapi. Ada pengembangan proyek co-generation yang menjadi salah satu elemen untuk mendukung peningkatan kapasitas, lalu ada penguatan Hululais unit 1 dan unit 2 yang disebut secara spesifik.
Melalui kombinasi tersebut, PGEO berupaya membangun dasar untuk mencapai angka kapasitas yang menjadi target utama. Perusahaan tidak sekadar menyebut ambisi, tetapi juga menyampaikan komponen proyek yang sedang dikerjakan sebagai bagian dari jalur menuju 2028.
Di luar itu, manajemen juga memperluas narasi dengan menyebut opsi akuisisi aset panas bumi lewat pertumbuhan non-organik. Artinya, strategi perusahaan tidak hanya bertumpu pada satu model pengembangan, melainkan menyiapkan alternatif jika peluang ekspansi yang relevan muncul.
PGEO juga menempatkan hasil jangka panjang sebagai tujuan yang ingin dirasakan investor. Manajemen secara implisit mengarahkan ekspektasi bahwa peningkatan kapasitas dan kinerja operasional akan berpengaruh pada valuasi, serta pada akhirnya mendukung profitabilitas dan bagi hasil.
Dengan demikian, paparan PGEO dalam Investor Meeting & Connectivity 2026 di Surabaya menegaskan satu benang merah: fundamental yang berkelanjutan, ditopang proyek-proyek yang sedang dikembangkan, diarahkan untuk menampilkan nilai yang semakin kuat di pasar. Perusahaan menutup pemaparannya dengan menempatkan valuasi sebagai cerminan dari konsistensi kinerja, yang diperkirakan akan terlihat setelah target-target strategis bergerak maju.












