Peristiwa

Debbie Beard dan Amanda Thorpe: kisah kehilangan suami mereka

×

Debbie Beard dan Amanda Thorpe: kisah kehilangan suami mereka

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Debbie Beard and Amanda Thorpe lost their husbands - this is their story

jurnalistik.co.id – Dua perempuan bertemu untuk pertama kalinya dalam balutan duka yang sama. Mereka datang dengan pengalaman yang berbeda, namun berakhir pada kehilangan yang serupa—suami yang meninggal akibat bunuh diri.

Debbie Beard mengatakan suaminya, Matt Beard, meninggal di rumah sakit pada 20 September 2025, tepat sekitar setahun lebih lalu. Proses inquest masih belum selesai, tetapi pihak keluarga meyakini kematiannya terkait tindakan bunuh diri.

Sementara itu, Amanda Thorpe kehilangan Graham, mantan pemain kriket Inggris dan Surrey. Graham meninggal pada 2024; Amanda menyebut bahwa Graham “spiralled into depression” setelah kehilangan pekerjaan sebagai pelatih batting pada 2022.

Dalam pertemuan itu, Debbie dan Amanda membicarakan bagaimana keputusan dan dukungan yang tidak sempat hadir—atau datang terlambat—dapat membuat orang-orang di sekitar jatuh pada situasi yang makin sulit ditangani. Percakapan mereka berlangsung di acara peluncuran toolkit pencegahan bunuh diri yang baru, yang digerakkan untuk mendorong agar olahraga di setiap level menjadikan pencegahan bunuh diri sebagai bagian dari budaya.

Pendekatan toolkit tersebut diluncurkan melalui keterlibatan Prince of Wales dan Royal Foundation. Di lokasi yang sama, mereka juga berbincang dengan Simon Jack dari BBC, yang mengingat bahwa ia berusia 17 tahun saat ayahnya meninggal karena bunuh diri.

Toolkit itu selaras dengan gagasan bahwa pencegahan tidak boleh berhenti pada kampanye. Simon Jack menyinggung ketersediaan sumber daya online “On Your Side” yang ditujukan agar pencegahan bunuh diri menjadi “sebagian dari olahraga” sebagaimana pemanasan, latihan, dan performa. Bagi Amanda, inti persoalannya bukan hanya membuat orang tahu tentang risiko, tetapi memastikan ada jalur bantuan yang jelas ketika seseorang benar-benar membutuhkan pertolongan.

Kesaksian di balik kehilangan

Amanda menuturkan keyakinannya bahwa Graham mungkin masih hidup jika ia mendapat dukungan yang lebih memadai setelah meninggalkan perannya di bidang coaching. Ia menyinggung respons setelah inquest, ketika ECB menyebut kematian itu sebagai “a profound tragedy” dan “stark reminder” tentang tantangan yang dihadapi banyak orang dalam urusan kesehatan mental.

Dalam penjelasan Amanda, Graham sempat menjalani terapi dan sesi konseling, serta menggunakan obat selama masa-masa yang ia anggap berat. Ia menggambarkan periode Covid sebagai masa yang tidak mudah bagi Graham, termasuk kondisi latihan dan pertandingan yang membuatnya berada dalam “bubble conditions”, yang kemudian berujung pada kejatuhan psikologis saat pekerjaannya hilang.

Amanda juga mengaitkan kemunduran itu dengan momen setelah serangkaian perubahan besar. Ia menyebut Graham tidak menyangka kehilangan pekerjaan datang sedemikian tiba-tiba, bahkan merasa terkejut karena Graham selama ini menumpukan identitas dirinya pada dunia kriket dan merasa dirinya “blindsided” oleh keadaan tersebut.

Ia menambahkan bahwa Graham mungkin mengalami tekanan psikologis yang berat, sementara ia juga menyinggung kemungkinan bahwa Graham terlalu banyak minum. Amanda mengisahkan sebuah video ringan yang diunggah pada akhir tur—ketika Graham dan tim menikmati suasana dengan lawan—lalu tersebar setelah dibagikan kepada orang lain. Ia menyebut video itu kemudian bocor dan akhirnya diberitakan oleh Sydney Morning Herald.

Pada bagian ini, percakapan bergerak dari pemaparan kejadian menuju penilaian tentang bagaimana bantuan bisa lebih awal tersalurkan. Amanda mengatakan ia mengetahui adanya upaya serius bunuh diri ketika Graham sudah terluka parah, dan saat itu juga ia baru mengetahui bahwa Graham sempat menyebut keinginannya bunuh diri. Amanda menuturkan bahwa jika ia mengetahui lebih awal, ia meyakini kemungkinan keadaan bisa berbeda.

