jurnalistik.co.id – BNPB melalui Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Suharyanto, menyiagakan respons karhutla di Kalimantan Barat dan Kalimantan Tengah. Langkah itu mencakup penguatan personel serta penambahan operasi dari udara dan darat.
Penyiagaan dilakukan dengan menempatkan Satuan Tugas (Satgas) Udara untuk pemadaman kebakaran hutan dan lahan. Dalam penjelasannya, Suharyanto menyebut bahwa pemerintah mengaktifkan beberapa unsur yang saling melengkapi agar penanganan lebih cepat dan terarah.
Suharyanto menjelaskan, “Upaya pemerintah Indonesia sendiri selain menyiagakan Satgas Udara dengan 10 Heli WB ( helicopter water bombing ), 5 heli patroli dan 2 pesawat OMC ( operasi modifikasi cuaca ) di Kalbar dan Kalteng,” kata Suharyanto kepada Kompas.com, Rabu (12/8/2026). Pernyataan tersebut menegaskan fokus operasi di dua wilayah terdampak tersebut.
Selain penguatan dari udara, BNPB juga mengerahkan Satgas Darat. Operasi darat diarahkan untuk membantu pengendalian karhutla di sepanjang perbatasan Indonesia dan Malaysia, karena sebaran asap tidak hanya berhenti di wilayah domestik.
Menurut Suharyanto, upaya operasi modifikasi cuaca (OMC) juga telah berjalan sejak April 2026. Ia menyampaikan bahwa OMC terus dilaksanakan sebagai bagian dari strategi memperkuat respons ketika kondisi asap memburuk dan mengganggu aktivitas.
Ia menambahkan, “Pada bulan April 2026 juga telah dilakukan OMC serta ditambah kekuatan ribuan personel Satgas Darat menjadi kekuatan utama dalam pengendalian karhutla yang ada di Kalbar dan Kalteng,” ujarnya. Dengan demikian, penguatan tidak hanya bertumpu pada alat, tetapi juga pada kapasitas di lapangan yang diperluas melalui penambahan personel.
BNPB juga menilai potensi pergerakan asap ke wilayah Sarawak, Malaysia. Suharyanto menyampaikan bahwa perpindahan asap dapat terjadi karena titik api yang tersebar di area perbatasan, sehingga asap yang terbentuk bisa ikut terbawa ke arah tersebut.
Meski demikian, BNPB menegaskan bahwa titik sebaran api tidak sepenuhnya berasal dari Indonesia. Suharyanto menyebut adanya hotspot di Sarawak yang ikut memengaruhi kondisi kabut asap di sana, terutama berdasarkan data sebaran yang digunakan untuk memantau titik panas.
Berita Terkait
Ia menyatakan, “Titik hotspot juga terdapat di wilayah Sarawak Malaysia sehingga kabut asap yang ada di sana tidak sepenuhnya dari Indonesia jika kita melihat data sebaran HS dari Sumber FIRM Nasa tanggal 10 Agustus 2026,” ucapnya. Pernyataan itu menunjukkan adanya evaluasi berbasis data pemantauan titik panas pada waktu tertentu.
Dalam pelaksanaan OMC, BNPB memastikan adanya kerja sama dengan Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG). Kolaborasi tersebut dilakukan agar operasi modifikasi cuaca tetap berjalan berdasarkan pertimbangan meteorologi dan kondisi aktual di lapangan.
Dampak kabut asap di Sarawak dan penutupan sekolah
Kondisi kabut asap yang melanda sejumlah wilayah di Sarawak, Malaysia, disebut berdampak pada kegiatan belajar mengajar. Pada periode sebelumnya, sekolah-sekolah di kawasan Tebedu yang berada dekat perbatasan Malaysia–Indonesia ditutup sementara.
Penutupan dilakukan setelah Indeks Pencemaran Udara (IPU) di wilayah tersebut menembus angka 200. Dengan naiknya tingkat pencemaran, otoritas terkait mengambil langkah pencegahan untuk menjaga keselamatan serta kesehatan siswa dan warga sekolah.
Enam sekolah yang ditutup adalah Sekolah Kebangsaan (SK) Sejijag, SK Sungai Sameran, SK Tepoi, SK Entubuh, SK Temong, dan SK Tema. Keputusan tersebut tercatat sebagai langkah perlindungan sesuai prosedur pada saat kualitas udara memburuk.
Berdasarkan laporan Harian Metro Malaysia, penutupan dilakukan sebagai langkah pencegahan untuk melindungi kesehatan dan keselamatan siswa serta seluruh warga sekolah. Dari sisi kelembagaan, Jabatan Pendidikan Negeri Sarawak (JPNS) pada Rabu (12/8/2026) menyatakan penutupan dilakukan sesuai ketentuan Kementerian Pendidikan Malaysia (KPM) terkait kondisi kabut asap.
Dalam konteks yang sama, perhatian terhadap karhutla lintas negara menjadi semakin penting karena kabut asap dapat menyeberang mengikuti pergerakan udara. BNPB melalui kombinasi Satgas Udara, Satgas Darat, serta OMC sejak April 2026 berupaya menekan kebakaran sekaligus mengurangi dampak yang dirasakan hingga wilayah Sarawak.
Dengan adanya penyiagaan Satgas Udara—meliputi 10 helikopter water bombing, 5 helikopter patroli, dan 2 pesawat operasi modifikasi cuaca—operasi diarahkan untuk meningkatkan respons di Kalbar dan Kalteng. Pada saat yang sama, penguatan personel di lapangan dan kerja sama teknis dengan BMKG memperlihatkan bahwa strategi penanganan tidak berdiri sendiri, melainkan saling menguatkan.












