jurnalistik.co.id – Kabut asap yang menyelimuti Desa Rimbo Panjang, Kecamatan Tambang, Kabupaten Kampar, Riau, tidak menghentikan langkah Nurhayati (60) pada Sabtu (22/8/2026) pagi. Di tengah hari ke-11 karhutla, ia tetap menjemur kerupuk opak di halaman rumahnya, tepat di Jalan Keluarga.
Pada pukul 08.00 WIB, Nurhayati tampak sudah bekerja. Asap yang terlihat sangat pekat membuat aktivitas luar ruang terasa menekan, namun pekerjaan tetap dijalankan.
Jarak sumber api dengan rumahnya hanya sekitar 20 meter. Kondisi itu membuat Nurhayati harus beraktivitas dalam situasi yang terus berubah, sementara titik panas masih berada dekat dengan pemukiman.
Nurhayati menceritakan bahwa karhutla di sekitar rumahnya sudah masuk hari ke-11. “Rumah kami dikepung api karhutla sekarang ini. Ini jarak apinya dekat sekali. Asap cukup pekat,” ujarnya saat ditemui.
Dalam situasi demikian, ia tidak sendirian. Nurhayati menyebut ia berada bersama keluarga di rumah, termasuk suami dan anaknya: “Saya di sini sama suami dan anak,” katanya.
Asap karhutla berdampak langsung pada keseharian mereka. Nurhayati mengatakan keluarganya merasakan sesak napas hingga mata terasa perih ketika harus tetap berada di sekitar area rumah yang dipenuhi kabut.
Meski keluhan kesehatan muncul, kegiatan membuat kerupuk opak tetap berjalan. “Ya, masih tetap kerja untuk hidup. Kami di sini sudah lima tahun jadi pengrajin opak ,” kata Nurhayati, menegaskan bahwa pekerjaan rumahan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas keluarga.
Aktivitas tetap berjalan meski asap pekat Nurhayati menuturkan bahwa asap di rumahnya paling terasa pada pagi dan malam. Pada jam-jam tersebut, ia dan keluarganya menghadapi konsentrasi kabut yang membuat pernapasan dan penglihatan tidak nyaman.
Berita Terkait
Di sela kondisi yang membatasi, ia tetap melanjutkan proses menjemur kerupuk opak. Baginya, usaha yang telah dijalani selama bertahun-tahun tidak bisa begitu saja dihentikan, terlebih ketika kebutuhan ekonomi tetap harus dipenuhi.
Aktivitas Nurhayati menunjukkan bahwa di lokasi yang terdampak, pekerjaan harian seringkali berlangsung berdampingan dengan upaya penanganan kebakaran hutan dan lahan. Di area sekitar pemukiman, petugas gabungan dari Manggala Agni, kepolisian, dan TNI juga tengah bersiap untuk memadamkan api.
Menurut pantauan, petugas melakukan penyekatan untuk menghadang bagian api yang mengarah ke rumah warga. Upaya tersebut dilakukan saat situasi kabut asap masih sangat pekat dan ancaman dekat dengan bangunan-bangunan di sekitar Jalan Keluarga.
Di saat yang sama, Nurhayati tetap berusaha menyelesaikan pekerjaan yang ia mulai sejak pagi. Ia menjalankan proses pembuatan dan penjemuran sebagai upaya menjaga keberlangsungan usaha pengrajin opak yang sudah mereka jalankan selama lima tahun.
Hari ke-11 karhutla tidak hanya terlihat dari kepulan asap yang menutup pandangan, tetapi juga dari pilihan warga untuk tetap bekerja dalam keterbatasan. Nurhayati menggambarkan kegigihan itu melalui keputusan untuk terus menjemur kerupuk opak, meski jarak titik api dengan rumahnya hanya sekitar 20 meter dan dampak asap sudah mereka rasakan sejak awal.
Bagi Nurhayati, kerja yang tidak berhenti adalah cara bertahan menghadapi situasi darurat. Ia tetap menjalankan aktivitas bersama suami dan anak, sambil menunggu penanganan petugas yang berupaya menahan api agar tidak merambat lebih dekat ke lingkungan tempat tinggalnya.
Nurhayati mengaku tetap mengikuti pola kerja yang sudah terbentuk sejak lama, meski asap semakin menebal. Ia menyesuaikan waktu berada di luar dengan kondisi kabut, lalu mengalihkan perhatian ke proses berikutnya agar kerupuk opak tidak tertunda terlalu lama.
Di sela upaya warga menjaga kelangsungan usaha, suasana di sekitar Jalan Keluarga juga menunjukkan adanya koordinasi penanganan kebakaran. Nurhayati menuturkan keberadaan petugas yang terus bergerak membuat ia berharap api tidak makin mendekat, sementara ia dan keluarganya berupaya bertahan menjalani hari ke-11 karhutla itu.












