jurnalistik.co.id – Indonesia secara resmi menyambut kapal induk pertamanya pada Jumat (18/9/2026). Kapal bekas perang dari Italia itu tiba di Dermaga 107, Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta.
Kedatangan kapal tersebut menempatkan Indonesia sebagai negara ASEAN kedua yang memiliki kapal induk. Pemerintah menyebut kapal akan dinamai KRI Sriwijaya, dengan penamaan yang merujuk pada sejarah kerajaan maritim di Sumatera.
KRI Sriwijaya diperkirakan dapat beroperasi sekitar 15–20 tahun ke depan. Kapal ini dirancang dengan kapasitas lepas landas pendek dan pendaratan vertikal, serta penggunaan helikopter.
Dalam pengoperasiannya, KRI Sriwijaya disebut mampu menampung 14 helikopter atau lebih, bergantung pada ukuran yang digunakan. Dengan konfigurasi tersebut, kapal diharapkan bisa mendukung berbagai kebutuhan armada TNI Angkatan Laut.
Fokus pemanfaatan untuk operasi militer dan respons bencana
Kepala Angkatan Laut Muhammad Ali menyampaikan rencana pemanfaatan kapal. Ia mengatakan, “Kami ingin menggunakannya khususnya pada operasi militer selain perang, meskipun bisa dikerahkan juga dalam misi tempur jika diperlukan,” sebagaimana dikutip VN Express pada Minggu (20/9/2026).
Selain urusan operasi militer, Presiden Prabowo Subianto menekankan fungsi kapal untuk membantu penanganan bencana. Menurutnya, kapal itu akan diarahkan guna mendukung upaya memerangi bencana, termasuk kebakaran hutan dan lahan gambut.
Prabowo juga menyatakan pemerintah akan melakukan renovasi agar kapal dapat digunakan untuk helikopter dan drone. “Ini bakal membantu respon bencana kita,” ucapnya.
Dengan perubahan tersebut, kapal induk tidak hanya diproyeksikan menjadi penguat kemampuan pertahanan, tetapi juga instrumen yang lebih fleksibel dalam situasi darurat. Pemerintah menempatkan respons bencana sebagai bagian dari tujuan operasional yang lebih luas.
Berita Terkait
Kerja sama Italia dan konteks pemberian kapal
Italia memberikan kapal ITS Giuseppe Garibaldi kepada Indonesia untuk meningkatkan keterlibatan pertahanan dengan TNI. Pemberian ini disebut menjadi bagian dari kerja sama internasional di bidang pertahanan.
Dalam informasi yang disebutkan, kapal tersebut sebenarnya dijadwalkan untuk dipensiunkan pada 2024. Namun, kapal kemudian beralih menjadi aset yang disiapkan untuk digunakan oleh Indonesia melalui penyesuaian operasional.
Selain aspek kesiapan operasional, pemberian kapal juga disebut berpotensi menghemat biaya penonaktifkan kapal. Dengan demikian, transisi penggunaan kapal dari Italia ke Indonesia diarahkan agar manfaatnya dapat diteruskan.
Sebagai negara ASEAN yang telah lebih dulu memiliki kapal induk, Thailand disebut memiliki HTMS Chakri Naruebet. Kapal tersebut diresmikan pada 1997 setelah dibeli dari Spanyol dengan jet tempur AV-8S Matador.
Meski demikian, HTMS Chakri Naruebet saat ini dimanfaatkan untuk misi kemanusiaan. Kondisinya, kapal tersebut sudah tidak mengoperasikan jet tempur sehingga penggunaannya bergeser ke fungsi lain yang relevan.
Dari sisi spesifikasi, HTMS Chakri Naruebet memiliki bobot 11.500 ton, panjang 182 meter, kecepatan 25 knot, serta diawaki 450 personel. Rinciannya menunjukkan ukuran dan skala operasional kapal yang menjadi pembanding di kawasan.
Sementara itu, Giuseppe Garibaldi disebut berukuran lebih besar dibanding kapal milik Thailand. Kapal ini memiliki bobot 13.800 ton, panjang 180 meter, dengan kecepatan hingga 30 knot, serta membutuhkan 550 personel.
Perbedaan ukuran dan jumlah personel itu menjadi salah satu alasan mengapa pengalihan fungsi menjadi strategi penting dalam tahap persiapan. Bagi Indonesia, penyesuaian desain dan kemampuan yang dibutuhkan akan menentukan bagaimana KRI Sriwijaya dioptimalkan setelah proses kedatangan.
Dengan langkah yang sedang berlangsung, Indonesia berharap kapal induk yang dimiliki bisa memperkuat operasi pertahanan sekaligus memperluas dukungan dalam penanganan bencana. Mulai dari operasi militer hingga respons darurat, KRI Sriwijaya diposisikan sebagai platform yang memiliki nilai strategis jangka panjang.












