Internasional

Oposisi anti-perang Rusia, Boris Nadezhdin, ditahan polisi

×

Oposisi anti-perang Rusia, Boris Nadezhdin, ditahan polisi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Russian anti-war opposition politician Boris Nadezhdin detained by police

jurnalistik.co.id – Seorang politisi oposisi anti-perang Rusia, Boris Nadezhdin, dilaporkan ditahan polisi. Penahanan ini disebut terjadi pada Senin pagi, beberapa minggu setelah ia menyatakan akan ikut sebagai calon dalam pemilihan legislatif Duma yang dijadwalkan September.

Keterangan tersebut datang dari akun media sosial Nadezhdin. Menurut persnya, ia dibawa ke sebuah kantor polisi di kota yang berada di wilayah barat Moskow.

“They took him from his home,” ujar juru bicaranya kepada BBC Russian. “The reason for his detention is unknown.”

Belakangan ini, status Nadezhdin menjadi sorotan setelah kementerian kehakiman menetapkannya sebagai “foreign agent” pada pekan lalu. Dalam penetapan itu, pihak kementerian menuduhnya menyebarkan informasi yang dianggap keliru tentang pemerintah Rusia serta menyerukan partisipasi dalam unjuk rasa yang tidak mendapat izin.

Label tersebut, sebagaimana dipahami, akan membuat Nadezhdin tidak dapat mengambil bagian dalam pemilihan Duma September. Menanggapi situasi itu, ia menyatakan, “What is there to say? I will continue to live and fight,” lalu menambahkan, “This is unlikely to change anything in my political biography. I will continue to run for the State Duma and collect signatures.”

Dalam konteks politik yang lebih luas, Nadezhdin sebelumnya juga berupaya maju pada pemilihan presiden awal tahun 2024. Ia mencalonkan diri dengan mengusung manifesto yang menentang perang, menyerukan penghentian permusuhan di Ukraina.

Saat itu, ia mengatakan kepada BBC bahwa dirinya mendapat dukungan dari “dozens of millions of people” yang tidak menginginkan “Russia to be in this track of authoritarianism and militarism”. Ia juga menyebut bahwa jika terpilih, tugas pertamanya adalah “stop the conflict with Ukraine, and then to restore normal relations between Russia and the Western community”.

Namun, kritik Nadezhdin terhadap Vladimir Putin tetap disampaikan dengan nada yang terukur. Sejumlah pengamat sempat menduga pemerintah bisa saja membiarkan proses pencalonannya berjalan untuk memberi kesan pemilihan berlangsung secara adil.

Pada kenyataannya, langkah Nadezhdin untuk maju pada pemilihan presiden akhirnya dihentikan oleh Komisi Pemilihan Rusia beberapa minggu sebelum pemungutan suara. Alasan yang diberikan adalah terdapat lebih dari 15% tanda tangan yang ia lampirkan saat pendaftaran calon dinilai bermasalah. Nadezhdin sempat membantah, tetapi pada akhirnya ia tetap tidak bisa mencalonkan diri, dan tidak ada tokoh oposisi yang kredibel lain yang berhasil maju dengan cara yang sama.

Pada 18 Maret 2024, Putin menyatakan kemenangan besar (landslide) yang membawanya memasuki masa jabatan kelima. Pemilihan presiden berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 2030, saat Putin berusia 78 tahun. Di sisi lain, amandemen konstitusi yang disahkan pada 2020 disebut mereset batas masa jabatan, sehingga ia dapat bertahan hingga 2036.

Memasuki tahun berjalan, Nadezhdin juga berbicara mengenai perubahan yang mulai dirasakan masyarakat saat kebijakan pembatasan akses internet diberlakukan bagi jutaan orang. Ia mengatakan kepada BBC bahwa orang-orang “beginning to understand that there is a direct connection between their everyday problems, like healthcare, food prices, problems with internet and the politics of Vladimir Putin.”

Situasi politik Rusia saat ini digambarkan semakin menutup ruang bagi penantang. Pengaruh institusi yang mendukung pemerintah, menurut narasi di artikel ini, kini berada pada kendali yang hampir menyeluruh atas lanskap politik nasional, sehingga peluang bagi siapa pun untuk menantang pemerintahan Putin dinilai kecil.

Dalam penilaian tersebut, para figur oposisi yang semestinya bisa menawarkan pilihan alternatif bagi pemilih Rusia disebut berada dalam kondisi yang berbeda-beda: sebagian dipenjara, sebagian hidup dalam pengasingan, dan sebagian lainnya telah meninggal. Penahanan terhadap Nadezhdin pun lalu ditempatkan sebagai kelanjutan dari pola pembatasan terhadap upaya politik oposisi yang berseberangan, khususnya yang mengambil posisi menentang perang.