Teknologi

Kerabat Dolly Parton Desak Hentikan Postingan “AI garbage” setelah Penyanyi Wafat

×

Kerabat Dolly Parton Desak Hentikan Postingan “AI garbage” setelah Penyanyi Wafat

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Dolly Parton's sister pleads for end to 'AI garbage' posts after singer's death

jurnalistik.co.id – Setelah Dolly Parton wafat pada 25 Agustus di usia 80 tahun, beragam unggahan buatan kecerdasan buatan (AI) mulai beredar luas. Dari lagu hingga gambar dan video, sebagian di antaranya dikemas sebagai bentuk penghormatan, namun justru memicu protes dari keluarga Parton.

Stella Parton, saudara perempuan Dolly Parton, menyampaikan permohonan kepada para penggemar terkait unggahan yang ia sebut sebagai “fake AI garbage”. Dalam unggahan Instagramnya, Stella mengucapkan terima kasih kepada mereka yang menunjukkan “genuine support” bagi sang bintang dan keluarganya, tetapi ia menegaskan bahwa situasi yang mereka hadapi tidak mudah.

Stella mengatakan “tremendous amount of AI and endless garbage being posted” muncul dalam jumlah besar, sehingga “challenging to absorb”. Ia kemudian meminta agar orang-orang menunjukkan “more compassion” dalam merespons kepergian Parton.

Permohonan serupa juga pernah disuarakan keluarga tokoh publik lain. Pada Oktober, Zelda Williams—putri Robin Williams—meminta penggemar berhenti mengirim video palsu buatan AI dari ayahnya.

Di waktu yang tak lama setelahnya, permintaan tersebut turut dibagikan oleh Bernice A King, putri Dr Martin Luther King Jr. Bernice A King meminta pengguna untuk “please stop” dalam sebuah postingan Instagram.

Kurang lebih sebulan setelah itu, Amy—putri Robert Redford—juga berbicara soal konten AI yang dibuat untuk memberi penghormatan kepada sang aktor setelah ia meninggal pada September tahun lalu. Ia menekankan bahwa rasa sakit dan kehilangan adalah bagian dari hidup manusia, dan keluarga tidak kebal terhadapnya.

Dalam postingan Instagramnya pada Jumat, Parton menuliskan, “Every human being experiences pain and loss in life and my family is no different”. Ia menambahkan, “Sadly, because of the way our lives have been lived in front of the public, we have no choice but to be subjected to incredible pressure and insensitivity from strangers.”

Parton juga menyinggung adanya arus unggahan AI serta “garbage” yang dinilainya terus bertambah. Ia memperingatkan bahwa pihak-pihak yang memanfaatkan kehilangan dan tragedi orang lain setiap hari akan beralih ke “next stampede of endless misinformation”.

Selain itu, Parton meminta agar orang-orang menoleh pada teladan toleransi yang ia sebut dari kehidupan sang saudara. Ia juga menyatakan, “It’s not about the most clever comments, fake AI garbage or snarky tweets.”

AI tribute dan “garbage” yang beredar

Ketersediaan beragam alat AI memungkinkan teks, gambar, video, dan audio dihasilkan dengan cepat. Dalam suasana duka Parton, sejumlah orang memanfaatkannya untuk menyusun postingan penghormatan terhadap selebritas yang telah meninggal.

Sejak Parton wafat pada akhir Agustus, puluhan lagu, gambar, dan video buatan AI telah muncul di internet. Donald Trump termasuk di antara tokoh yang ikut membagikan materi seperti itu, melalui Truth Social, dengan mengunggah “AI-generated image” dirinya bersama Parton berpose lengan berpegangan.

Di platform lain, sebuah gambar AI yang dikritik juga beredar di Instagram dan X. Gambar tersebut menampilkan Parton tanpa riasan dan tanpa wig, sehingga memicu respons beragam di antara pengguna.

Salah satu pengguna X menggambarkannya sebagai “incredibly weird”, sementara pengguna lain menyebutnya sebagai “violation”. Polemik semacam ini muncul karena konten dapat disusun sedemikian rupa sehingga tampak meyakinkan, tetapi mengandung elemen palsu yang memicu ketidaknyamanan bagi keluarga.

Di YouTube, terdapat unggahan “heartfelt fan-made tribute by Miley Cyrus” untuk Dolly Parton sebagai “godmother” dan dinyanyikan dengan gaya penyanyi “Wrecking Ball”. Video tersebut telah ditonton lebih dari 1,5 juta kali.

Meski demikian, deskripsi video memuat label AI dan penafian bahwa karya itu bukan “official release by Miley Cyrus or Dolly Parton’s representatives”. Meski ada penanda tersebut, banyak komentar tetap ditulis seolah unggahan itu benar-benar terkait penghormatan resmi, termasuk ucapan terima kasih kepada Cyrus untuk “perfect tribute”.

Uraian serupa juga terlihat pada berbagai penghormatan buatan AI yang meniru gaya penyanyi lain. Di antaranya, tribute bergaya Pink dan Celine Dion juga banyak ditonton secara daring.

Perhatian Dolly Parton terhadap dampak AI pada seniman

Dolly Parton sendiri pernah menyatakan kekhawatiran mengenai kemungkinan AI memengaruhi pekerjaan kreatif para seniman. Pada 2023, ia mengatakan kepada The Hollywood Reporter bahwa ia percaya AI akan “going to be great for a lot of things, like science and medicine”.

Namun, Parton menegaskan gagasan AI menggantikan manusia justru membuatnya takut. Ia berkata, “That’s like the mark of the beast. It’s like you can’t remake a person”.

Ia menambahkan, “I want to just leave a body of work behind. I think all this stuff can be great, used in the right way.” Bagian yang ia tekankan berikutnya adalah batas yang tidak boleh dilewati: “But not to replace voices and writings and not to replace a human being that belongs to God.”

Dalam konteks wafatnya Dolly Parton, permohonan keluarga untuk menghentikan postingan “AI garbage” menjadi semacam pengingat bahwa penghormatan yang salah sasaran atau disusun dengan keliru dapat menambah tekanan bagi orang-orang yang sedang berduka. Stella Parton dan Dolly Parton sama-sama mengarahkan perhatian pada kebutuhan akan empati, ketimbang memeriahkan arus unggahan palsu yang terus menyebarkan “endless misinformation”.