jurnalistik.co.id – Protes anti-migran yang terjadi pada akhir pekan ini mempertemukan dua peristiwa di lokasi berbeda: Dover dan Portsmouth. Kedua aksi tersebut digerakkan oleh satu figur yang disebut-sebut, Danny Thomas, yang lebih dikenal sebagai Danny Tommo, serta sejumlah keputusan di sisi penanganan imigrasi yang dianggap memudahkan mobilisasi dukungan.
Di Dover, ratusan orang terlihat beraksi dengan penampilan serba hitam dan penutup wajah balaclava. Mereka dilaporkan menghalangi jalan utama kota itu selama beberapa jam. Aksi tersebut disebut terorganisasi oleh Thomas, yang menurut laporan baru muncul setelah berminggu-minggu persiapan pada musim panas.
Thomas, berasal dari Hayling Island dekat Portsmouth, juga dikaitkan dengan kehadirannya saat protes di Portsmouth. Di sana, kerumunan mencoba menghambat kendaraan yang membawa para migran. Pemerintah kemudian mengecam perilaku “intimidating and thuggish behaviour” dari para demonstran, sembari menegaskan bahwa hak untuk protes damai adalah hal mendasar dalam demokrasi, tetapi tidak boleh melewati batas hingga berubah menjadi kekacauan.
Peran Danny Thomas dan momentum yang dimanfaatkan
Hubungan kedua aksi itu dijelaskan melalui rangkaian waktu yang saling berkait. Ketika Border Force harus menentukan titik di mana tim RNLI akan menurunkan para migran setelah sebuah penyeberangan yang lebih lama di English Channel berangkat dari Baie de Seine, keputusan yang diambil adalah menggunakan Eastney landing stage. Pilihan lokasi itu dinilai sangat dekat dengan area yang juga menjadi titik keberangkatan feri penumpang Portsmouth menuju Hayling Island.
Laporan menyebut bahwa keputusan tersebut, apakah lahir dari ketidaktahuan atau ketidakmampuan, membuat Thomas lebih mudah mengumpulkan dukungan lokal menjelang akhir Minggu. Mobilisasi itu dilakukan “late on Sunday” melalui media sosial, sehingga dukungan yang sebelumnya disiapkan dapat langsung diaktifkan ketika momentum muncul.
Thomas sendiri digambarkan sebagai kampanye jangka panjang melawan migran. Ia juga menyatakan dirinya seorang Kristiani. Dalam protes di Dover, teriakan “Christ is King!” terdengar bersamaan dengan slogan “Stop the boats!”.
Riwayat dan jaringan aktivisme
Thomas pertama kali mendapatkan perhatian publik pada 2016. Ia menjalani hukuman penjara selama dua tahun setelah mengaku bersalah melakukan upaya penculikan terhadap seorang pria bernama Graham Page, dengan ancaman menggunakan pisau.
Setelah keluar dari penjara, Thomas kemudian menjadi sosok yang disebut dekat dengan aktivis anti-migran dan anti-Muslim Tommy Robinson. Nama asli Robinson disebut sebagai Stephen Yaxley-Lennon. Dalam laporan yang sama, keterkaitan itu dikatakan tampak tidak lagi seerat sebelumnya, meskipun Robinson menyatakan dukungan terhadap protes akhir pekan ini.
Menurut laporan, dalam setahun terakhir Thomas mengunggah rekaman saat ia berada di pantai Prancis untuk melecehkan para migran, lalu membagikannya ke media sosial. Ia juga mengumumkan adanya sebuah inisiatif baru pada bulan Juli, dengan nama Patriot Platform. Dalam pengumuman tersebut, Thomas didorong untuk menggalang dukungan bagi yang ia sebut “mass resistance”, dengan penegasan bahwa gerakan itu tidak mengarah pada kekerasan.
Patriot Platform digambarkan sebagai gerakan dari “the sons and daughters of this island” yang bertujuan “take our country back”. Dalam sebuah video yang diposting pada hari Rabu—dan disebut tampaknya direkam bersama para pendukung di wilayah Inggris barat laut—Thomas menyampaikan kepada sekelompok pria di lapangan permainan bahwa “something is about to go down and men from all round the country will be involved in it”.
