jurnalistik.co.id – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) melaporkan aktivitas gempa susulan di Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih berlangsung. Hingga Minggu (23/8/2026) pukul 12.00 Wita, tercatat 5.824 kejadian gempa susulan setelah gempa utama magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah tersebut pada 15 Agustus 2026.
Pengamatan ini dilakukan oleh BMKG sebagai bagian dari pemantauan dampak pascagempa utama. Dari keseluruhan ribuan kejadian susulan itu, BMKG juga menyebut rentang magnitudo yang terukur selama periode pemantauan.
Kepala BMKG Stasiun Geofisika Kupang, Arief Tyastama, menyampaikan bahwa dari total gempa susulan, magnitudo terbesar mencapai 6,2 dan magnitudo terkecil 1,1. Pernyataan tersebut disampaikan Arief kepada Kompas.com pada Minggu siang.
“Total gempa bumi susulan 5.824 kejadian, magnitudo terbesar 6,2 dan magnitudo terkecil 1,1,” kata Arief.
Magnitudo susulan dan kejadian yang dirasakan warga
Dari 5.824 gempa susulan yang tercatat, BMKG menyebut sebanyak 32 gempa susulan memiliki magnitudo di atas 5. Selain itu, terdapat 132 gempa susulan yang dilaporkan/dirasakan oleh masyarakat di sekitar wilayah terdampak.
BMKG juga mengidentifikasi bahwa intensitas aktivitas tidak merata dari hari ke hari, tetapi menunjukkan fase peningkatan sebelum akhirnya mulai menurun. Hal ini tercermin dari distribusi kejadian pada beberapa hari setelah gempa utama.
Arief menjelaskan, aktivitas gempa susulan paling banyak terjadi pada hari keenam setelah gempa utama, tepatnya pada 20 Agustus 2026. Pada tanggal tersebut, BMKG mencatat akumulasi kejadian harian yang paling tinggi selama periode pemantauan.
“Gempa terbanyak tercatat pada hari ke-6 atau tepatnya tanggal 20 Agustus 2026, yakni sebanyak 862 kejadian gempa bumi dalam sehari,” ujar Arief.
Menurut Arief, sebagian besar pusat gempa susulan berada di wilayah laut utara Pulau Flores. Dengan posisi itu, aktivitas gempa susulan yang terpantau BMKG memperlihatkan keterkaitan dengan dinamika di area laut yang berdekatan dengan Pulau Flores.
Berita Terkait
Pola penurunan, potensi susulan 3–4 minggu
Meskipun jumlah gempa susulan masih tergolong tinggi, BMKG mulai melihat adanya pola penurunan aktivitas. Arief menyebut penilaian tersebut didasarkan pada grafik peluruhan yang menggambarkan tren penurunan kejadian dari waktu ke waktu.
Berdasarkan pola yang terlihat, BMKG memperkirakan gempa susulan masih akan berlangsung selama sekitar tiga hingga empat minggu setelah gempa utama. Perkiraan tersebut disampaikan Arief sebagai bagian dari evaluasi pemantauan pascagempa.
“Dari grafik peluruhan mulai nampak pola penurunan, sehingga gempa susulan diperkirakan berlangsung sekitar 3-4 minggu,” katanya.
BMKG juga mengimbau masyarakat agar tetap waspada terhadap kemungkinan terjadinya gempa susulan selama periode tersebut. Warga diminta memperhatikan perkembangan informasi resmi dari BMKG dan tetap mengikuti arahan yang disampaikan terkait keselamatan.
Hingga saat pemantauan yang disebutkan, angka 5.824 kejadian menggambarkan bahwa aktivitas seismik pascagempa utama masih berlangsung, dengan magnitudo yang bervariasi dari 1,1 hingga 6,2. Secara khusus, BMKG juga mencatat adanya kejadian bermagnitudo di atas 5 sebanyak 32 kali serta kejadian yang dirasakan masyarakat sebanyak 132 kali, termasuk pada fase puncak hari ke-6.
Dengan adanya tren penurunan berdasarkan grafik peluruhan, perkiraan durasi 3–4 minggu menjadi acuan penting bagi kewaspadaan ke depan. BMKG berharap masyarakat tetap siap menghadapi kemungkinan getaran susulan yang masih dapat terjadi dalam rentang waktu tersebut.
Selain mencatat akumulasi keseluruhan, BMKG juga menggambarkan bagaimana aktivitas gempa susulan tidak langsung stabil sejak awal pemantauan. Menurut Arief, terdapat fase ketika kejadian meningkat dan mencapai puncak pada hari ke-6, sebelum kemudian menunjukkan kecenderungan mereda mengikuti waktu.
Dalam penilaian itu, BMKG juga menekankan sebaran besaran gempa susulan, mulai dari magnitudo terkecil 1,1 hingga magnitudo terbesar 6,2. Untuk memudahkan pemahaman warga, Arief menyebut bahwa kejadian dengan magnitudo di atas 5 tercatat 32 kali, sementara laporan kejadian yang dirasakan masyarakat mencapai 132 kali.
BMKG memusatkan perhatian pada lokasi pusat gempa susulan yang sebagian besar berada di laut utara Pulau Flores. Dari gambaran tersebut, Arief menyampaikan aktivitas seismik yang terpantau memiliki keterkaitan dengan dinamika di area laut di sekitar Pulau Flores. Dengan pola peluruhan yang menunjukkan tren penurunan, perkiraan durasi 3–4 minggu dimaksudkan sebagai dasar kewaspadaan, disertai imbauan agar masyarakat tetap mengikuti informasi resmi dan arahan keselamatan.












