Politik & Parlemen

Kebijakan Baru dan Spekulasi Pemilu: Yang Mungkin Dibahas di Konferensi Perdana Andy Burnham sebagai PM

×

Kebijakan Baru dan Spekulasi Pemilu: Yang Mungkin Dibahas di Konferensi Perdana Andy Burnham sebagai PM

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: New policies, election speculation: What to expect from Burnham's first Labour conference as PM

jurnalistik.co.id – Andy Burnham akan naik panggung pada Konferensi Partai Buruh pertama kalinya sebagai perdana menteri. Setelah dua belas bulan lalu berpidato di pinggir acara, kali ini ia menjadi pusat perhatian dan dituntut menunjukkan arah yang jelas bagi partai maupun publik.

Pekan ini, ia menegaskan pidato perdana sebagai pemimpin akan membuat semua orang paham niatnya dalam peran tersebut. Burnham berkata kepada reporter bahwa “People are going to know the direction I want to take this country” dan ia akan menjelaskannya “quite clearly”. Ia juga menyebut pidatonya “leave nobody in any doubt about ‘what I’m trying to do in this role’”.

Menurut catatan internal No 10, tema besar yang akan dibahas mencakup langkah jangka panjang untuk membangun keyakinan bahwa masa depan bisa lebih baik. Konferensi tahun ini mengangkat slogan “Hope Again”, dan karena itu pidato Burnham diperkirakan akan menyinggung rencana sepuluh tahun yang akan ia susun bagi Inggris.

Salah satu gagasan inti yang disebut-sebut adalah menjadikan hidup lebih terjangkau. Burnham mengaitkannya dengan “making life more affordable” sebagai pusat dari rencana 10 Tahun tersebut.

Pesan yang berangkat dari kritik lama

Beberapa bagian dari pidato yang akan disampaikan di Liverpool kemungkinan akan terdengar akrab bagi mereka yang sempat mengikuti pidato pinggiran Burnham setahun lalu. Saat itu, ia menyatakan negara “lost control” atas “the essentials”, menyusul penjualan aset utilitas pada era Thatcher. Ia juga menyinggung bahwa masyarakat “overpaying for water, housing energy, transport”.

Dalam narasi yang sama, Burnham sebelumnya mendorong penekanan kembali pada pendidikan vokasi dan teknis. Ia juga menginginkan pembangunan rumah dewan dalam skala setara era pascaperang pemerintahan Buruh.

Bagi politisi yang kerap dituduh “flip flopping”, ia dinilai justru relatif konsisten belakangan ini. Poin yang diperkirakan kembali muncul termasuk komitmen pada kontrol publik yang lebih besar atas kebutuhan dasar, meski tidak selalu berarti kepemilikan publik penuh.

Pidato juga diperkirakan mengaitkan kebutuhan membangun ketahanan nasional di dunia yang tidak stabil. Selain itu, Burnham kemungkinan akan menempatkan modal politik untuk mendorong reformasi layanan perawatan sosial sebagai bagian dari rencana jangka lebih panjang.

Reformasi pemilu dan agenda yang menyasar kebutuhan harian

Salah satu bagian yang berpotensi menjadi daya tarik di panggung utama adalah pengumuman mengenai reformasi tata kelola pemilu. Orang-orang di sekitar Burnham menyebut ia akan menghidupkan kembali rencana membentuk sebuah komisi untuk menelaah reformasi pemilu, ide yang sejalan dengan janji kepemimpinannya mengenai “a new politics”.

Dalam janji itu, fokusnya adalah “problem solving” alih-alih adu poin. Langkah semacam ini disebut didukung sekitar seperempat anggota parlemen dari kubu Burnham sendiri.

Ia juga kemungkinan menambah penjelasan tentang upaya menempatkan anak muda agar masuk kerja atau mengikuti pelatihan. Kesimpulan dari tinjauan yang dipimpin Alan Milburn, mantan menteri Kabinet Buruh, disebut akan segera dipublikasikan.

Sejumlah agenda lain juga diantisipasi menyangkut upaya memindahkan kendali dari Whitehall ke para wali kota di Inggris, termasuk pembentukan “No 10 North” yang menjadi simbol pemindahan daya. Tantangannya adalah merangkai berbagai potongan kebijakan itu menjadi cerita yang koheren dan meyakinkan, hingga bermuara pada gambaran Britain satu dekade mendatang.

Namun, ada kekhawatiran bahwa pesan jangka panjang bisa terasa seperti narasi fiksi apabila tidak disertai perhatian lebih kuat pada situasi saat ini. Dengan pembatalan “decade of national renewal” versi Keir Starmer setelah dua tahun masa jabatan yang bergejolak, Burnham perlu menunjukkan bahwa rencana jangka panjang juga menjawab masalah yang dirasakan sekarang.

Hari-hari konferensi: pajak, biaya hidup, dan sinyal dari kanselir

Jadwal kebijakan diperkirakan muncul setiap hari konferensi, dimulai pada Sabtu. Setiap pengumuman harus selaras dengan prioritas perdana menteri, termasuk gagasan “putting power in people’s hands” atau pemberian kekuasaan lebih besar kepada masyarakat, “growth in every postcode” melalui keputusan investasi lintas wilayah, serta dukungan untuk biaya hidup.

