jurnalistik.co.id – Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Prasetyo Hadi menyampaikan ajakan kepada masyarakat untuk menunaikan pengabdian terbaik bagi bangsa dalam rangka peringatan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 RI. Ajakan tersebut ia sampaikan saat mengikuti rangkaian kegiatan kenegaraan di Istana Merdeka, Jakarta Pusat.
Menurut Prasetyo, seruan itu sejalan dengan tema HUT ke-81 RI, “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur”. Ia menekankan bahwa pengabdian yang dimaksud bukan sekadar seremonial, melainkan tindakan nyata yang dilakukan setiap warga dalam kehidupan sehari-hari.
“Mari semua kita bekerja keras memberikan pengabdian yang terbaik untuk menjadikan Indonesia berdaulat, Indonesia yang benar-benar adil, Indonesia yang makmur untuk semuanya,” kata Prasetyo. Ucapan tersebut menjadi penegasan bahwa semangat kemerdekaan diharapkan diterjemahkan menjadi kerja bersama yang berkelanjutan.
Prasetyo juga menyatakan bahwa ia merasa bahagia karena Indonesia telah mencapai usia ke-81. Baginya, momentum tersebut menjadi pengingat untuk terus memperkuat cita-cita negara agar dapat dirasakan oleh seluruh lapisan masyarakat.
Di kesempatan yang sama, ia menyinggung pentingnya menjaga persatuan. “Menjaga persatuan dan persatuan yang ada di kita sebagai anak bangsa,” tutur Prasetyo.
Dalam peringatan kali ini, Prasetyo mengenakan baju adat asal Palembang, Sumatera Selatan. Ia menjelaskan alasan pemakaiannya dengan menyampaikan bahwa dirinya berasal dari Jawa namun memilih memakai pakaian adat Palembang.
“Hari ini kami pakai baju adat dari Palembang, meskipun kami orang Jawa, tapi pakai baju adat dari Palembang,” jelas Prasetyo. Ia menyebut detail tersebut sebagai bagian dari upaya menunjukkan keberagaman sebagai kekuatan bersama.
Prasetyo turut memperhatikan antusiasme masyarakat yang ingin menyaksikan langsung upacara HUT ke-81 RI. Karena itu, Istana menyediakan 8.100 kursi untuk warga.
Ia menambahkan bahwa terdapat pula penambahan dua blok kursi untuk kegiatan yang berbeda. Dua blok itu masing-masing berisi 1.700 kursi, yang diperuntukkan bagi upacara pengibaran bendera serta upacara penurunan bendera.
Berita Terkait
Dalam konteks pelaksanaan kegiatan detik-detik proklamasi, Prasetyo menyampaikan bahwa peringatan diselenggarakan sebagaimana biasanya untuk memperingati hari ulang tahun kemerdekaan ke-81. Ia juga mengaitkan penyelenggaraan upacara tersebut dengan rangkaian perayaan resmi di Istana.
Seruan solidaritas untuk Nusa Tenggara Timur
Di sela pesan kenegaraan, Prasetyo menyampaikan perhatian khusus kepada masyarakat Nusa Tenggara Timur yang sedang mengalami duka. Ia menyebut saudara-saudara di wilayah itu “tengah dirundung duka karena gempa M 7,7”.
Prasetyo kemudian mengajak agar bantuan diberikan untuk meringankan beban yang tengah dihadapi. “Mari kita mengulurkan tangan untuk membantu meringankan beban yang sedang mereka hadapi,” kata Prasetyo.
Seruan tersebut menjadi penekanan bahwa semangat kebersamaan tidak hanya hadir dalam perayaan kemerdekaan, tetapi juga dalam tindakan solidaritas saat masyarakat lain menghadapi musibah. Dengan demikian, ia memosisikan pengabdian terbaik sebagai wujud nyata kepedulian.
Pesan Prasetyo disampaikan pada Senin (17/8/2027), bertepatan dengan rangkaian peringatan HUT ke-81 RI di Istana Merdeka. Ia menyampaikan pernyataannya setelah memantau kegiatan yang menjadi bagian dari persiapan pelaksanaan upacara.
Lewat rangkaian pesan tersebut, Prasetyo menegaskan bahwa tema “Indonesia Berdaulat, Adil, dan Makmur” harus diterjemahkan ke dalam kerja yang konkret dari setiap warga. Di saat yang sama, peringatan kemerdekaan dimaknai sebagai ajang penguatan persatuan serta dorongan untuk hadir membantu ketika saudara sebangsa membutuhkan.
Prasetyo menempatkan ajakan itu sebagai dorongan agar nilai-nilai kenegaraan tidak berhenti di panggung upacara, melainkan diwujudkan melalui sikap dan langkah nyata yang konsisten. Menurutnya, cara pandang tersebut dapat menjadi pengikat agar seluruh warga bergerak bersama untuk tujuan negara.
Ia juga menyinggung kesiapan penyelenggaraan kegiatan di Istana, termasuk antisipasi tingginya minat masyarakat untuk hadir menyaksikan rangkaian upacara HUT. Dengan ketersediaan kursi yang disiapkan, penyelenggara berupaya memastikan warga dapat mengikuti jalannya acara dengan tertib, sesuai pembagian untuk pengibaran maupun penurunan bendera.
Di bagian lain dari pesannya, Prasetyo menggarisbawahi pentingnya menjaga empati ketika tanah air berhadapan dengan musibah. Ia menyampaikan bahwa duka di Nusa Tenggara Timur akibat gempa M 7,7 menjadi pengingat untuk saling menolong, sehingga kepedulian dapat hadir sebagai bagian dari pengabdian yang benar-benar terasa.












