jurnalistik.co.id – Gelombang panas yang melanda sejumlah wilayah di Inggris membuat penjual majalah Big Issue semakin kesulitan mengandalkan penghasilan harian. Catherine Parsons, managing director Big Issue, mengatakan dampaknya terasa “immediate” dan langsung menekan pendapatan para penjual.
Menurut Parsons, penjualan majalah Inggris untuk berita dan hiburan itu turun rata-rata 20% dibandingkan tahun sebelumnya pada pekan-pekan ketika gelombang panas diumumkan. Penurunan ini terlihat di beberapa lokasi, termasuk West Midlands dan Wales pada periode suhu ekstrem.
Ketika suhu terpecah rekor pada bulan Juni, West Midlands mencatat penjualan 34% lebih sedikit, sementara Wales mengalami penurunan 33% penjualan. Parsons menyampaikan bahwa situasi ekstrem tersebut bukan hanya mengurangi peluang bertemu pembeli, tetapi juga membebani keputusan harian para penjual.
George Anderson, penjual Big Issue di dekat BBC Broadcasting House di London, menggambarkan kondisi di lapangan sebagai perjuangan yang nyata saat pengunjung menurun. Ia menyatakan bahwa orang cenderung memilih berada di tempat berpendingin udara ketimbang berada lama di luar.
Anderson mengatakan, “People are uncomfortable, they don’t want to hang around in the heat and chat,” kepada BBC pada hari terpanas dalam tahun itu. Ia menambahkan, “I manage it as best I can, and so far so good, but my sales are definitely down which can be quite tough.”
Big Issue dijual oleh orang-orang yang mengalami kondisi tanpa tempat tinggal atau ketidakstabilan keuangan. Dalam penjelasannya, Parsons menegaskan bahwa gelombang panas mengakibatkan penjual kehilangan penghasilan yang selama ini mereka butuhkan untuk kebutuhan dasar.
Parsons menjelaskan, “For most of us, extreme heat is an inconvenience. For Big Issue vendors, it means earning significantly less and making difficult decisions about rent, food and other essentials,”. Ia menggambarkan bagaimana cuaca ekstrem menggeser prioritas hidup para penjual karena penghasilan berkurang.
Pada pekan 22 Juni, ketika rekor suhu bulanan Inggris pecah dan suhu mencapai 37.7C (99.9F), data Big Issue menunjukkan penjualan turun rata-rata 22% dibandingkan pekan yang sama pada tahun sebelumnya. Angka itu, menurut laporan perusahaan, mencerminkan keterkaitan langsung antara cuaca dan kemampuan penjual menjangkau pembeli.
Berita Terkait
Parsons juga mengaitkan kondisi ini dengan rangkaian gelombang panas yang berulang. Gelombang panas teranyar ini menjadi gelombang panas kelima yang terjadi pada tahun ini, sementara Met Office memperingatkan bahwa musim panas berpotensi menjadi yang terpanas sejak pencatatan dimulai.
Upaya dukungan, tetapi risiko tetap tinggi
Di tengah tantangan tersebut, tim Big Issue bekerja untuk membantu penjual tetap aman dan mampu menjalankan pekerjaan. Parsons menyebutkan bahwa mereka membagikan sunscreen, topi, dan botol minuman kepada para vendor.
Namun, Parsons menekankan bahwa ada batas keselamatan ketika panas mencapai titik paling ekstrem. Ia mengatakan, “But in the most extreme temperatures, it’s simply unsafe for vendors to be out and selling, and when the heat forces them to cut their working day short, the financial impact is immediate.”
Dengan demikian, penurunan penjualan tidak hanya dipengaruhi berkurangnya arus pejalan kaki, tetapi juga karena jadwal kerja terpaksa dipangkas demi keamanan. Ketika jam penjualan lebih pendek, kesempatan bertemu pembeli otomatis ikut menyusut dan pendapatan pun ikut turun.
Anderson, yang telah bekerja sebagai penjual Big Issue sejak 2019, juga berbagi dampak panas dari sisi kehidupan sehari-hari. Ia mengatakan bahwa saat ini ia punya kamar di sebuah hostel, tetapi tidur menjadi sulit ketika malam terasa hangat karena harus beraktivitas sepanjang hari dengan berdiri di kaki.
Ia menuturkan, “It’s certainly harder when you’re standing outside in the sun and there are fewer people about,”. Untuk mengurangi dampak panas saat bekerja, Anderson berupaya menyiapkan air dingin dan mencari tempat teduh agar kondisi tubuh lebih terjaga.
Ia menjelaskan, “Bottled water gets hot in about five minutes in the sun, but it can be quite shady standing here,”. Menurutnya, meski air botolan cepat panas ketika terkena matahari langsung, situasi masih bisa dibuat lebih baik dengan berada di area yang teduh.
Anderson berharap kondisi akan membaik seiring penurunan suhu. Ia berkata, “It will get better when it’s cooler, and when people are happier,”. Dalam pandangannya, ketika cuaca tidak lagi terasa ekstrem dan orang lebih nyaman, peluang penjualan juga punya ruang untuk pulih.












