jurnalistik.co.id – Sekolah swasta di Jalan Pamulang Raya, Pamulang, Tangerang Selatan, mengalami dua kali penggerudukan oleh sekelompok massa. Peristiwa pertama terjadi sekitar dua hingga tiga bulan sebelumnya, sementara serangan kedua pada 22 Agustus 2026 disaksikan siswa dan sempat berdampak pada arus lalu lintas.
Seorang pedagang bernama Regi (bukan nama sebenarnya), 26, mengatakan penggerudukan awal dilakukan saat sebagian murid masih berada di lingkungan sekolah. Ia menyebut massa datang ketika anak-anak belum sepenuhnya pulang.
Regi mengaku terkejut melihat kejadian tersebut. Menurutnya, kondisi saat itu membuat suasana menjadi tidak menentu karena anak-anak masih berada di lokasi.
“Kacau yang pertama mah, posisi anak-anak tuh belum pulang semua. Jadi takutnya kan anak-anak trauma,” ujar Regi saat ditemui di sekitar lokasi kejadian pada Minggu (23/8/2026).
Dalam penggerudukan pertama, gerbang sekolah dilaporkan dirobohkan. Meski demikian, massa masih sempat memberi jalan bagi murid-murid untuk keluar saat orang tua menjemput.
Regi menuturkan kejadian pada tahap awal tidak berlangsung lama. Massa bertahan hingga sore hari sebelum akhirnya situasi berangsur mereda.
Serangan kedua terjadi pada Sabtu (22/8/2026) sore. Regi dan sejumlah pedagang lain mengaku turut menyaksikan penggerudukan yang dilakukan segerombol orang.
Saat itu, menurut Regi, massa penyerang terlebih dahulu berkumpul di area parkir pusat perbelanjaan di seberang sekolah. Sekitar pukul 16.00 WIB, mereka kemudian merobohkan gerbang dengan cara mendorongnya.
Regi menyebut gerakan massa berlangsung dalam waktu yang relatif singkat namun cukup membuat keributan. Ia juga menjelaskan bahwa saat aparat mulai berdatangan, situasi pelataran sekolah masih tetap dalam pengamatan pihak-pihak terkait.
Berita Terkait
Di dalam halaman sekolah, Regi mengatakan terdapat kelompok lain yang berjaga. Sementara itu, massa di luar mengisi area di sekitar sekolah hingga menimbulkan kepadatan di jalan.
Akibat penggerudukan kedua, arus lalu lintas sempat terhambat karena massa memenuhi kedua ruas jalan. Kondisi tersebut membuat warga yang melintas, termasuk pengendara, harus mengatur ulang perjalanan mereka.
Ketika polisi datang ke lokasi, Regi dan para pedagang lain diminta meninggalkan area tersebut. Ia menyebut petugas juga meminta pengendara sepeda motor yang berhenti di pinggir jalan untuk kembali pergi.
Regi menambahkan, para pedagang yang biasanya berjualan hingga sekitar pukul 21.00 WIB terpaksa pulang lebih awal. Ia mengatakan gangguan itu dirasakan langsung oleh aktivitas warga di sekitar lokasi.
Regi juga menyampaikan rasa tidak setuju terhadap kerusuhan yang terjadi tanpa mempertimbangkan kepentingan orang lain. Ia menyebut, selain pedagang, peristiwa tersebut turut mengganggu pejalan kaki dan pengendara di jalan raya.
Dengan dua kejadian beruntun, penggerudukan di sekolah swasta tersebut meninggalkan kekhawatiran di kalangan warga sekitar. Regi menilai perhatian terhadap keselamatan murid menjadi hal yang paling mendesak, terutama karena pada penggerudukan pertama anak-anak belum sepenuhnya pulang.
Regi menilai dua peristiwa itu menunjukkan pola yang serupa, yakni massa datang dan bergerak cepat sehingga suasana di sekitar sekolah berubah mendadak. Ia juga menggambarkan bahwa pada momen awal, keberadaan murid di lingkungan menjadi faktor yang membuat warga lebih waswas karena anak-anak masih berada di lokasi.
Menurut pengamatan Regi, ketika kejadian kedua berlangsung, keramaian tidak hanya terjadi di titik sekolah, tetapi juga merembet ke area luar yang membuat jalan semakin padat. Dampaknya terasa bagi warga sekitar maupun pengguna jalan, karena mereka harus menyesuaikan arah dan waktu perjalanan agar tidak terjebak kepadatan di sekitar pelataran.
Regi menambahkan bahwa setelah aparat mulai datang, proses penertiban dilakukan dengan mengarahkan orang-orang untuk meninggalkan area. Ia menyebut para pedagang yang sebelumnya berjualan hingga sekitar pukul 21.00 WIB akhirnya harus pulang lebih awal, dan gangguan tersebut membuat aktivitas harian di lingkungan sekitar ikut terganggu.












