jurnalistik.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) cukup besar terjadi di Desa Sungai Guntung, Kecamatan Rengat, Kabupaten Indragiri Hulu (Inhu), Riau, pada Senin (10/8/2026). Kepala Manggala Agni Daops Sumatera VII/Rengat, Muhammad Ilham Sidik, menyebut lahan yang terbakar merupakan lahan gambut.
Menurut Ilham, luas lahan yang terbakar sementara diperkirakan sudah mencapai 50 hektar. Kebakaran masih berpotensi meluas karena gambut berada dalam kondisi kering akibat kemarau panjang.
Hingga Senin malam, proses pemadaman belum menunjukkan tanda selesai. Ilham mengatakan, “Saat ini api belum padam dan berasap tebal,” sekaligus menjelaskan bahwa upaya memadamkan titik api karhutla sudah memasuki hari kedelapan.
Dalam operasi pemadaman, petugas gabungan melibatkan Manggala Agni, TNI, Polri, BPBD, BBKSDA, serta pihak perusahaan. Ilham menyampaikan bahwa “Luas lahan terbakar yang berhasil kami padamkan sekitar 10,9 hektar. Sisanya masih proses dan dilanjutkan keesokan harinya.” Pernyataan tersebut menunjukkan masih ada area yang belum sepenuhnya ditangani meski sebagian titik api sudah lebih dahulu dipadamkan.
Lahan yang terbakar, lanjut Ilham, meliputi semak belukar, tanaman sawit, serta hutan produksi yang dapat dikonversi atau HPK. Sebaran api dilaporkan memanjang 2,25 kilometer arah Barat-Timur dan 3 kilometer arah Utara-Selatan, dengan penjalaran yang dominan ke bagian Timur dan Barat.
Selain pemadaman dari darat, penanganan juga dilakukan dari udara dengan helikopter water bombing. Ilham menyebut ada dukungan dua unit helikopter water bombing pada hari itu, yang melakukan operasi pemadaman pada siang hingga sore hari, untuk menekan titik api agar tidak terus melebar.
Berita Terkait
Petugas terus berupaya menyekat penjalaran api agar tidak merambat ke area yang lebih luas. Namun, Ilham menjelaskan bahwa kepala api di sisi timur belum dapat dijangkau karena tidak ada akses jalan, sehingga tim pemadam perlu menyesuaikan strategi di lapangan.
Untuk menjaga keberlangsungan operasi, sumber air pemadaman diambil dari parit dan dilakukan pembuatan embung sebanyak 7 titik. Sementara itu, fokus sebagian tim pada hari tersebut diarahkan pada pembukaan akses jalur masuk menggunakan alat berat, dengan tujuan memutus kepala api dan memudahkan penanganan lanjutan ke area yang sebelumnya sulit dijangkau.
Dengan kondisi asap yang masih tebal dan api yang belum padam sepenuhnya, pengendalian karhutla di lokasi ini tetap menjadi prioritas hingga langkah pemadaman berikutnya dilanjutkan pada hari setelah Senin. Upaya penyekatan, dukungan pemadaman darat dan udara, serta pembenahan akses lapangan menjadi rangkaian kerja yang menentukan kecepatan penurunan titik panas dan pencegahan perluasan area terbakar.
Ilham menegaskan bahwa kondisi gambut yang kering menjadi salah satu pemicu sulitnya api terkendali. Saat musim kemarau berlangsung lebih panjang, area gambut cenderung mudah menyala dan mempertahankan bara, sehingga proses pemadaman tidak bisa dilakukan secara cepat hanya dengan satu tahap.
Dalam penanganan di lapangan, petugas tidak hanya memadamkan titik yang terlihat menyala, tetapi juga menata alur kerja agar api tidak mendapatkan ruang untuk menjalar. Karena itu, setelah bagian tertentu berhasil dipadamkan, tim tetap melakukan pemantauan untuk memastikan sisa titik tidak aktif kembali sebelum kegiatan dilanjutkan keesokan harinya.
Kendala akses juga menjadi perhatian dalam operasi. Ilham menyebutkan bahwa pada sisi timur, kepala api belum bisa dijangkau secara langsung akibat belum tersedianya jalan yang memadai, sehingga pemadam perlu mengutamakan pembukaan jalur masuk lebih dulu agar distribusi tim dan peralatan bisa menjangkau area yang sebelumnya terhambat.
Upaya tersebut didukung langkah persiapan sarana pemadaman, termasuk pengaturan suplai air dari parit serta pembangunan embung di beberapa titik. Dengan adanya embung sebanyak 7 lokasi, kebutuhan air untuk penanganan titik api dapat dipenuhi lebih stabil, sementara dukungan water bombing dari helikopter tetap diarahkan untuk menekan kemungkinan perluasan pada jam operasional siang hingga sore.












