jurnalistik.co.id – Presenter BBC Maryam Moshiri membagikan kabar terbaru soal dua tahun hidup dengan kanker yang ia sebut akan terus memberi dampak pada sisa hidupnya. Dalam perbincangan tersebut, ia menekankan bahwa kondisi kronisnya tidak membuatnya merasa akan “hilang” begitu saja.
Lewat wawancara dengan rekan sesama presenter, Lucy Hockings, Moshiri mengajak penonton memahami bagaimana ia menjalani hari-hari setelah menerima diagnosis. Ia juga menceritakan proses emosional yang muncul ketika menyadari bahwa penyakit itu perlu dikelola dalam jangka panjang.
“Saya punya kanker kronis, tapi saya tidak akan meninggal,” kata Moshiri dalam pernyataannya. Kalimat itu menjadi cara ia menggambarkan keyakinannya untuk tetap melanjutkan hidup dengan harapan yang realistis.
Moshiri menyebut ia didiagnosis pada November 2024. Saat itu, ia mengetahui adanya penyakit kanker setelah dokter umum melihat kejanggalan pada hasil tes darahnya.
Diagnosis yang ia terima adalah polycythaemia vera (PV), yang oleh Moshiri disebut sebagai kanker darah yang langka dan dapat diobati. Ia menjelaskan bahwa meski penyakitnya tidak bisa disembuhkan, PV dapat ditangani dengan efektif.
Dalam penuturannya, Moshiri menyoroti pentingnya deteksi lebih awal. Ia mengatakan bahwa ia merasa beruntung karena dokter umum menangkap kondisi tersebut sejak tahap awal.
Setelah diagnosis keluar, Moshiri melakukan refleksi tentang apa yang ia rasakan pada fase sesudahnya. Ia menggambarkan bahwa momen tersebut membawa sejumlah pemikiran yang sulit, namun ia tetap berupaya menata ulang cara pandangnya.
Berita Terkait
Selama menjalani dua tahun hidup dengan PV, Moshiri kembali menegaskan bahwa penyakit kronis memang akan memengaruhi kesehariannya ke depan. Menurutnya, dampak itu tidak berhenti hanya pada saat diagnosis, melainkan ikut membentuk ritme hidup setelahnya.
Namun, ia juga menekankan adanya perbedaan penting antara “kanker yang tidak bisa disembuhkan” dan “kanker yang berarti harus menyerah”. Dalam kesempatan itu, ia menegaskan bahwa penyakitnya dapat dimanajemen secara efektif.
Pernyataan Moshiri memperlihatkan cara ia memahami kondisi yang sedang dihadapinya: ia tidak menghapus kenyataan bahwa PV bersifat kronis, tetapi ia memilih untuk menempatkan harapan pada pengelolaan yang tepat. Di sisi lain, ia tetap mengakui bahwa ada konsekuensi yang akan menyertai dirinya dalam jangka panjang.
Dengan menyebutkan bahwa PV adalah kanker darah yang langka, Moshiri seolah ingin mengingatkan bahwa pengalaman setiap orang bisa berbeda. Ia menempatkan pengalamannya sebagai pembelajaran pribadi tentang bagaimana proses diagnosis bekerja dan bagaimana dampaknya berjalan.
Selain bicara soal kondisi medisnya, Moshiri menyoroti pula peran layanan kesehatan yang lebih peka terhadap tanda-tanda awal. Ia menghubungkan rasa syukur itu dengan fakta bahwa dokter umum menemukan kejanggalan pada hasil tes darahnya pada tahap awal.
Lucy Hockings menjadi pengiring percakapan yang membantu Moshiri menyusun ceritanya secara runtut. Dari jawaban-jawaban Moshiri, terlihat bahwa ia ingin orang lain memahami bahwa hidup dengan kanker tidak selalu identik dengan “akhir”—meski tetap membutuhkan kewaspadaan dan penanganan.
Untuk bagian penutup, Moshiri menegaskan kembali idenya tentang masa depan. Ia tidak menutup mata terhadap penyakit yang sedang ia tangani, tetapi ia juga menolak gambaran yang membuatnya merasa pasti akan pergi karena diagnosis tersebut.
Dengan demikian, kisah Moshiri di BBC menjadi semacam pengingat bahwa kanker kronis bisa dikelola, dan bahwa deteksi lebih awal dapat memberi ruang untuk penanganan yang lebih baik. Di saat yang sama, ia menunjukkan bahwa keteguhan mental dan penerimaan terhadap kenyataan sama pentingnya ketika menghadapi diagnosis yang tidak bisa disembuhkan.












