Bisnis & Ekonomi

S&P Global Ratings: Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,1% pada 2026

×

S&P Global Ratings: Ekonomi RI Diproyeksi Tumbuh 5,1% pada 2026

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: S&P Proyeksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 5,1% pada 2026 - Market

jurnalistik.co.id – Standard and Poor’s (S&P Global Ratings) memperkirakan ekonomi Indonesia masih tumbuh pada 2026, dengan proyeksi Produk Domestik Bruto (PDB) riil naik 5,1%.

Dalam penilaian yang dikutip pada 13 Juli 2026, S&P menilai laju pertumbuhan pada kuartal-kuartal setelahnya berpotensi melambat, seiring berlanjutnya ketidakpastian eksternal dan tingginya suku bunga domestik.

Lembaga pemeringkat kredit internasional itu juga menyampaikan bahwa pertumbuhan rata-rata diperkirakan mencapai 4,9% per tahun untuk periode 2026 hingga 2029.

Perkiraan tersebut mencerminkan bagaimana dinamika ekonomi tetap berjalan, namun dengan tekanan yang datang dari faktor eksternal yang belum sepenuhnya mereda serta kondisi pembiayaan di dalam negeri yang tetap relatif lebih ketat.

Proyeksi pertumbuhan dan faktor penahan

S&P menyebutkan bahwa proyeksi PDB riil 5,1% pada 2026 tidak berdiri sendiri, melainkan terkait dengan arah kinerja ekonomi ke depan. Ketidakpastian eksternal yang berkelanjutan dipandang dapat memengaruhi momentum pertumbuhan.

Di sisi lain, suku bunga domestik yang lebih tinggi turut menjadi salah satu penopang kehati-hatian dalam aktivitas ekonomi, sehingga ruang percepatan pertumbuhan cenderung lebih terbatas pada periode setelahnya.

Dengan kerangka itu, pertumbuhan rata-rata 4,9% per tahun untuk 2026–2029 menjadi gambaran dari pola yang tidak sepenuhnya melesat, tetapi tetap berada dalam kisaran pertumbuhan positif.

Selain variabel suku bunga dan ketidakpastian eksternal, S&P juga menyoroti aspek pendapatan yang masih menjadi perhatian. Menurut laporan tersebut, pendapatan rata-rata di Indonesia dinilai tetap berada di bawah sebagian besar negara dengan peringkat investasi.

Namun, pada saat yang sama, lembaga itu menyatakan pendapatan rata-rata Indonesia menunjukkan peningkatan yang terjadi dengan kecepatan yang lebih cepat dibanding kelompok negara pembanding dalam kategori tersebut.

Perkembangan PDB per kapita

Dalam proyeksinya, S&P memaparkan estimasi PDB per kapita Indonesia. Lembaga pemeringkat kredit memperkirakan angka PDB per kapita dapat mencapai US$5.200 pada tahun ini.

Estimasi tersebut dibandingkan dengan US$5.100 pada 2025, yang berarti terjadi kenaikan, meskipun dengan lompatan yang tidak terlalu besar.

S&P juga mengaitkan proyeksi perubahan nilai tersebut dengan dinamika ekonomi riil maupun nominal. PDB nominal diperkirakan tumbuh sebesar 8,3%.

Dalam laporan yang sama, S&P menulis bahwa kondisi ini terutama disebabkan oleh depresiasi rupiah.

Dengan demikian, pergerakan nilai tukar menjadi variabel penting dalam membaca perkembangan indikator berbasis nilai, termasuk bagaimana nominalitas ekonomi berjalan seiring perubahan kurs.

Meski demikian, S&P menyatakan bahwa ada pembacaan lain yang tetap relevan untuk menilai kesehatan pertumbuhan dalam jangka panjang, yakni melihat tren pertumbuhan.

Tren pertumbuhan dibanding negara berpendapatan serupa

Terlepas dari pergerakan nilai tukar, S&P menilai pertumbuhan tren Indonesia sebesar 3,9% akan lebih baik dibanding sebagian besar ekonomi dengan tingkat pendapatan yang serupa.

Penilaian tersebut menunjukkan bahwa proyeksi tidak hanya berhenti pada angka pertumbuhan tahunan, melainkan juga menempatkan Indonesia dalam perbandingan lintas negara dengan karakter ekonomi yang kurang lebih sejenis.

Dalam logika perbandingan itu, Indonesia dipandang memiliki ketahanan pertumbuhan yang relatif lebih kuat dibanding banyak ekonomi lain pada kelompok pendapatan yang sepadan.

Pendekatan semacam ini relevan untuk membaca arah ekonomi karena tren pertumbuhan dapat memberikan gambaran yang tidak sepenuhnya bergantung pada fluktuasi kurs saja.

Dengan proyeksi PDB riil 5,1% pada 2026, serta rata-rata pertumbuhan 4,9% pada 2026–2029, S&P seolah menempatkan skenario dasar dengan tetap mengakui faktor penahan berupa ketidakpastian eksternal yang berlanjut dan suku bunga domestik yang lebih tinggi.

Pada saat yang sama, proyeksi PDB per kapita US$5.200 untuk tahun ini, dari US$5.100 pada 2025, memperlihatkan adanya kenaikan meski dalam skala yang terukur. Di tengah proyeksi PDB nominal yang diperkirakan tumbuh 8,3%, depresiasi rupiah dipaparkan sebagai penyebab utama.

Secara keseluruhan, proyeksi S&P Global Ratings menggambarkan lanskap ekonomi Indonesia yang tetap tumbuh, namun dengan dinamika yang dibentuk oleh kombinasi faktor eksternal, kebijakan moneter domestik yang lebih ketat, serta pergerakan nilai tukar yang memengaruhi indikator berbasis nilai.