jurnalistik.co.id – Di Carstensz Pyramid, Papua Tengah, bendera Merah Putih berkibar di ketinggian 4.884 mdpl sebagai penegasan kedaulatan di titik tertinggi Indonesia.
Pembentangan bendera dilakukan dalam suasana ekstrem, saat suhu berada mendekati titik beku dan kadar oksigen terasa tipis, namun hal itu tidak menghalangi rangkaian upacara.
Kamis (20/8/2026), momen tersebut menjadi sorotan karena berlangsung di ketinggian yang menuntut kesiapan fisik sekaligus disiplin tim.
Upacara pengibaran bendera diawali melalui rangkaian Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Republik Indonesia yang digelar pada ketinggian 4.200 mdpl.
Setelah itu, kegiatan berlanjut ke Carstensz Pyramid pada 4.884 mdpl untuk menegaskan makna simbolik di puncak.
Dengan perencanaan yang matang, personel bergerak melaksanakan tugas di area yang jauh dari kondisi pendakian biasa.
Polda Papua Tengah melaksanakan pengibaran bendera sekaligus melibatkan masyarakat suku asli dari kawasan pengunungan yang menjadi destinasi pendakian.
Kawasan tersebut dikenal sebagai jalur yang termasuk dalam daftar seven summits dunia dengan salju abadi, sehingga kegiatan di puncak tidak hanya bersifat seremonial, tetapi juga terkait dengan pengakuan terhadap konteks lokal.
Tiga warga suku asli ditampilkan sebagai pengibar, menggunakan pakaian bernuansa khas Papua.
Keterlibatan masyarakat setempat dipandang selaras dengan gagasan agar Carstensz tidak dipahami semata-mata sebagai lokasi pendakian.
Kapolda Papua Tengah, Brigjen Pol Jeremias Rontini, menilai puncak Carstensz dapat dikembangkan menjadi destinasi wisata yang memberi manfaat ekonomi bagi warga.
Menurutnya, potensi alam dan budaya di wilayah itu sangat besar dan membutuhkan pengelolaan yang profesional serta melibatkan berbagai pihak.
Jeremias menyampaikan kekagumannya pada pemandangan yang tersaji di lokasi tersebut.
Berita Terkait
Baginya, pengalaman melihat langsung bentang alam dari ketinggian puncak menjadi bukti bahwa tempat ini menyimpan nilai yang luar biasa.
Pendekatan pengembangan yang dimaksud juga berangkat dari keyakinan bahwa aktivitas di wilayah itu bisa diatur agar tetap menjaga martabat ruang alam dan membawa dampak positif.
Di sisi lain, pengibaran bendera di Carstensz juga menjadi momentum pribadi bagi Jeremias untuk kembali mengangkat potensi wisata kawasan tersebut.
Ia mengungkapkan, kegiatan serupa pernah dipimpin pada 2013 ketika masih menjabat sebagai Kapolres Mimika.
Dengan demikian, upacara di puncak Carstensz yang berlangsung pada 2026 menjadi kali kedua ia memimpin pengibaran bendera di lokasi dengan tantangan ketinggian yang sama-sama berat.
Momen itu memperlihatkan bagaimana upacara kenegaraan dapat ditempatkan dalam konteks geografis yang menantang.
Di ruang terbuka pada ketinggian 4.884 mdpl, Merah Putih berkibar bukan hanya sebagai simbol seremonial, melainkan juga sebagai pernyataan kedaulatan di puncak tertinggi Indonesia.
Di tengah keterbatasan oksigen dan suhu yang menekan, rangkaian kegiatan tetap berjalan, menegaskan bahwa disiplin, kesiapan, dan kolaborasi lintas unsur menjadi kunci.
Melalui pengibaran bendera yang melibatkan masyarakat suku asli, pesan yang dibawa juga terasa lebih menyatu dengan identitas lokal Papua.
Dalam pandangan pihak penyelenggara, pengelolaan yang tepat di masa depan diharapkan mampu menguatkan sisi wisata sekaligus membuka peluang ekonomi bagi komunitas sekitar.
Carstensz Pyramid pun kembali menorehkan catatan bahwa pada ketinggian ekstrem, upacara kenegaraan dapat berlangsung sekaligus membawa arah pengembangan yang lebih luas.
Rangkaian acara menunjukkan kesinambungan dari kegiatan pada ketinggian 4.200 mdpl menuju Carstensz Pyramid di 4.884 mdpl, dengan langkah-langkah yang disiapkan agar tugas bisa dijalankan tetap terukur di ruang yang berbeda.
Keberhasilan pelaksanaan tidak berdiri pada satu unsur saja, melainkan pada kedisiplinan personel dan kerja sama lintas pihak yang tetap mengedepankan keselamatan serta ketepatan saat menghadapi keterbatasan oksigen dan suhu.
Lebih dari sekadar seremoni di titik ekstrem, pengibaran bendera ini juga mempertegas arah gagasan pengembangan: memanfaatkan potensi alam dan budaya secara profesional, melibatkan banyak pihak, dan mengatur aktivitas agar martabat ruang alam tetap terjaga.