Debbie mengemukakan bahwa Matt juga mengalami perubahan perilaku yang baru dipahami setelah kepergiannya. Ia menyebut bahwa secara kinerja, tim tidak menunjukkan hasil yang baik sehingga muncul banyak bentuk pelecehan di media sosial. Debbie juga mengatakan Matt sulit menyampaikan kenyataan yang terjadi “di balik layar” ketika diwawancarai media.

Ia menambahkan bahwa Matt sebelumnya berbagi dengan saudaranya tentang kondisi kesehatan mentalnya. Namun setiap kali Debbie bertanya, Matt cenderung menjawab “I’m all right, I’m all right”, karena ia ingin agar keluarga tidak ikut terbebani oleh pikiran-pikiran gelap yang ia simpan.

Peran olahraga, percakapan sulit, dan dukungan

Simon Jack menanyakan apakah ada tanda-tanda yang sebetulnya bisa dilihat. Debbie mengatakan ada perubahan, termasuk lebih sering minum dan mengambil risiko yang tidak biasa. Ia juga menyebut pemecatan yang menimpa Matt terasa datang “out of the blue”, disertai spekulasi luas di publik.

Pertanyaan berikutnya menyoroti kenyataan bahwa olahraga memiliki jangkauan besar dan membuat pelatih sering terhubung dekat dengan orang-orang yang mereka bina. Debbie mengingatkan bahwa percakapan mengenai kesehatan mental itu sulit, tetapi perubahan biasanya tampak ketika seseorang berada setiap hari bersama dan memperhatikan pola-pola yang berubah.

Ia menjelaskan bahwa Matt mampu membaca kondisi pemainnya dan bisa berbicara secara satu lawan satu untuk memberi saran. Menurut Debbie, selama ini perhatian cenderung berfokus pada aspek fisik kesejahteraan, sementara sisi mental sering tertinggal sehingga perlu dibuka lebih luas dalam pembicaraan yang nyata dan berkelanjutan.

Simon Jack juga mengajukan pertanyaan tentang rasa bersalah yang muncul saat keputusan berat harus dibuat. Debbie mengatakan Matt pernah pulang dan menceritakan bahwa ia harus mengadakan percakapan sulit, melepaskan keputusan tersebut, sampai sampai ada air mata. Debbie menegaskan bahwa Matt menanggung rasa bersalah besar karena ia merasa harus menjadi pihak yang menyampaikan kabar itu kepada orang lain.

Amanda menambahkan gambaran dari sisi pergaulan. Menurutnya, saat Graham makin sakit, Graham merasa malu dan justru menutup diri dari banyak orang. Ia mengatakan bahwa Graham sempat merasa “I’ve lost all my friends”, padahal menurut Amanda kenyataannya Graham “shut a lot of people out” sehingga tampak terisolasi dari lingkungannya.

Dalam konteks emosi dan dinamika performa, Simon Jack menyinggung apakah Graham mengalami naik-turun yang ekstrem. Amanda menjawab bahwa Graham sering mengingatkan orang lain untuk tidak larut dalam kesedihan dan tidak terlalu berlebihan pada momen baik, termasuk ketika ia mencetak skor besar. Ia menuturkan bahwa Graham menganggap itu bagian dari pekerjaan, meskipun tetap sulit karena setiap tindakan akan disorot oleh publik.

Apa yang ingin mereka ubah

Debbie lalu berbicara tentang tujuan dari keterbukaan yang mereka lakukan. Ia menyebut bahwa keterlibatan Royal Foundation membantu isu ini agar dibicarakan oleh lebih banyak orang, tetapi dukungan yang tepat harus tetap tersedia saat orang benar-benar meminta bantuan.

Ia menekankan bahwa membangun koneksi dengan terapis bukan hal yang mudah karena seseorang perlu membuka “kotak” hal-hal paling pribadi. Debbie menjelaskan bahwa yang paling penting adalah adanya hubungan yang baik, sehingga orang merasa nyaman untuk bercerita tentang perasaan terdalam.

Bagi Debbie, pembicaraan ini juga menjadi bentuk harapan agar tidak ada keluarga lain yang mengalami hal serupa. Ia menyampaikan, “For me and my children, we don’t want another family to go through this.”