Teknologi

Tiga Link dan Aplikasi untuk Memantau Titik Karhutla di Kalimantan

×

Tiga Link dan Aplikasi untuk Memantau Titik Karhutla di Kalimantan

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 3 Link dan Aplikasi Pantau Titik Kebakaran Hutan Kalimantan

jurnalistik.co.id – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan masih menjadi perhatian luas setelah ribuan titik panas terdeteksi di berbagai wilayah. Dalam laporan Kompas.com (21 Agustus 2026, 20:05 WIB), kondisi ini disebut memicu dampak serius terhadap kualitas udara dan jarak pandang.

Berdasarkan data BNPB, total hotspot di Kalimantan mencapai 1.487 titik. Konsentrasi tertinggi berada di Kalimantan Tengah sebanyak 767 titik, disusul Kalimantan Barat 560 titik, sementara Kalimantan Selatan dan Kalimantan Timur masing-masing tercatat 74 titik. Kalimantan Utara disebut memiliki 3 titik.

Di Palangka Raya, kualitas udara dilaporkan mencapai AQI 487 yang masuk kategori berbahaya. Di beberapa wilayah lain, jarak pandang juga dilaporkan hanya sekitar 1,4 kilometer.

Situasi tersebut diperparah oleh fenomena El Nino yang disebut ikut mempercepat penyebaran api di lahan gambut yang kering. Di media sosial, tagar #prayforKalimantan ramai digunakan seiring keresahan warganet yang menemukan penanda “severe fire” muncul di hampir seluruh wilayah Kalimantan pada Google Maps.

Jika Anda ingin memantau titik api karhutla secara lebih mandiri dari ponsel, berikut tiga tautan dan aplikasi yang dapat digunakan. Pemeriksaan berkala dapat membantu Anda mengikuti perubahan sebaran hotspot dari waktu ke waktu.

Sipongi, peta hotspot resmi Kementerian Kehutanan

Aplikasi Sipongi (Sistem Informasi Pengendalian Kebakaran Hutan dan Lahan) adalah platform resmi milik Kementerian Kehutanan yang menyediakan peta sebaran hotspot di seluruh Indonesia secara berkala. Data hotspot di Sipongi diperbarui setiap hari, sehingga Anda dapat melihat perkembangan titik api karhutla terbaru tiap harinya.

Sipongi bisa diakses lewat browser maupun melalui aplikasi mobile yang tersedia di Google Play Store. Anda dapat membuka layanan melalui halaman peta Sipongi.

Untuk pengecekan melalui aplikasi, unduh dan instal aplikasi Sipongi+ dari Google Play Store. Setelah dibuka, tampilan utama akan langsung menampilkan peta hotspot dengan titik-titik berwarna yang menggambarkan tingkat kerawanan.

Anda bisa menelusuri detail dengan mengetuk titik pada peta. Selain itu, daftar lengkap hotspot juga dapat dilihat melalui menu Info Hotspot.

Jika ingin menyesuaikan tampilan, gunakan tombol filter untuk mengatur peta berdasarkan satelit dan layer. Anda juga dapat memilih wilayah tertentu lewat tombol di header untuk menyaring peta berdasarkan provinsi.

Saat ada pembaruan, Anda dapat memantau info terbaru melalui pop-up notifikasi yang muncul otomatis ketika terjadi update hotspot atau berita terkini.

Google Maps, pemantauan lewat lapisan (layers)

Selain Sipongi, Google Maps juga bisa dimanfaatkan untuk memantau titik kebakaran hutan secara langsung melalui fitur lapisan (layers) di ponsel. Data kebakaran di Google Maps disebut bersumber dari beberapa lembaga satelit resmi seperti NASA, NOAA, dan JMA.

Meski demikian, informasi yang tampil disebut bersifat perkiraan dan bukan acuan pasti. Karena itu, verifikasi tetap disarankan dengan merujuk ke sumber resmi seperti BNPB atau BMKG.

Dengan menggunakan lapisan yang relevan, Anda bisa melihat perubahan penanda di wilayah yang Anda pantau, lalu menindaklanjuti dengan pengecekan dari kanal resmi bila diperlukan.

Google Earth untuk melihat sebaran fire and heat spots

Pada perangkat, Anda juga bisa menggunakan Google Earth untuk melihat tampilan “fire and heat spots” di kawasan yang sedang mendapat perhatian. Platform ini dapat membantu Anda memvisualisasikan sebaran titik panas dari perspektif tampilan globe.

Pengamatan menggunakan Google Earth dapat dipakai sebagai cara tambahan untuk mengikuti perubahan lokasi yang terdampak, selaras dengan kebutuhan pemantauan dari waktu ke waktu.

Rangkuman penggunaan untuk pemantauan harian

Dengan kombinasi Sipongi, Google Maps layers, dan Google Earth, Anda memperoleh beberapa cara untuk mengecek titik api karhutla. Pada Sipongi, data diperbarui setiap hari sehingga cocok untuk pemantauan perkembangan terbaru.

Sementara itu, pada Google Maps, tampilan berbasis layers memberi gambaran dari data satelit yang mencantumkan sumber seperti NASA, NOAA, dan JMA. Informasi perkiraan tetap perlu diimbangi dengan verifikasi ke sumber resmi, terutama ketika Anda ingin memastikan perkembangan yang paling aktual dan akurat.

Di tengah kondisi hotspot yang dilaporkan mencapai 1.487 titik serta dampak kualitas udara dan jarak pandang, pemantauan mandiri dapat membantu Anda mengetahui gambaran situasi di wilayah yang Anda pantau. Tetaplah menyesuaikan cara cek dengan kebutuhan, dan gunakan rujukan resmi sebagai pegangan utama.