Peristiwa

Karhutla Rimbo Panjang Kampar Semakin Parah: Api Membesar, Asap Pekat Mengarah ke Jalan Lintas Sumatera

×

Karhutla Rimbo Panjang Kampar Semakin Parah: Api Membesar, Asap Pekat Mengarah ke Jalan Lintas Sumatera

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Karhutla di Rimbo Panjang Kampar, Api Membesar dan Asap Semakin Pekat

jurnalistik.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Jalan Keluarga Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, pada Minggu (23/8/2026) bertambah parah.

Pantauan di lokasi menunjukkan api semakin membesar dan melahap semak belukar pada lahan gambut.

Pada pukul 11.00 WIB, kondisi di sekitar titik api terlihat makin intens, dengan kobaran yang terus merambat.

Perubahan yang cepat itu dipicu oleh tiupan angin kencang serta cuaca yang sangat panas.

Asap dari area kebakaran mengepul dan mengarah ke pemukiman warga, sehingga jarak pandang menjadi terdampak oleh pekatnya kabut asap.

Di lapangan, petugas gabungan dari Manggala Agni, TNI, dan Polri berupaya mendekat untuk mengadang kepala api.

Namun, upaya pemadaman tidak berjalan mudah karena api terus membesar dan penyebarannya terjadi dengan cepat.

Dalam kondisi asap yang sangat pekat, petugas bahkan sempat tidak terlihat dari jarak sekitar 5 meter.

Upaya pemadaman makin berat saat petugas terlihat mundur karena kehabisan air yang digunakan untuk menyiram area yang terbakar.

Selain keterbatasan pasokan air, petugas juga kesulitan menemukan sumber air lain di sekitar lokasi.

Akibatnya, proses penanganan semakin sulit dilakukan dalam waktu yang sama, sementara kobaran terus meluas.

Saat asap menyelimuti permukiman warga, dampaknya juga terasa hingga jalan lintas Sumatera.

Di ruas tersebut, Dermawan (31) mengaku terganggu dengan keberadaan asap kebakaran gambut.

Menurut Dermawan, dirinya mengalami keluhan pernapasan dan iritasi pada mata.

“Ya, terganggu. Bikin napas sesak dan mata perih. Untung saya keluar tadi sudah pakai masker,” ujar Dermawan saat ditemui pada Minggu.

Ia menambahkan, meski merasa terganggu, jarak pandang untuk pengendara sepeda motor saat itu belum mengalami gangguan berarti.

Warga lain, Dewi (40), menyebut karhutla di dekat tempat tinggalnya sudah terjadi lebih dari sepekan.

Ia mengatakan api memang belum merapat ke rumahnya, sehingga ancaman langsung masih berada pada jarak yang relatif lebih jauh.

“Masih jauh dari titik api, cuma asap sampai ke sini. Sekarang ini pekat sekali. Kalau dampaknya belum ada terasa. Cuma agak mengganggu aktivitas,” kata Dewi.

Dewi menjelaskan bahwa saat ini asap yang pekat menjadi faktor paling terasa dalam aktivitas harian di sekitar lokasi.

Dengan kondisi yang masih intens dan asap terus mengarah ke permukiman serta jalan lintas Sumatera, penanganan karhutla menjadi sorotan agar penyebaran api tidak semakin meluas.

Warga di sekitar lokasi tetap memantau perkembangan sambil menyesuaikan aktivitas, terutama ketika asap semakin tebal dan mengganggu kenyamanan sehari-hari.

Seiring berjalannya waktu, kobaran tidak hanya bertahan di satu titik, tetapi merayap mengikuti kondisi lahan gambut dan vegetasi di sekitarnya. Tiupan angin membuat api lebih mudah menjangkau semak belukar, sementara panas ekstrem mempercepat proses penjalaran di area yang masih kering.

Di tengah upaya pemadaman, petugas menghadapi tantangan yang berlapis. Asap yang sangat tebal mengurangi kemampuan penglihatan saat mereka berada di dekat titik api, sehingga jarak pantau menjadi terbatas. Ketika persediaan air untuk penyiraman menipis dan tidak mudah menemukan sumber air lain di sekitar lokasi, langkah penanganan pun terpaksa melambat dan harus disesuaikan dengan kondisi di lapangan.

Gangguan juga terasa dari arah pemukiman dan akses jalan lintas Sumatera. Dengan kabut asap yang mengarah ke permukiman warga, orang-orang di sekitar perlu lebih waspada terhadap perubahan jarak pandang, terutama ketika kepulan asap makin pekat. Dermawan mengungkapkan dirinya merasakan keluhan pada pernapasan dan mata, serta memilih menggunakan masker agar aktivitas tetap bisa dilakukan.

Bagi sebagian warga, tekanan situasi bukan hanya muncul pada hari kejadian, melainkan sudah berlangsung sejak lebih dari sepekan. Dewi menilai ancaman langsung ke rumahnya masih berada pada jarak yang relatif aman, karena api belum merapat ke bangunan. Namun, dominasi asap membuat warga tetap melakukan pemantauan dan penyesuaian aktivitas harian, terutama saat kondisi semakin pekat dan kenyamanan sehari-hari ikut terdampak.