jurnalistik.co.id – Kemarau panjang di Kabupaten Demak, Jawa Tengah, berdampak langsung pada ketersediaan air di wilayah sekitar Sungai Avour. Di Kecamatan Karanganyar, aliran sungai ini mengering hingga bagian dasarnya retak-retak.
Di Desa Ngaluran, kondisi tersebut makin terlihat nyata karena tak hanya retak, tetapi juga mulai ditumbuhi rumput liar di area yang biasanya dialiri air. Perubahan lanskap ini kemudian memunculkan situasi kontras: bagi sebagian warga, krisis air bersifat serius, sementara bagi peternak tertentu ada sumber pakan yang masih bisa dimanfaatkan.
Hery (54), warga Desa Gajah, Kecamatan Gajah, memanfaatkan rumput liar yang tumbuh di dasar Sungai Avour yang mengering. Ia mengaku mengambil rumput tersebut untuk mendukung pakan ternaknya, terutama saat rumput di sekitar kampungnya ikut menguning.
Hery menyebut, ia memiliki 10 ekor kambing. Namun karena lama tidak turun hujan, pakan dari area sekitar rumahnya menjadi sulit didapat.
“Kambing ya itu, 10 tapi susahnya tidak ada rumput lagi di sana (Desa Gajah),” ujar Hery di sela-sela mengambil rumput, Kamis (20/8/2026) sore.
Meski kondisi sungai tidak lagi mengalir, Hery tetap merasa bersyukur karena rumput liar di lokasi tersebut masih dapat ditemukan. Ia mengatakan rumput yang ada mampu membantu kebutuhan pakan harian untuk kambing peliharaannya.
Dalam sehari, ia mengaku dapat membawa rumput sekitar empat hingga lima sak dengan ukuran masing-masing 50 kilogram. Jumlah tersebut menurutnya bisa berubah tergantung ketersediaan rumput di lokasi.
“Tergantung ya, kadang empat kadang lima,” ujarnya lagi.
Hery tidak dapat memastikan kapan persisnya Sungai Avour benar-benar mulai mengering. Namun dari ingatannya, ia telah mengambil rumput di sungai Desa Ngaluran dalam sekitar tiga pekan terakhir.
Berita Terkait
“Emboh tidak tahu, saya sudah tiga minggu,” katanya.
Saat mengambil rumput, Hery juga menceritakan perubahan mata pencaharian yang ia lakukan beberapa bulan terakhir. Ia sebelumnya bekerja sebagai petani bawang merah, tetapi usaha itu tidak berjalan sesuai harapan.
Ia menyebut mengalami kerugian hingga puluhan juta rupiah, sehingga akhirnya memutuskan berhenti dari kegiatan bertani bawang dan beralih beternak kambing. Keputusan tersebut diambil karena ia menilai kegiatan lama hanya akan menjadi pemborosan jika hasil tidak membaik.
“Sebenarnya tanam bawang kemarin, tapi rugi banyak, berhenti daripada buang-buang uang terus,” ujar Hery.
Di sisi lain, Desa Ngaluran juga menghadapi persoalan yang lebih luas terkait air bersih. Warga di wilayah tersebut mengalami krisis air karena Sungai Avour serta sumur-sumur warga mengering dalam dua bulan terakhir.
Kepala Dukuh Kalitekuk, Desa Ngaluran, Badawi, menyampaikan bahwa kondisi tersebut membuat penyediaan air bersih berbasis masyarakat terdampak berat. Empat Penyedia Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat (Pamsimas) di kampung itu disebut mati total karena mengandalkan bahan baku dari air irigasi Avour.
“Tujuh Pamsimas tidak bisa meng- cover semua. Yang empat tidak (berfungsi), karena sumbernya sungai,” kata Badawi, Senin (10/8/2026).
Dengan demikian, Sungai Avour yang mengering di musim kemarau membawa dua efek sekaligus bagi warga Desa Ngaluran dan sekitarnya. Kekeringan membuat akses air bersih makin terbatas, sementara pada saat yang sama dasar sungai yang retak dan ditumbuhi rumput liar menjadi lokasi yang bisa membantu peternak mencari pakan.
Bagi Hery, rumput liar itu menjadi “jalan tengah” saat pilihan pakan di sekitar kampung sudah menipis. Ia mengandalkan ketersediaan rumput di lokasi yang sama selama beberapa minggu terakhir, sambil menyesuaikan jumlah sak yang bisa dibawa pulang setiap harinya.
Kerja mengambil rumput tersebut menggambarkan ketahanan warga menghadapi kemarau panjang. Namun, keberadaannya juga menegaskan bahwa ketika sungai mengering hingga retak dan pasokan air menurun drastis, kebutuhan dasar seperti air bersih tidak bisa dipisahkan dari persoalan penghidupan sehari-hari.












