Peristiwa

Turbulensi Ekstrem di Singapore Airlines: Geoff Kitchen (73) Meninggal, Linda Ajukan Gugatan ke High Court

×

Turbulensi Ekstrem di Singapore Airlines: Geoff Kitchen (73) Meninggal, Linda Ajukan Gugatan ke High Court

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Man died after 'severe turbulence' on Singapore Airlines flight

jurnalistik.co.id – Linda Kitchen memulai langkah hukum setelah suaminya meninggal dunia menyusul insiden turbulensi berat di sebuah pesawat Singapore Airlines. Ia kini berupaya menuntut kompensasi melalui proses di High Court.

Kejadian itu menimpa Geoff Kitchen, 73, ketika pesawat rute London Heathrow mengalami penurunan mendadak sekitar 6.000 ft (1.828 meter). Tim kuasa hukum Linda menyatakan Geoff mengalami cedera yang dinilai fatal.

Linda Kitchen, 74, yang tinggal di Thornbury dekat Bristol, mengatakan ia mengalami cedera berat pada bagian punggung. Ia kemudian mengajukan gugatan untuk memperoleh akses dukungan spesialis terkait kondisi punggungnya.

Dalam keterangannya, pengacara Linda menyebut bahwa Geoff Kitchen mengalami “fatally injured” setelah pesawat tiba-tiba turun sekitar 6.000 ft. Linda juga menyatakan bahwa momen ketika mereka terpisah membuatnya segera memahami bahwa suaminya dalam keadaan sangat buruk.

“When I got separated from Geoff, I knew he was in a bad way, but nothing prepared me for hearing he had died. It was absolutely devastating,” kata Linda Kitchen.

Proses hukum di High Court

Langkah hukum tersebut dimulai sebagai upaya Linda untuk mendapatkan ganti rugi dari maskapai. Gugatan ini, menurut tim pengacaranya, ditujukan agar Linda dapat mengakses dukungan spesialis atas cedera punggung yang dialaminya.

Pengacara penerbangan Anthe Korelidou menyampaikan bahwa pernyataan mengenai cedera fatal Geoff dan cedera berat yang dialami Linda menunjukkan seriusnya apa yang terjadi. Korelidou juga menegaskan keluarga korban masih memiliki pertanyaan mengenai insiden tersebut, termasuk apakah ada upaya yang bisa dilakukan untuk mencegah luka yang lebih parah.

Anthe Korelidou mengatakan, “That Geoff was fatally injured and Linda suffered severe injuries vividly highlights the severity of what happened. While it’s more than two years since Geoff’s death, Linda and the rest of her family continue to have a number of questions and concerns about what happened and if more could have been done to prevent their injuries. All Linda wants is for the most thorough investigations to be conducted. The issuing of High Court proceedings is a major milestone in being able to provide Geoff’s loved ones with the answers they deserve.”

Dari pihak maskapai, BBC menyebut telah menghubungi Singapore Airlines untuk meminta tanggapan. Namun, tidak ada komentar yang disampaikan dalam naskah yang dirujuk.

Kronologi turbulensi

Insiden terjadi pada Mei 2024 saat Linda dan Geoff memulai liburan selama enam minggu ke Singapura, Indonesia, dan Australia. Rumah tangga mereka digambarkan sebagai “soul mate” oleh Linda dalam penuturannya.

Turbulensi melanda pesawat di atas Myanmar. Setelah kejadian itu, penerbangan dialihkan ke Bangkok, Thailand, untuk melakukan pendaratan darurat.

Linda menjelaskan bahwa sebelumnya sudah ada turbulensi di wilayah Eropa, dan pesawat terasa “shaky over the water”. Menurutnya, situasi berubah menjadi gangguan utama sekitar 10 jam setelah penerbangan berlangsung.

“It was around 10 hours into the flight when we encountered the main turbulence,” ujar Kitchen. Ia menambahkan bahwa turbulensi itu terasa “so severe; it felt like the aircraft was dropping.”

Linda mengatakan pemandangan di kabin memperlihatkan betapa kerasnya guncangan tersebut. Ia menyebut Kindle miliknya dan telepon Geoff terjatuh ke lantai saat pesawat mulai turun.

“I noticed my Kindle and Geoff’s phone had fallen to the floor, and I thought the plane was going down,” kata Linda.

Menurut penuturannya, ketika pesawat mengalami penurunan, Geoff jatuh menimpa dirinya. Linda menyebut suaminya “fell on top of her, squashing her into the armrest.”

Setelah itu, orang-orang lain di dalam pesawat membantu mengangkat Geoff. Seorang dokter di dalam kabin kemudian memulai prosedur CPR.

Linda dibawa ke rumah sakit sementara Geoff masih berada di pesawat. Ia baru diberi tahu bahwa Geoff telah meninggal dua hari kemudian.

Linda juga menyampaikan ia pernah mengalami pemisahan yang membuatnya segera menyadari kondisi Geoff. Ia menggambarkan momen tersebut sebagai sesuatu yang sangat menghantam karena tidak ada persiapan sebelumnya untuk mendengar kabar kematian.

Perawatan dan dampak lanjutan

Kitchen mengaku menjalani perawatan sebelum akhirnya kembali ke Bristol. Ia mengatakan, “I spent 10 days in hospital before I was airlifted back to Bristol.”

Ia menggambarkan rasa sakit yang dialaminya begitu berat hingga perjalanan setelahnya terasa seperti kabur. Setelah kembali ke Inggris, Linda menyebut ia masih berada di rumah sakit sekitar satu minggu.

“Once back in the UK, I remained in hospital for around a week and, following my discharge, required significant assistance at home,” kata Kitchen.

Dalam penjelasan yang dipahami dari sumber yang dirujuk, Geoff mengalami serangan jantung setelah pesawat tiba-tiba turun pada ketinggian tinggi. Keadaan tersebut, dalam konteks yang sama, dikaitkan dengan penurunan mendadak yang terjadi selama turbulensi berat.

Bagi Linda Kitchen, gugatan yang diajukan ke High Court menjadi tonggak penting agar proses pemeriksaan dapat berlangsung paling menyeluruh. Ia menempatkan kebutuhan keluarga untuk mendapatkan jawaban sebagai alasan utama atas tindakan hukum yang sedang berjalan.