jurnalistik.co.id – Masa awal kuliah sering terasa seperti putaran jadwal yang padat: aktivitas kampus bertumpuk, jam tidur ikut bergeser, dan rutinitas di kamar kos menjadi penentu kenyamanan sekaligus performa belajar. Para ahli menekankan, kualitas tidur bukan sekadar soal “cukup jam”, melainkan juga cara tubuh dibiasakan merespons waktu.
Jo Baker, psikoterapis sekaligus pakar tidur dan kesehatan mental mahasiswa, mengingatkan bahwa bangun dan cahaya pagi punya peran besar. Ia mengatakan, “Jika kamu bisa keluar sebelum 11am-ish maka ada bagian otak, tepat di belakang mata, yang merespons cahaya.” Baker menambahkan, “Mendapatkan daylight di awal hari benar-benar akan membantu menjaga ritme tubuh. Cara kamu tidur di malam hari bermula dari cara kamu bangun di pagi hari.”
Tidur, menurut pemaparan di artikel ini, penting untuk proses belajar dan menyerap informasi. Namun suasana “freshers” dapat mengganggu kebiasaan tidur: jam malam mundur, rekan sekamar yang berisik, serta kasur baru yang membuat tubuh belum merasa aman.
Anna-May Dixon, 20 tahun, menggambarkan dampak itu lewat pengalamannya. Ia menempuh perjalanan pulang-pergi sekitar empat jam dari Kendal, Cumbria, untuk kuliah tari di University of Salford, sehingga ia hanya mendapat sekitar lima jam tidur dalam semalam. Alarmnya berbunyi pukul 05:00, dan ia mengaku melacak tidur sendiri lalu cemas saat jumlahnya terlalu sedikit hingga kadang membuatnya sulit tidur.
Ia menjelaskan, “Saya melacak tidur dan jadi khawatir tentang betapa sedikit yang akan saya dapat, dan kadang itu justru membuat saya tetap terjaga.” Menjelang akhir pekan, ia merasakan kelelahan yang meningkat hingga beberapa hal terasa lebih berat. Pola seperti ini menunjukkan bahwa menjaga ritme tidur perlu dilakukan sebelum tubuh “terlambat menyusul” di hari-hari berikutnya.
Bangun konsisten, terutama saat malam terasa sulit
Mencoba memaksa cepat tidur tidak selalu berhasil, terutama bila akhirnya terbaring tetapi pikiran tetap siaga. Baker menegaskan, “Otak belajar bahwa ini adalah tempat di mana saya berbaring lalu stres karena tidak bisa tidur, jadi hal yang paling penting adalah waktu bangun yang konsisten.”
Artinya, target yang paling bisa dikontrol adalah jam bangun harian. Dengan konsistensi tersebut, tubuh mendapat sinyal yang lebih jelas kapan harus “mulai bekerja” dan kapan harus turun ke mode istirahat.
Kafein dan alkohol: bukan penolong saat ingin lebih mudah tidur
Ketika tubuh terasa ngantuk, banyak orang tergoda menambah kafein—termasuk kopi berlapis dan minuman berpemanis. Namun dalam penjelasan Baker, kafein bertahan lebih lama di tubuh dan menghambat proses terbentuknya rasa kantuk sepanjang hari.
Selain itu, artikel ini menyinggung bahwa kebiasaan kafein berlebihan bisa membawa konsekuensi lain, termasuk masalah tidur. Sementara itu, alkohol sering dipandang sebagai cara untuk meningkatkan kepercayaan diri saat mengenal orang baru, tetapi dampaknya tidak membantu tidur dengan baik.
Baker menyatakan, “Ketika kamu tertidur [setelah minum alkohol dalam jumlah besar], kamu dibius. Itu seperti memiliki anestesi. Kamu tidak tidur.” Ia menambahkan bahwa alkohol mendorong tubuh menjauh dari tidur yang dalam dan memulihkan secara fisik, lalu menggantinya dengan tidur yang lebih ringan dan tidak sama fungsinya.
Emma Young, deputy director of student services for health and wellbeing di Manchester Metropolitan University, juga menyebutkan alternatif yang lebih tenang selama pekan freshers. Ia menuturkan, “Sekarang banyak acara tanpa alkohol, seperti sip and paint. Kamu juga bisa mencoba klub kesehatan dan kesejahteraan, seperti yoga dan kerajinan, kalau kamu tidak terlalu suka olahraga atau klub musik.”
