jurnalistik.co.id – Menjelang peringatan Hari Kemerdekaan RI ke-81, Pasar Jatinegara, Jakarta Timur, terasa ikut berdenyut oleh euforia musiman. Deretan lapak memajang bendera dan pernak-pernik bernuansa merah putih, sementara para pedagang berupaya menangkap peluang di tengah kebutuhan warga yang kerap memuncak menjelang 17 Agustus.
Di antara barang-barang yang ditawarkan, terlihat pula jejak produksi dari luar wilayah Jakarta. Sejumlah pedagang yang mendatangkan maupun membuat perlengkapan Agustusan menyatakan berasal dari Cirebon, yang kemudian disalurkan untuk memenuhi permintaan pasar.
Salah satu pedagang tersebut adalah Adi (30), yang sudah berjualan bendera dan aksesori kemerdekaan sejak 2020. Ia menjual berbagai perlengkapan, mulai dari bendera, aksesori merah putih, balon, hingga slayer bertema Agustusan.
Menurut Adi, tidak semua barang berasal dari produksi yang sama. Sebagian ia kerjakan sendiri, sementara lainnya dikirim dari daerah asalnya di Cirebon. Perpaduan antara barang produksi dan pasokan dari luar membuat lapak yang ia kelola bisa tetap bervariasi mengikuti selera pembeli.
“Senang aja sih (berjualan pernak-pernik kemerdekaan), ikut euforia aja,” ujar Adi saat ditemui di Pasar Jatinegara pada Kamis (13/8/2026).
Adi menilai suasana pasar menjelang 17 Agustus tahun ini masih cukup ramai. Meski demikian, ia mengakui tingkat keramaian belum setinggi tahun-tahun sebelumnya.
Ia memperkirakan puncak pembeli biasanya dimulai sejak H-7 hingga mendekati hari kemerdekaan. Lonjakan itu, menurutnya, terutama terasa saat akhir pekan ketika lebih banyak orang bisa menyempatkan diri berbelanja perlengkapan.
Beragam kalangan pun datang ke lapak-lapak pernak-pernik. Pembeli tidak hanya berasal dari warga sekitar, melainkan juga pekerja kantoran, sekolah, hingga pihak kelurahan yang biasanya menyiapkan kebutuhan seremonial dan pendukung kegiatan.
Persiapan panjang dari Cirebon
Berita Terkait
Jejak perajin dari daerah asal juga tampak pada lapak Sandi Firmansyah (26). Ia menjual bendera pusaka, bendera backdrop, serta berbagai aksesori bernuansa kemerdekaan. Berbeda dari pola penjualan yang baru berjalan menjelang minggu terakhir, Sandi memilih mulai lebih awal dengan menyiapkan stok sejak pertengahan Juli.
Sandi memproduksi pernak-perniknya sendiri di sekitar Arjawinangun, Cirebon. Ia menyebut persiapan dilakukan jauh hari agar barang yang dijual bisa tersedia saat permintaan mulai meningkat menjelang 17 Agustus.
“Kurang lebih ya tiga bulan (lama waktu membuat pernak-pernik),” kata Sandi.
Dalam proses produksinya, Sandi mengerjakan tahap jahit dan sablon secara mandiri untuk memenuhi kebutuhan penjualan menjelang Agustus. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rutinitas yang ia jalankan setiap kali musim kemerdekaan datang.
Meski demikian, Sandi juga menyampaikan kendala yang kerap muncul ketika memproduksi perlengkapan musiman. Menurutnya, persoalan paling utama adalah modal, yang menentukan seberapa jauh produksi bisa dilakukan dan seberapa banyak variasi barang dapat disediakan.
Baginya, keputusan untuk mulai menyiapkan perlengkapan sejak pertengahan Juli merupakan upaya agar lapak bisa merespons kebutuhan pembeli pada waktu yang lebih sempit. Dengan jadwal produksi yang lebih awal, ia berharap barang yang tampil di pasar tetap siap ketika orang-orang mulai mencari perlengkapan menjelang puncak perayaan.
Di tengah suasana yang dipenuhi warna merah putih, pasar menjadi ruang pertemuan antara kebutuhan masyarakat dan kerja-kerja produksi dari daerah. Para pedagang yang mengandalkan pasokan serta pengerjaan dari Cirebon menunjukkan bahwa euforia kemerdekaan tidak hanya hadir sebagai dekorasi musiman, tetapi juga terhubung dengan upaya ekonomi yang dijalankan selama berbulan-bulan.
Seiring waktu mendekat ke 17 Agustus, minat pembeli cenderung menguat, terutama ketika hari-hari penting memasuki hitungan menjelang akhir pekan. Pada momen itulah lapak-lapak di Pasar Jatinegara memaksimalkan stok yang telah disiapkan, termasuk pernak-pernik yang membawa jejak proses produksi dari Arjawinangun dan daerah lain di Cirebon.
Dengan pola persiapan dan penjualan yang berbeda-beda—mulai dari Adi yang menggabungkan produksi sendiri dan kiriman dari Cirebon, hingga Sandi yang menyiapkan barang sejak pertengahan Juli—Pasar Jatinegara menggambarkan bagaimana musim kemerdekaan mampu menghadirkan perputaran rezeki yang berasal dari banyak tangan.