Dalam kelompok internal partai, bantuan seperti penghapusan PPN dari tagihan listrik disebut hanya langkah awal. Sementara itu, Unite sebagai penyokong terbesar buruh meminta tindakan yang lebih tegas dan lebih cepat atas biaya hidup, bukan janji “jam tomorrow”.

Sharon Graham dari Unite menyampaikan usulan “winter fuel in reverse”, sebuah kebijakan yang ia anggap bisa populer. Unite juga mengajukan opsi melalui mosi partai, termasuk pembatasan harga energi dan pembukaan kembali ambang batas pajak yang sebelumnya tidak diperbarui. Dalam mosi tersebut, mereka juga menyebut pendapatan bisa didapat lewat pajak “windfall tax” atas bank.

Selain itu, TUC juga meminta kenaikan biaya tambahan perbankan (bank surcharge) untuk mensubsidi tagihan energi.

Sorotan lain datang dari pidato konferensi pertama John Healey sebagai kanselir pada hari Senin. Karena biaya pinjaman pada bulan lalu melonjak hingga level tertinggi kedua, ruang gerak kebijakan diperkirakan terbatas. Para aktivis Buruh ingin mengetahui apakah bahasa Healey menunjukkan kontinuitas atau perubahan nyata dari dua tahun terakhir di bawah Rachel Reeves, baik dari retorika maupun kebijakan.

Spekulasi pemilu dini dan tarik-menarik di dalam partai

Di tengah agenda konferensi, spekulasi pemilu dini juga terus mengemuka. Sebagian anggota internal Buruh meyakini Burnham menyiapkan skenario pemilu lebih cepat, menyusul peluncuran “operation second term” oleh kantor pusat partai untuk memperkuat kampanye dan organisasi. Secara ketentuan, Burnham tidak harus mengadakan pemilu hingga Agustus 2029, tetapi pemilu lebih cepat—bahkan setidaknya pada musim semi tahun depan—diyakini bisa memberi mandat yang lebih luas dan mengurangi keterikatan terhadap janji dalam manifesto 2024 Keir Starmer.

Survei terbaru disebut menunjukkan kemungkinan “Burnham bounce”. Posisi Buruh digambarkan bergerak dari di bawah 20% pada akhir masa Starmer menjadi sekitar pertengahan dua puluh persen saat ini. Ipsos menempatkan dukungan sampai 28%, sedangkan YouGov mencatat 23%. Di sisi lain, porsi Reform UK pada YouGov sebesar 21%, yang disebut sebagai level terendah sejak Januari 2025, sementara partai Nigel Farage disebut bersaing ketat dengan Konservatif di bawah Kemi Badenoch.

Seorang sumber internal Buruh mengatakan Burnham merasa melihat Badenoch yang tetap tangguh justru membantu, karena hal itu dapat meredam dukungan Reform dan berpotensi memunculkan perpecahan suara kanan. Riset YouGov lain juga menyebutkan pada level konstituen, 63-68% pemilih Lib Dem dan Green akan memilih secara taktis untuk Buruh agar Reform UK tidak memenangkan kursi mereka.

Meski demikian, Burnham juga menghadapi tantangan dari sayap kiri. Potensi ancaman dari Greens yang dipimpin Zack Polanski akan diuji pada pemilihan sela Holborn and St Pancras, satu minggu setelah konferensi berakhir. Sementara itu, Downing Street menegaskan tidak ada rencana pemilu lebih awal, meski spekulasi tetap bertahan di ruang publik.

Di sisi lain, partai juga bersiap menghadapi perbedaan sikap yang bisa menimbulkan gesekan di konferensi. Metode tradisional Buruh dalam mengelola dissent ketika suara kebijakan partai berlangsung telah teruji, tetapi pekan ini diprediksi ada upaya terkoordinasi dari sebagian aktivis kiri untuk mendorong larangan penuh penjualan senjata ke Israel serta meminta tindakan Israel di Gaza disebut “genocide”.

Orang-orang dekat Burnham percaya ia telah mendapat legitimasi politik besar dengan mengizinkan permukiman ilegal Israel di Tepi Barat, sehingga tidak perlu melangkah lebih jauh. Namun tetap ada frustrasi karena pemerintah belum merevisi proposal agar para migran menunggu lebih lama untuk memperoleh hak tinggal permanen, serta perbedaan pendapat mengenai kelanjutan ladang minyak dan gas Rosebank dan Jackdaw.

Walau menghadapi berbagai keputusan sulit, Burnham dipandang tidak berada dalam situasi partai yang sedang berontak. Ia menawarkan kepada publik yang tertekan “breathing space” di tengah krisis biaya hidup. Di saat yang sama, pimpinan senior Buruh memuji konferensi sebagai kesempatan untuk menghadirkan partai yang “boldly, confidently, and authentically Labour” kepada pemilih.

Namun, tuntutan dari kalangan lebih luas dalam gerakan Buruh tetap menuntut bukti nyata, bukan sekadar slogan. Pidato Burnham pun dipandang harus mampu menjahit harapan jangka panjang dengan tekanan yang terasa hari ini.