Hukum & Kriminal

Pengakuan manslaughter Dawood Safi diterima atas tewasnya pejalan anjing Wayne Broadhurst

×

Pengakuan manslaughter Dawood Safi diterima atas tewasnya pejalan anjing Wayne Broadhurst

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Manslaughter plea accepted in dog walker Wayne Broadhurst killing

jurnalistik.co.id – Dawood Safi, terdakwa kasus penusukan yang menewaskan seorang pejalan anjing di London barat, mengajukan pembelaan manslaughter yang diterima dalam persidangan di Southwark Crown Court. Sidang juga menempatkan Safi pada rangkaian tuntutan lain yang akan dilanjutkan dengan pemeriksaan juri.

Proses hukum ini berawal dari peristiwa pada 27 Oktober 2025, saat Safi didakwa menewaskan Wayne Broadhurst, seorang pejalan anjing berusia 49 tahun. Jaksa menggambarkan insiden tersebut sebagai “frenzy of violence” dalam wilayah London barat.

Dawood Safi berusia 23 tahun, dan pada tanggal yang sama dinyatakan menusuk Broadhurst hingga meninggal dunia. Broadhurst dilaporkan menjadi korban serangan dengan sejumlah luka tusuk di leher, dada, dan sisi tubuh.

Menurut persidangan, Broadhurst tidak memiliki hubungan dengan Safi sebelum kejadian. Pembunuhan itu terjadi setelah Safi melakukan penyerangan yang berujung pada kematian di tempat kejadian perkara.

Selain Broadhurst, persidangan juga membahas rangkaian serangan lain yang dilakukan Safi pada hari yang sama. Ia diketahui menyerang Shahzad Farrukh, seorang tuan rumah berusia 45 tahun, serta seorang remaja laki-laki berusia 14 tahun di Midhurst Gardens, Uxbridge.

Dalam sidang, pembelaan manslaughter Safi terkait kematian Broadhurst disetujui dengan alasan diminished responsibility. Dasar yang diajukan adalah kondisi psikotik Safi, yang disebut telah diterima oleh pihak penuntut.

Jaksa dan pembela menempatkan isu kesehatan mental sebagai titik kunci. Safi dinyatakan mengaku bersalah atas manslaughter Broadhurst karena kondisi psikotiknya, sementara proses pengadilan tetap berjalan untuk tuduhan lainnya.

Sidang menetapkan bahwa Safi akan menjalani persidangan di hadapan juri. Ia akan menghadapi dakwaan atas upaya pembunuhan terhadap Shahzad Farrukh dan remaja 14 tahun tersebut.

Penasihat pengadilan, Jonathan Laidlaw KC, menyampaikan bahwa empat ahli kesehatan mental menyimpulkan Safi mengalami “complete mental collapse” selama insiden berlangsung. Pernyataan itu menjadi sorotan karena menyangkut bagaimana Safi memahami realitas pada saat kejadian.

Laidlaw menjelaskan bahwa para psikiater menggambarkan Safi sebagai sosok yang neurotis, dengan kecenderungan untuk merenung dan khawatir. Para ahli juga menyatakan Safi telah mengembangkan “rigid sense of right and wrong”, yakni pandangan yang kaku tentang benar dan salah.

Jonathan Laidlaw KC juga menyampaikan kutipan yang menegaskan keadaan psikotik Safi. Ia mengatakan, “He was in a psychotic state and had lost contact with reality. He was not able to distinguish what was real and what was not. He was hearing voices and had delusional beliefs.”

Dalam konteks itu, persidangan menggambarkan bahwa Safi disebut mengalami gangguan berat dalam memproses realitas. Ahli menyatakan Safi tidak mampu membedakan mana yang nyata dan mana yang tidak, termasuk bahwa ia mendengar suara dan memiliki keyakinan-delusi.

Pada sidang sebelumnya, Safi juga mengajukan pengakuan bersalah atas kepemilikan senjata ofensif. Ia pun mengakui telah melakukan grievous bodily harm dengan intent serta actual bodily harm sehubungan dua korban lainnya.

Dengan demikian, pengakuan yang telah diterima tidak mengakhiri seluruh perkara, melainkan memfokuskan proses pada dakwaan yang masih harus diputus melalui pemeriksaan juri. Penetapan ini menjadi penentu langkah berikutnya dalam perkara terhadap Safi.

Peran keluarga korban turut disebut dalam persidangan. Jaksa mengakui bahwa keluarga Broadhurst menginginkan Safi dinyatakan bersalah atas pembunuhan, bukan hanya manslaughter.

Aspek latar belakang Safi juga turut dibahas dalam sidang. Pengadilan mendengar bahwa Safi memasuki Inggris menggunakan sebuah truk pada 2020, dan kemudian diberikan suaka pada 2022. Konfirmasi tersebut sebelumnya telah diberikan oleh Home Office.

Di ruang sidang, jaksa juga menyampaikan bahwa Safi menyaksikan pembunuhan terhadap ayahnya dan mengalami “some hardship” saat memasuki Inggris. Keterangan ini dipakai untuk melengkapi gambaran perjalanan Safi sebelum kejadian di London barat.

Dengan diterimanya pengakuan manslaughter untuk kematian Broadhurst, fokus perkara beralih ke tuntutan lain yang menargetkan upaya pembunuhan terhadap Shahzad Farrukh dan remaja 14 tahun. Safi akan berhadapan dengan pemeriksaan juri di Southwark Crown Court untuk menuntaskan proses hukum atas dakwaan tersebut.

Persidangan ini sekaligus menampilkan bagaimana penilaian ahli kesehatan mental dapat memengaruhi bentuk dakwaan dan penerimaan tanggapan hukum. Namun, untuk dakwaan yang belum diputus, nasib Safi tetap bergantung pada putusan juri.

Sementara itu, rincian serangan di London barat tetap menjadi bagian dari kerangka perkara. Serangan terhadap Broadhurst, penyerangan terhadap Farrukh, serta penyerangan terhadap remaja di Midhurst Gardens, Uxbridge, menjadi rangkaian yang dibahas sebagai peristiwa pada tanggal yang sama.

Langkah berikutnya adalah pemeriksaan di hadapan juri untuk dakwaan upaya pembunuhan. Proses tersebut akan menjadi penentu apakah Safi dinyatakan bersalah atas tuduhan yang tersisa, setelah pengakuan manslaughter untuk Broadhurst diterima berdasarkan diminished responsibility.