Peristiwa

BNPB: 14 Orang Meninggal Akibat Gempa NTT Magnitudo 7,7 (Data 12.30 WIB)

×

BNPB: 14 Orang Meninggal Akibat Gempa NTT Magnitudo 7,7 (Data 12.30 WIB)

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: BNPB: 14 Orang Tewas Akibat Gempa NTT per Data 12.30 WIB

jurnalistik.co.id – BNPB menghimpun pembaruan dampak gempa bumi yang mengguncang Nusa Tenggara Timur (NTT) pada Sabtu (15/8/2026). Hingga pukul 12.30 WIB, data yang dirangkum menunjukkan adanya korban jiwa serta laporan kerusakan di beberapa daerah.

Gempa dengan magnitudo 7,7 tersebut, menurut laporan BNPB, berdampak pada sejumlah wilayah di NTT. Plt Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, menyampaikan keterangan pers terkait pemutakhiran informasi korban dan kondisi lapangan.

“Berdasarkan pemutakhiran data hingga pukul 12.30 WIB, tercatat 14 orang meninggal dunia, dua orang luka berat dan 11 orang luka ringan,” kata Berton SP Panjaitan dalam keterangan pers tertulisnya, dikutip Sabtu (15/8/2026).

Berdasarkan sebaran korban meninggal, Berton menyebutkan jumlah tersebut tercatat di beberapa kabupaten. “Korban meninggal dunia tercatat di Kabupaten Sikka sebanyak 3 orang, Kabupaten Manggarai 6 orang, dan Kabupaten Manggarai Timur 5 orang,” ungkap dia.

Sementara itu, informasi korban luka juga dilaporkan menyebar di wilayah-wilayah terdampak. “Sementara korban luka dilaporkan di Kabupaten Sikka, Kabupaten Nagekeo, Kabupaten Manggarai dan Kabupaten Manggarai Timur,” ungkap dia.

Berton menegaskan, jumlah korban yang disebutkan masih bersifat sementara. “Dalam hal ini, Berton menegaskan bahwa jumlah korban masih bersifat sementara dan dapat berubah setelah proses verifikasi dan validasi oleh BPBD bersama unsur terkait.”

Selain korban jiwa dan luka, BNPB juga mencatat dampak terhadap warga. Sekitar lima kepala keluarga terdampak akibat kejadian tersebut.

Pascagempa, warga juga melakukan evakuasi atau pengungsian mandiri. Sekitar 2.000 orang dilaporkan mengungsi setelah merasakan guncangan kuat, menyusul peringatan dini tsunami yang sempat dikeluarkan setelah gempa utama.

Di sisi kerusakan bangunan, pendataan sementara mencatat sejumlah rumah mengalami kerusakan dengan tingkat bervariasi. Dari hasil pencatatan sementara, sebanyak 54 rumah mengalami rusak berat, 9 rumah rusak sedang, dan 11 rumah rusak ringan.

Kondisi kerusakan juga menjangkau fasilitas umum. Kerusakan dilaporkan terjadi pada lima fasilitas kesehatan, satu fasilitas pendidikan, satu gudang Bulog, tiga fasilitas ibadah, dan enam kantor pemerintahan.

Berdasarkan pemutakhiran tersebut, Kabupaten Manggarai disebut menjadi salah satu wilayah dengan dampak yang relatif lebih signifikan. “Kabupaten Manggarai menjadi salah satu wilayah dengan dampak kerusakan cukup signifikan,” ucap Berton.

Untuk Kabupaten Manggarai sendiri, rincian kerusakan bangunan yang disampaikan BNPB menunjukkan dominasi rumah rusak berat. Sebanyak 29 rumah rusak berat, sembilan rumah rusak sedang, dan sembilan rumah rusak ringan, serta lima fasilitas kesehatan dan satu fasilitas pendidikan dilaporkan mengalami kerusakan.

BNPB juga merinci kerusakan pada Kabupaten Manggarai Timur dan Kabupaten Nagekeo. Di Kabupaten Manggarai Timur, tercatat 23 rumah rusak berat, sedangkan di Kabupaten Nagekeo masing-masing terdapat dua rumah rusak berat, satu rumah rusak sedang, dan dua rumah rusak ringan.

Untuk kerusakan fasilitas lain, BNPB menyebut dua fasilitas ibadah mengalami kerusakan ringan dan lima kantor pemerintahan terdampak. Rincian tersebut bagian dari total laporan kerusakan infrastruktur yang dihimpun hingga pukul 12.30 WIB.

Dalam penjelasan teknis gempa, Berton menyampaikan parameter lokasi kejadian. “Gempa utama berpusat di laut pada koordinat 8,41 Lintang Selatan dan 121,39 Bujur Timur dengan kedalaman 15 kilometer, sekitar 38 kilometer timur laut Mbay, Kabupaten Nagekeo,” kata Berton.

Dia juga menyebut durasi dan area yang merasakan guncangan kuat. “Guncangan kuat dirasakan selama kurang lebih satu menit di Kabupaten Nagekeo, Sikka, Manggarai Barat dan Kota Bima,” tambah dia.

Selain wilayah di NTT, gempa turut dilaporkan terasa di sejumlah daerah di Sulawesi Selatan. “Gempa juga dirasakan di sejumlah wilayah Sulawesi Selatan, termasuk Jeneponto, Kepulauan Selayar dan Maros,” imbuh Berton.

BNPB menempatkan pembaruan data sebagai proses yang terus berjalan seiring verifikasi lapangan oleh BPBD dan unsur terkait. Dengan demikian, angka dampak yang dihimpun hingga pukul 12.30 WIB dapat berkembang setelah proses validasi selesai dilakukan.