jurnalistik.co.id – Gunung Anak Krakatau (GAK) kembali menunjukkan aktivitas erupsi sebanyak tujuh kali dalam rentang Senin (17/8/2026) sore hingga malam. Pemantauan Magma Indonesia mencatat kolom abu tertinggi dapat membubung hingga 400 meter.
Erupsi pertama tercatat berlangsung mulai pukul 15.14 WIB. Pada fase awal ini, kolom abu mencapai sekitar 150 meter di atas puncak atau setara 307 meter dari permukaan laut.
Satu menit kemudian, GAK melakukan erupsi berikutnya. Kolom abu yang teramati pada erupsi kedua meningkat menjadi sekitar 400 meter di atas puncak atau kurang lebih 557 meter di atas permukaan laut.
Warna abu pada erupsi awal dilaporkan kelabu hingga hitam. Dengan intensitas tebal, kolom abu bergerak ke arah timur, mengikuti dinamika angin di sekitar area letusan.
Kegiatan erupsi kembali terjadi pada pukul 18.01 WIB. Pada waktu ini, kolom abu setinggi sekitar 150 meter teramati bergerak ke arah timur laut.
Belum berhenti, GAK kembali meletus pada pukul 18.26 WIB. Laporan menyebut kolom abu mencapai sekitar 300 meter pada erupsi tersebut.
Erupsi berikutnya berlangsung pada pukul 18.35 WIB. Kolom abu pada letusan ini tercatat dengan ketinggian serupa, disertai warna abu hitam dan intensitas tebal yang jelas terlihat pada pengamatan.
Memasuki malam, dua erupsi berikutnya terjadi dalam waktu berdekatan, yakni pukul 19.43 WIB dan 19.44 WIB. Kedua letusan ini tidak dapat diamati secara visual, tetapi tetap terekam oleh seismograf.
Berita Terkait
- Kecamatan Reok, NTT Tanpa Listrik dan Sempat Terisolasi Setelah Gempa, Warga: Seperti Kota Mati
- Mobil MBG Bagikan Ompreng untuk Anak-anak saat Karnaval HUT ke-81 RI di Bundaran HI
- Gede Harimbawa: ‘Korban bukan meninggal akibat tertimpa reruntuhan bangunan, tetapi karena kondisi kesehatan yang menurun saat berada di pengungsian’ — Wilhelmus Separ (85) & Geraldus Ngala (10 bulan) wafat di pengungsian Ngada setelah gempa
Untuk erupsi pukul 19.43 WIB, seismograf mencatat amplitudo maksimum sebesar 51 milimeter. Pada letusan berikutnya pukul 19.44 WIB, amplitudo maksimum juga tercatat 51 milimeter.
Selain amplitudo, durasi erupsi pada pukul 19.44 WIB turut dilaporkan, yaitu berlangsung sekitar 92 detik. Dengan demikian, rangkaian aktivitas pada periode sore hingga malam itu tercatat berlangsung dari pukul 15.14 WIB hingga 19.44 WIB.
Dalam rangkuman pemantauan, Magma Indonesia juga mencatat bahwa pada periode tersebut dua erupsi terakhir tidak teramati secara visual, namun aktivitasnya tetap terekam jelas melalui pencatatan seismograf. Status siaga level III juga disebutkan dalam konteks pemantauan aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Dengan total tujuh erupsi dalam waktu yang relatif berdekatan, perhatian diarahkan pada perubahan tinggi kolom abu, arah pergerakan abu, serta sinyal seismik yang menyertai setiap fase letusan. Informasi ketinggian kolom abu dan parameter amplitudo menjadi rujukan penting untuk memahami karakter erupsi yang muncul pada Senin sore hingga malam tersebut.
Pola aktivitas pada Senin sore hingga malam itu memperlihatkan jeda yang relatif rapat antar-lonjakan. Setelah erupsi pertama pada 15.14 WIB dengan kolom abu sekitar 150 meter, satu menit kemudian ketinggian meningkat menjadi sekitar 400 meter. Pada fase berikutnya, pengamatan tetap menyoroti perubahan ketinggian kolom abu di tiap fase letusan.
Selain tinggi kolom abu, laporan juga menegaskan adanya konsistensi karakter visual pada erupsi awal. Abu disebut berwarna kelabu hingga hitam, dengan intensitas yang terlihat tebal. Pergerakan kolom abu pada bagian awal bergerak ke arah timur, dan pada waktu selanjutnya arah yang teramati bergeser ke timur laut serta timur laut-bagian utara pada jeda waktu yang tercatat.
Pada menjelang malam, dua erupsi terakhir masuk ke fase yang tidak bisa diamati secara visual. Kendati demikian, pencatatan seismograf tetap menunjukkan sinyal yang nyata: amplitudo maksimum pada 19.43 WIB tercatat 51 milimeter, dan pada 19.44 WIB juga sebesar 51 milimeter. Untuk letusan di 19.44 WIB, durasi disebut berlangsung sekitar 92 detik sehingga memperpanjang gambaran rentang aktivitas hingga akhir periode pemantauan.
Dalam rangka pemantauan, Magma Indonesia menempatkan sinyal letusan pada periode tersebut sebagai bahan pembacaan dinamika Gunung Anak Krakatau. Perhatian diarahkan pada perkembangan tinggi kolom abu, arah pergerakan abu, serta parameter seismik yang menyertai setiap fase letusan. Disebutkannya status siaga level III turut menegaskan bahwa rangkaian tujuh erupsi dalam rentang waktu yang berdekatan tetap diperlakukan sebagai aktivitas yang perlu terus dicermati melalui kombinasi pengamatan visual dan pencatatan seismograf.