Berita Terkait
Transisi menuju tidur: layar, mandi air hangat, dan ritme yang menenangkan
Untuk memudahkan tidur, Anna-May memilih ritual sederhana sebelum malam benar-benar dimulai. Ia menyukai mandi air hangat atau berendam menjelang tidur, karena penelitian yang disebutkan di artikel itu menyatakan cara tersebut membantu suhu inti tubuh mendingin dan mempersiapkan tidur.
Setelah itu, ia mengatakan satu-satunya cara agar bisa tidur adalah menonton episode Friends di iPad. Ia menjelaskan, “Saya menonton sesuatu yang sudah saya lihat berkali-kali—itu cukup untuk meredam bagian pikiran yang sibuk, dan saya bisa tidur.”
Artikel ini juga menyampaikan bahwa aktivitas tanpa layar dapat menjadi pilihan yang lebih baik untuk membuat transisi menuju tidur terasa bertahap. Mendengarkan musik atau podcast dinilai bisa membantu, karena hormon alami melatonin meningkat sebelum waktu tidur sehingga tubuh merasakan kantuk.
Namun saat menonton gulungan media sosial atau film, mata tetap aktif sehingga proses tersebut terhambat dan tubuh cenderung tetap terjaga. Baker juga menyarankan, “Menghentikan layar satu setengah jam sebelum tidur,” menghindari makan berat tepat sebelum berbaring, serta merapikan suasana kamar agar terasa siap untuk istirahat.
Dalam rincian kebiasaan yang dicontohkan, ada juga langkah sederhana seperti mencuci seprai supaya terasa bersih saat dipakai, menutup laptop, buku, dan meja kerja dengan kain penutup agar terlihat bahwa pekerjaan sudah selesai hari itu, serta melakukan jalan kaki saat cahaya sore mulai reda. Perubahan cahaya disebut sebagai sinyal bagi otak untuk memindahkan ritme dari aktivitas ke istirahat.
Artikel ini juga menekankan pentingnya menjaga tempat tidur sebagai ruang untuk tidur, bukan untuk makan, bekerja, atau menonton YouTube. Baker menambahkan bahwa membuat tempat tidur di pagi hari dapat membantu memberi sinyal bahwa periode tidur sudah berakhir.
Jika sakit di tempat tidur: kebersihan tangan dan kewaspadaan meningitis
Rasa tidak enak badan tentu dapat mengubah pola tidur. Artikel ini mengakui freshers’ flu sulit dihindari, tetapi kebiasaan kebersihan tangan—seperti mencuci tangan secara teratur atau memakai gel pembersih tangan antibakteri—disebut dapat membantu menurunkan kemungkinan terkena demam, sakit tenggorokan, dan hidung tersumbat, serta mengurangi waktu yang harus dihabiskan untuk berbaring selama satu hingga dua hari.
Namun, ada peringatan yang lebih serius: meningitis jauh lebih berbahaya dan membutuhkan bantuan medis segera, dengan instruksi menelepon 999. Kondisinya bisa terlihat mirip freshers’ flu, tetapi bila tidak didiagnosis, perkembangannya dapat cepat dan berujung ke kejang, kerusakan otak, hingga sepsis.
Karena itu, artikel ini menyebut adanya vaksin gratis NHS bernama Men B yang kini ditawarkan untuk semua mahasiswa freshers. Penyebaran informasi seperti ini juga mendorong kampus untuk mengarahkan perencanaan lebih awal bila suatu saat butuh bantuan kesehatan, terutama bagi mahasiswa yang tinggal jauh dari rumah.
Perencanaan sederhana yang disarankan mencakup mendaftar ke dokter umum setempat, mencari apotek terdekat, mendaftar ke dokter gigi NHS, serta mengetahui lokasi A&E terdekat. Selain kebutuhan medis dasar, artikel ini juga menganjurkan mengecek dukungan kesehatan mental yang disediakan kampus, termasuk program dukungan teman sebaya dan saluran telepon khusus yang tersedia 24 jam.
Untuk informasi yang lebih luas, artikel ini menyebut Student Minds sebagai salah satu rujukan. Young juga menekankan kebiasaan yang mudah dilakukan namun sering dilupakan: jika tidak merasa seperti biasanya, lakukan panggilan rutin ke rumah—kepada keluarga atau sahabat terbaik.












