Peristiwa

Posko Pengungsian Reok di Manggarai Kewalahan Tangani Lonjakan Diare dan ISPA Usai Gempa NTT Magnitudo 7,7

×

Posko Pengungsian Reok di Manggarai Kewalahan Tangani Lonjakan Diare dan ISPA Usai Gempa NTT Magnitudo 7,7

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Posko Pengungsian Reok Kebanjiran Pasien Diare dan ISPA Usai Gempa NTT M 7,7

jurnalistik.co.id – Posko pengungsian Reok di Manggarai, Nusa Tenggara Timur, menunjukkan peningkatan kebutuhan layanan kesehatan menyusul gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores. Di Posko Golo Conggo, Kecamatan Reok, tenda medis kini menangani lebih banyak pasien dengan keluhan diare dan infeksi saluran pernapasan akut (ISPA).

Koordinator Tenda Medis Posko Golo Conggo, Patrisius Adiguna Baso, mengatakan keluhan ISPA dan diare mulai sering ditemukan sejak hari ketiga setelah gempa, tepatnya pada Selasa (17/8/2026). Menurutnya, ketika jumlah korban bencana berangsur menurun, keluhan kesehatan yang muncul justru menjadi sorotan utama layanan di posko komunitas yang besar.

“Korban akibat bencana sudah mulai berkurang bahkan sudah tidak ada. Jadi sakit yang paling banyak karena kami di komunitas besar itu ya ISPA dan diare,” kata Patrisius, Jumat (21/8/2026).

Lonjakan kasus lebih banyak dialami anak-anak

Patrisius menyebut mayoritas pasien yang datang dengan keluhan tersebut adalah bayi dan anak-anak. Setiap hari, tenda medis menerima pasien dengan gejala ISPA maupun diare, sehingga antrean pemeriksaan berlangsung berulang mengikuti kedatangan warga pengungsi.

Hingga Jumat (21/8/2026), tenda medis belum menemukan pasien diare dengan kondisi dehidrasi berat. “Kebanyakan anak-anak. ISPA mungkin karena mereka bermain di panas, cuaca, dan debunya dan yang diare faktor makanan dan personal hygiene -nya,” ucap Patrisius.

Penjelasan itu menggambarkan pola keluhan yang terkait rutinitas pengungsi sehari-hari. ISPA, dalam pandangannya, kerap muncul ketika anak-anak berada di lingkungan yang panas, cuaca berdebu, serta beraktivitas di luar ruang. Sementara untuk diare, Patrisius menilai faktor makanan dan kebersihan diri (personal hygiene) menjadi hal yang perlu mendapat perhatian lebih.

Persediaan obat mulai menjadi kendala

Di tengah meningkatnya jumlah pasien, Patrisius mengatakan tenda medis menghadapi keterbatasan persediaan obat-obatan. Ia menyebut kondisi tersebut terjadi saat kebutuhan pelayanan kesehatan di posko masih berlangsung dan belum menunjukkan penurunan yang signifikan.

“Kami kewalahan terkait obat-obatan itu. Kita nanti koordinasi dengan posko kesehatan pusat yang di bawah,” ucapnya, menandai perlunya dukungan lanjutan agar layanan tetap berjalan.

Upaya koordinasi itu dilakukan karena keberlangsungan pengobatan sangat bergantung pada ketersediaan obat. Dengan adanya lonjakan keluhan, stok yang menipis dikhawatirkan menghambat penanganan harian terhadap pasien yang datang dengan gejala diare maupun ISPA.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores, NTT, pada Sabtu (15/8/2026). Peristiwa itu menyebabkan korban jiwa, luka-luka, serta kerusakan di sejumlah wilayah, dengan pusat gempa sekitar 30 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo, pada kedalaman 15 kilometer.

Pemerintah Provinsi Nusa Tenggara Timur menetapkan status tanggap darurat bencana gempa bumi selama 14 hari, mulai 15 hingga 28 Agustus 2026. Penetapan status tersebut dituangkan Gubernur NTT Emanuel Melkiades Laka Lena melalui Keputusan Gubernur NTT Nomor 305/KEP/HK/2026 tentang Status Tanggap Darurat Bencana Gempa Bumi di Provinsi NTT.

Dengan kondisi itu, posko pengungsian seperti Reok terus berupaya menyesuaikan layanan terhadap kebutuhan yang berubah seiring waktu. Setelah fase bencana awal, tenda medis menghadapi tantangan yang bergeser pada penanganan penyakit yang rentan menyerang pengungsi, terutama anak-anak, sambil memastikan dukungan logistik kesehatan tetap tersedia.

Seiring waktu setelah gempa, fokus layanan di Posko Golo Conggo bergeser. Ketika korban bencana mulai berangsur berkurang, keluhan penyakit yang muncul justru semakin menonjol dan membuat tenda medis harus terus menyesuaikan alur pemeriksaan. Patrisius menuturkan bahwa sejak hari ketiga pascagempa, antrean pemeriksaan mengikuti kedatangan warga pengungsi dari hari ke hari.

Patrisius juga merinci bahwa hingga Jumat, tenda medis belum menjumpai pasien diare dengan dehidrasi berat. Untuk ISPA, ia menilai pemicunya berkaitan dengan aktivitas anak-anak di luar ruang, terutama saat cuaca terasa panas dan kondisi lingkungan cenderung berdebu. Sedangkan diare, menurutnya, lebih banyak dipengaruhi oleh faktor makanan yang dikonsumsi serta personal hygiene.

Di tengah meningkatnya jumlah pasien, keterbatasan obat menjadi tantangan yang tidak bisa diabaikan. Patrisius menyampaikan bahwa stok obat makin menipis sementara kebutuhan layanan masih berlangsung dan belum menunjukkan penurunan yang signifikan. Karena itu, posko melakukan koordinasi dengan posko kesehatan pusat yang berada di bawahnya agar ketersediaan obat dapat terus mendukung penanganan harian untuk keluhan ISPA dan diare selama masa tanggap darurat.