Peristiwa

19 Korban Meninggal di Manggarai Timur akibat Gempa NTT Magnitudo 7,7

×

19 Korban Meninggal di Manggarai Timur akibat Gempa NTT Magnitudo 7,7

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 19 Warga Manggarai Timur Meninggal akibat Gempa NTT M 7,7

jurnalistik.co.id – Jumlah korban gempa di Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur, terus bertambah. Hingga malam 15 Agustus 2026, aparat setempat mencatat ada korban jiwa dan sejumlah warga lainnya mengalami luka.

Kapolres Manggarai Timur, AKBP Haryanto, menyampaikan bahwa berdasarkan data sementara, per Minggu (16/8/2026) tercatat 19 warga meninggal dunia. Pada waktu yang sama, ada delapan orang yang mengalami luka-luka.

Haryanto menyebut, angka tersebut mengacu pada data sementara hingga Sabtu (15/8/2026) pukul 22.26 Wita. “Sementara 8 korban luka tersebar di wilayah Kecamatan Sambi Rampas, dan masih dalam perawatan,” ujarnya dalam keterangannya.

Korban meninggal dunia, menurut Haryanto, tersebar di beberapa kecamatan. Rinciannya meliputi Kecamatan Kota Komba, Lamba Leda Utara, Lamba Leda, Lamba Leda Selatan, Sambi Rampas, serta Elar.

Selain menimbulkan korban jiwa, gempa juga berdampak pada kerusakan di berbagai wilayah. Haryanto mengatakan gempa mengakibatkan kerusakan pada sejumlah rumah warga, tempat ibadah, fasilitas umum, bangunan pemerintahan, serta infrastruktur di sejumlah area.

Ia menegaskan proses pendataan dan verifikasi kerusakan masih berlangsung di lapangan. Petugas terus melakukan pencocokan informasi agar gambaran dampak gempa di setiap titik bisa lebih akurat.

Menyusul adanya korban dan kerusakan tersebut, Kapolres mengimbau masyarakat untuk tetap tenang. Haryanto juga meminta warga tidak mudah mempercayai informasi yang belum terverifikasi, terutama kabar yang beredar di luar kanal resmi.

Dalam kesempatan itu, masyarakat diingatkan untuk meningkatkan kewaspadaan menghadapi kemungkinan gempa susulan. Upaya mitigasi juga diminta dilakukan dengan menghindari bangunan yang mengalami kerusakan setelah guncangan.

Selain aspek bangunan, warga juga diminta berhati-hati saat melintasi wilayah yang rawan longsor. Langkah tersebut diperlukan mengingat kondisi tanah di sejumlah lokasi bisa berubah setelah gempa.

“Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama. Kami bersama seluruh unsur terkait akan terus melakukan pemantauan, pendataan, dan penanganan di wilayah terdampak,” katanya.

Sebelumnya, gempa bermagnitudo 7,7 mengguncang sejumlah wilayah di Nusa Tenggara Timur pada Sabtu pagi. Gempa dilaporkan berpusat di Kabupaten Nagekeo dengan titik gempa berada 30 km arah Timur Laut.

BMKG juga menyebutkan kedalaman titik gempa mencapai 15 km. Dengan parameter tersebut, getaran terasa hingga wilayah yang berdekatan, termasuk daerah-daerah yang berada dalam cakupan terdampak bencana.

Seiring bertambahnya data korban, aparat terus melakukan pemantauan dan penanganan terhadap warga yang membutuhkan bantuan. Proses penyelidikan dampak di tingkat lapangan akan menjadi dasar bagi langkah-langkah berikutnya, termasuk upaya pemulihan dan rehabilitasi di lokasi terdampak.

Dalam situasi pascagempa, Haryanto menekankan pentingnya disiplin pada imbauan keselamatan. Warga diharapkan mengikuti arahan pihak berwenang agar risiko lanjutan dapat ditekan dan penanganan terhadap korban maupun kerusakan berjalan lebih tertib.

Haryanto juga menggarisbawahi bahwa angka korban dan kerusakan yang dihimpun saat ini merupakan data sementara. Tim di lapangan melakukan pencatatan ulang dan pengecekan silang untuk memastikan informasi yang masuk sesuai kondisi di setiap lokasi, sekaligus memperbarui hasil pemantauan dari waktu ke waktu.

Dalam tahap pascagempa, masyarakat diingatkan agar lebih tertib mengikuti panduan keselamatan yang disampaikan aparat. Warga diminta menyesuaikan aktivitas di sekitar area terdampak, terutama ketika menemukan bangunan yang rusak setelah guncangan, serta tetap waspada terhadap perubahan kondisi lingkungan yang bisa muncul setelah gempa.

BMKG melaporkan gempa bermagnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu pagi dengan parameter yang menunjukkan getaran terasa hingga wilayah yang berdekatan. Dengan mempertimbangkan informasi tersebut, imbauan untuk meningkatkan kewaspadaan, memprioritaskan keselamatan, dan menghindari penyebaran kabar yang belum terverifikasi terus disampaikan agar penanganan berjalan lebih terarah.