jurnalistik.co.id – KupangāSeorang balita berusia dua tahun asal Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, meninggal dunia setelah mengalami sakit saat menjalani masa pengungsian pascagempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 di wilayah Flores.
Menurut keterangan kepolisian setempat, Mario Calviano, balita tersebut, meninggal pada Kamis, 20 Agustus 2026. Ia sebelumnya sempat menjalani perawatan di fasilitas kesehatan di wilayah Nagekeo sebelum akhirnya dirujuk ke Kabupaten Ngada.
AKBP Gede Harimbawa, Kapolres Ngada, membenarkan kabar tersebut. āBetul, balita tersebut meninggal tanggal 20 Agustus 2026,ā kata Gede kepada Kompas.com, Minggu (23/8/2026).
Gede menjelaskan, Mario mengalami demam tinggi hingga terjadi kejang-kejang ketika berada di lokasi pengungsian. Warga bersama petugas kemudian membawa korban ke rumah sakit terdekat di Kabupaten Nagekeo agar mendapat pertolongan medis.
Namun, kondisi Mario terus menurun sehingga dokter memutuskan untuk merujuknya ke RSUD Bajawa di Kabupaten Ngada. āKarena kondisinya tidak bagus, akhirnya dirujuk ke RSUD Bajawa, Kabupaten Ngada. Namun, setelah mendapat perawatan, dia mengalami penurunan kondisi dan meninggal dunia,ā ujar Gede.
Setelah dinyatakan meninggal, jenazah Mario kemudian dibawa kembali ke rumah duka di Kabupaten Nagekeo untuk dimakamkan. Proses penanganan tersebut dilakukan dengan melibatkan keluarga serta pihak terkait di lingkungan setempat.
Penanggung jawab posko darurat Nagekeo, Johanes D. Kristianus, juga menyampaikan hal yang sama. Ia menyatakan bahwa Mario merupakan warga Desa Tonggurambang.
Berita Terkait
Johanes merinci domisili korban, yakni warga RT 5, Kampung Puta, Desa Tonggurambang, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Ia menyebut bahwa Mario bersama kedua orangtuanya memulai pengungsian di Bukit Puta sejak 15 Agustus 2026, setelah gempa magnitudo 7,7 mengguncang Flores.
Selama berada di pengungsian, Mario kemudian mengalami sakit hingga demam tinggi. Situasi ini menjadi perhatian karena pengungsian yang mereka tempati dinilai memiliki keterbatasan fasilitas penunjang, terutama untuk penanganan kondisi kesehatan yang membutuhkan layanan cepat dan memadai.
Kasus ini, menurut penuturan petugas posko, kembali menyoroti kesiapsiagaan layanan kesehatan di ruang-ruang pengungsian pascagempa. Dalam kondisi darurat, kebutuhan medis yang tidak bisa ditunda berhadapan dengan terbatasnya sarana dan jarak rujukan antarwilayah.
Di sisi lain, upaya penanganan kebutuhan pengungsi juga terus berjalan di lokasi pengungsian. Di Kabupaten Nagekeo, ratusan pengungsi yang tinggal di tenda pengungsian dilaporkan baru dibagikan selimut dan tikar sehari menjelang kedatangan Presiden Prabowo Subianto, bersamaan dengan penambahan tenda darurat sebanyak 28 unit yang bertuliskan BNPB.
Dengan wafatnya Mario, keluarga dan warga Nagekeo menghadapi kehilangan yang datang di tengah proses pemulihan pascagempa. Peristiwa ini juga menggarisbawahi pentingnya pemantauan kesehatan khususnya bagi kelompok rentan seperti balita, sekaligus memastikan jalur rujukan medis berjalan cepat ketika kondisi memburuk.
Kematian Mario juga memunculkan gambaran tentang bagaimana penanganan medis di masa pengungsian harus berlangsung cepat, terutama saat gejala mulai memburuk. Saat berada di lokasi penampungan, demam tinggi yang dialami korban berujung kejang-kejang, sehingga warga dan petugas perlu segera mengevakuasi untuk mendapatkan layanan kesehatan.
Dalam proses rujukan, pihak kepolisian menjelaskan bahwa korban sempat menjalani perawatan di fasilitas kesehatan setempat di wilayah Nagekeo sebelum kemudian dialihkan ke Kabupaten Ngada. Setelah dirujuk, Mario memperoleh penanganan di RSUD Bajawa, namun perbaikan kondisi tidak bertahan dan akhirnya ia meninggal dunia.
Usai dinyatakan meninggal, jenazah korban dipulangkan kembali ke rumah duka di Kabupaten Nagekeo untuk dimakamkan. Langkah penanganan tersebut dilakukan dengan melibatkan keluarga dan pihak terkait setempat, di tengah situasi pemulihan pascagempa yang masih berlangsung di wilayah itu. Di sisi lain, pembagian bantuan bagi para pengungsiātermasuk selimut dan tikarāserta penambahan tenda darurat 28 unit juga terus berjalan agar kebutuhan dasar warga tetap terpenuhi selama masa tanggap darurat.