Berita Terkait
Ia juga mengatakan, “Once we pull this off it will snowball in the entire country”. Di bagian lain klip tersebut, ia menyebut gerakan perlu “boxing clever” dan menjalankan “discipline”. Thomas kemudian menyinggung konsekuensi dengan kalimat, “We create a violent movement now, what do you think is gonna happen? We’ll get nicked,”.
Karakter protes Dover dan sikap institusi
Protes Dover digambarkan sebagai aksi pertama kelompok tersebut yang dijalankan dengan perencanaan dan disiplin yang baik. Laporan menilai aksi itu kemungkinan bukan yang terakhir. Dalam cara pelaksanaannya, Thomas disebut seolah “borrowing ideas” dari kelompok seperti Just Stop Oil, yakni mengandalkan protes visual yang kuat untuk memaksimalkan gangguan.
Polisi Kent menggambarkan protes di Dover sebagai “spontaneous”. Namun, pihak berwenang kemudian menghadapi pertanyaan terkait mengapa mereka tidak mengetahui rencana tersebut sebelumnya. Sementara itu, pemerintah menekankan bahwa kendati hak protes damai bersifat fundamental, perilaku yang mengintimidasi dan menyerupai tindakan premanisme tidak bisa dibiarkan.
Angka penyeberangan perahu kecil dan konteks kebijakan
Untuk memahami konteks yang melingkupi protes, laporan turut memuat sejumlah data mengenai penyeberangan melalui perahu kecil. Antara 1 Januari hingga 5 September 2026, tercatat total 16,513 orang menyeberang English Channel dari Prancis dengan perahu kecil, angka itu turun 43% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Penyeberangan menggunakan perahu kecil menjadi cara yang paling umum untuk mendeteksi kedatangan secara ilegal ke Inggris sejak 2020. Hampir semua orang yang tiba melalui jalur ini mengajukan klaim suaka. Berdasarkan hukum internasional, klaim tersebut memberi hak kepada mereka untuk tetap berada di negara itu sementara permohonan suaka diproses.
Dalam rentang Juli 2025 hingga Juni 2026, kedatangan melalui perahu kecil menyumbang 40% dari aplikasi suaka. Pada periode 6 September 2025 hingga 5 September 2026, perahu-perahu yang tiba membawa rata-rata 68 orang, dan angka itu lebih dari dua kali lipat dibanding sejak 2021. Para pakar menilai kepadatan berlebih di atas perahu membuat penyeberangan menjadi lebih berisiko.
Catatan kerugian juga disertakan: setidaknya 84 orang meninggal saat berupaya menyeberang pada tahun 2024, menurut United Nations (UN). Jika dibandingkan skala total imigrasi yang masuk ke Inggris pada Januari 2025 hingga Desember 2025, jumlah kedatangan perahu kecil diperkirakan sekitar 5% dari total tersebut.
Pemerintah berkomitmen untuk “smash the gangs” yang berada di balik penyeberangan ini guna menekan jumlahnya. Dari sisi siapa yang datang, laporan menyebut bahwa orang dari Eritrea menyumbang 18% dari seluruh kedatangan pada periode Juli 2025 hingga Juni 2026.
Laporan juga mencantumkan temuan terkait kerentanan. Dalam data terbaru yang mencakup Januari 2025 hingga Desember 2025, setidaknya 2,335 orang yang tiba dengan perahu kecil ditemukan sebagai calon korban perdagangan manusia atau bentuk perbudakan modern lainnya, berdasarkan keterangan Home Office.
Selain perahu kecil, ada pula jalur lain untuk masuk tanpa izin. Sebanyak 4,712 orang terdeteksi masuk ke Inggris tanpa izin melalui metode lain, termasuk bersembunyi di kendaraan, bepergian menggunakan feri, atau lewat bandara, pada periode Juli 2025 hingga Juni 2026. Angka tersebut turun 17% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya.
Di sisi lain, laporan mengingatkan adanya pihak yang masuk secara legal, misalnya melalui visa kerja atau studi, lalu kemudian tidak mematuhi batas masa tinggal. Namun, jumlah total orang yang tetap tinggal secara ilegal setelah masuk dengan jalur legal tidak diketahui.












