Peristiwa

Dua Pilot Drone Lakukan Pemetaan Udara Dampak Gempa M 7,7 di Manggarai, NTT

×

Dua Pilot Drone Lakukan Pemetaan Udara Dampak Gempa M 7,7 di Manggarai, NTT

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dampak Gempa M 7,7 Manggarai NTT Dipetakan dari Udara, 2 Pilot Drone Dikerahkan

jurnalistik.co.id – Pemkab Manggarai, Nusa Tenggara Timur (NTT), memperoleh dukungan dari Divisi Mitigasi dan Emergency Response Asosiasi Pilot Drone Indonesia untuk memperkuat pendataan dan pemetaan wilayah terdampak gempa bumi M 7,7 yang terjadi pada Sabtu (15/8/2026).

Informasi tersebut disampaikan Kompas.com dari Media Center Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Manggarai melalui pesan WhatsApp pada Minggu (23/8/2026).

Dukungan itu diwujudkan lewat pengerahan dua personel pilot drone, yaitu Lang Jiwa Noventra dan Achmad Cafin Shauma, guna melakukan pemetaan udara di sejumlah wilayah terdampak di Kabupaten Manggarai.

Kedua personel tersebut lebih dahulu tiba di Labuan Bajo pada Rabu (19/8/2026). Setelah itu, mereka melanjutkan perjalanan ke Posko Tanggap Darurat Bencana di Ruteng untuk melaporkan rencana kerja sekaligus berkoordinasi dengan tim posko.

Menjelang pelaksanaan kegiatan di lapangan, Lang Jiwa Noventra dan Achmad Cafin Shauma melakukan koordinasi dengan Posko Tanggap Darurat Bencana. Langkah ini bertujuan memastikan informasi wilayah terdampak, penetapan prioritas pemetaan, serta kebutuhan data yang diperlukan dalam mendukung penanganan bencana.

Pemetaan udara kemudian dijalankan secara bertahap. Pada tahap awal, tim pilot drone diarahkan untuk melakukan pemetaan di Desa Ranaka, Desa Wae Mulu, dan Desa Poco, Kecamatan Wae Ri’i.

Melalui tahapan awal tersebut, pemetaan dilakukan untuk memperoleh data visual dan gambaran kondisi wilayah terdampak secara lebih cepat serta lebih komprehensif.

Selanjutnya, pada Sabtu (22/8/2026), kegiatan pemetaan udara dilanjutkan di Kecamatan Cibal. Perluasan cakupan ini disusun dengan mempertimbangkan kebutuhan data bagi proses tanggap darurat.

Data hasil pemetaan diharapkan dapat mendukung proses asesmen kerusakan, identifikasi kebutuhan masyarakat, pemantauan kondisi wilayah, serta penyusunan langkah penanganan selama masa tanggap darurat.

Di sisi lain, Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Manggarai, Paulus Jeramun, menyampaikan apresiasinya atas dukungan Asosiasi Pilot Drone Indonesia.

Paulus mengatakan, pemetaan udara membantu pihak posko mendapatkan gambaran kondisi wilayah terdampak secara lebih cepat dan akurat. Ia menegaskan bahwa data visual yang dihasilkan akan menjadi salah satu bahan penting untuk memperkuat proses asesmen, pemetaan kerusakan, hingga pengambilan keputusan dalam penanganan tanggap darurat.

“Kami menyambut baik dukungan dari Asosiasi Pilot Drone Indonesia. Pemetaan udara ini sangat membantu kita untuk mendapatkan gambaran kondisi wilayah terdampak secara lebih cepat dan akurat. Data visual yang dihasilkan akan menjadi salah satu bahan penting untuk memperkuat asesmen, pemetaan kerusakan, dan pengambilan keputusan dalam penanganan tanggap darurat,” ujar Paulus yang juga merupakan Koordinator Media Center Posko Tanggap Darurat Bencana Kabupaten Manggarai.

Paulus menambahkan bahwa apabila memungkinkan, pemetaan udara akan diperluas ke seluruh kecamatan di Kabupaten Manggarai yang terdampak gempa bumi M 7,7.

Menurutnya, perluasan tersebut akan dilakukan secara bertahap dengan mempertimbangkan kondisi lapangan serta skala prioritas penanganan.

Gempa bumi M 7,7 juga berdampak pada aktivitas warga di sejumlah titik pengungsian di wilayah NTT. Salah satunya, kondisi kesehatan puluhan warga korban gempa bumi yang bertahan di tempat pengungsian Kampung Kedeng, Desa Golo Tolang, Kecamatan Kota Komba Utara, Kabupaten Manggarai Timur, NTT, mulai menurun.

Dalam konteks tersebut, upaya penguatan data dan informasi kebencanaan menjadi bagian penting agar respons tanggap darurat berjalan dengan dasar yang lebih terukur.

Pengerahan dua pilot drone ini diharapkan membantu posko dalam memetakan kondisi terdampak secara lebih cepat, sehingga rangkaian penanganan di lapangan dapat disusun lebih tepat sesuai kebutuhan yang muncul selama masa tanggap darurat.

Dengan pola pemetaan bertahap dari Desa Ranaka, Desa Wae Mulu, dan Desa Poco di Kecamatan Wae Ri’i, lalu berlanjut ke Kecamatan Cibal pada Sabtu (22/8/2026), proses pendataan di Kabupaten Manggarai terus diarahkan untuk menghasilkan gambaran wilayah yang menyeluruh.

Pada akhirnya, hasil pemetaan udara tersebut dirancang untuk memperkuat asesmen kerusakan dan mendukung pengambilan keputusan di posko, termasuk rencana perluasan pemetaan ke seluruh kecamatan terdampak apabila memungkinkan.