Peristiwa

40 KK Tinggalkan Timbulsoko Demak, 100 KK Masih Bertahan di Tengah Rob yang Mengepung

×

40 KK Tinggalkan Timbulsoko Demak, 100 KK Masih Bertahan di Tengah Rob yang Mengepung

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 40 KK Tinggalkan Kampung Timbulsoko Demak, 100 KK Masih Bertahan meski Dikepung Rob

jurnalistik.co.id – Dukuh Timbulsoko, Kecamatan Sayung, Kabupaten Demak, masih dihuni warga meski kawasan itu telah lama terdampak banjir rob. Sebagian keluarga memilih pergi, tetapi sebagian lainnya tetap bertahan karena mempertimbangkan sumber penghidupan yang selama ini mereka andalkan.

Menurut Kepala Desa Timbulsoko, Nadhiri, sekitar 40 kepala keluarga (KK) sudah meninggalkan kampung yang dikenal sebagai kampung tenggelam. Namun, sekitar 100 KK atau kurang lebih 300 jiwa masih tinggal di Timbulsoko.

Warga yang bertahan menghadapi tidak hanya genangan air laut, melainkan juga persoalan akses sehari-hari. Di antaranya akses transportasi, ketersediaan air bersih, hingga keterbatasan ekonomi jika harus memindahkan tempat tinggal ke lokasi lain.

Nadhiri menyebut pemerintah desa terus berupaya memberikan bantuan bagi warga yang masih menetap. Salah satu yang menjadi fokus adalah pembangunan akses jalan menuju permukiman warga, dengan target penyelesaian pada 2026.

“Warga minta akses jalan bisa masuk ke permukiman, tahun ini semoga sudah bisa,” kata Nadhiri. Ia mengatakan permintaan tersebut muncul dari kebutuhan warga agar mobilitas tidak semakin sulit ketika rob menggenangi wilayah.

Di sisi lain, Nadhiri juga menyoroti bahwa dampak rob tidak hanya memengaruhi Timbulsoko. Ia menjelaskan saat ini masih ada satu dukuh lain di desa mereka, yakni Bogorame, yang ketika air laut pasang kampungnya mulai tenggelam.

Kondisi rob yang melanda Timbulsoko disebut sudah berlangsung sejak 2017. Nadhiri menegaskan, meski sebagian warga telah memilih pindah, pihak desa tidak berhenti mencari cara agar warga yang tinggal tetap memiliki akses dan dukungan yang layak.

Ia juga membantah anggapan bahwa desa lepas tangan terhadap warga Timbulsoko. Salah satu bentuk kehadiran yang ia tunjukkan adalah partisipasinya dalam upacara pengibaran bendera pada perayaan HUT ke-81 RI yang digelar warga di tengah kepungan banjir rob.

“Ya semoga di hari kemerdekaan ini warga masih bisa eksis, tidak keluar dari kampungnya, karena desa-desa lain sudah tidak eksis (tenggelam),” ujar Nadhiri.

Upaya bantuan pemerintah desa tersebut, menurut pihak terkait, sejalan dengan alasan warga bertahan. Ketua Organisasi Perempuan Nelayan Puspita Bahari, Masnuah, mengatakan warga Timbulsoko memiliki pertimbangan kuat untuk tetap tinggal.

Masnuah menyebut sebagian warga merupakan nelayan sehingga tidak bisa begitu saja meninggalkan tempat tinggal yang juga menjadi bagian dari sumber mata pencaharian mereka. Bagi warga yang sudah terbiasa dengan aktivitas melaut dan kebutuhan harian di wilayah tersebut, perpindahan tidak hanya memerlukan biaya, tetapi juga memaksa perubahan pola hidup.

Ia menambahkan, pertimbangan tersebut makin terasa pada warga yang berusia lebih tua. Kondisi fisik dan kemampuan beradaptasi menjadi faktor yang membuat sebagian dari mereka memilih bertahan meski rob datang berkala.

Dengan sisa sekitar 100 KK yang masih tinggal, Timbulsoko terus menjadi gambaran tentang bagaimana rob mengubah kehidupan kampung demi kampung. Di tengah proses bertahan, warga berharap akses jalan yang sedang diupayakan dapat memberi ruang agar kehidupan sehari-hari tidak semakin terhimpit, terutama ketika air laut pasang kembali mengepung wilayah mereka.

Meski air rob datang berkala, warga yang belum berpindah berusaha tetap menjaga rutinitas harian agar kebutuhan dasar tidak sepenuhnya terputus. Mereka menilai ketika akses makin terbatas, pilihan untuk mencari sumber bantuan atau layanan umum akan ikut menyempit, sehingga ketahanan warga bertahan bukan semata soal tempat tinggal, melainkan juga cara mempertahankan kelangsungan hidup.

Dalam pandangan pihak desa dan organisasi perempuan nelayan, alasan bertahan itu juga berkaitan dengan kedekatan warga dengan aktivitas yang sudah menjadi kebiasaan sejak lama. Karena sebagian di antaranya bekerja sebagai nelayan, tinggal berarti mempertahankan pola kerja yang selama ini menopang ekonomi keluarga. Pada kelompok yang lebih tua, kemampuan beradaptasi dinilai semakin sulit, sehingga harapan mereka tetap terarah pada upaya yang bisa memperluas akses, termasuk pembangunan jalan menuju permukiman yang ditargetkan rampung pada 2026.