jurnalistik.co.id – Jumlah korban meninggal akibat gempa berkekuatan Magnitudo 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), terus bertambah. Hingga Minggu (16/8/2026) pukul 16.00 WIB, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat total korban jiwa mencapai 53 orang.
Angka tersebut bertambah dua orang dibanding pemutakhiran pada Minggu siang yang mencatat 51 korban. Pemerintah juga menyampaikan duka cita mendalam kepada seluruh masyarakat terdampak bencana gempa di NTT.
Deputi Bidang Pencegahan BNPB Abdul Muhari menyampaikan rincian korban meninggal dalam keterangan pers secara virtual pada Minggu (16/8/2026) sore. Ia menyebutkan, “Dengan rincian Kabupaten Manggarai Barat 1 jiwa, Manggarai Timur 20 jiwa, Kabupaten Manggarai 25 jiwa, Nagekeo 1 jiwa, Sikka 4 jiwa, Ende 2 jiwa,”.
Dari sisi penanganan di lapangan, petugas gabungan BNPB bersama TNI, Polri, dan relawan terus melakukan evakuasi serta memberikan perawatan medis untuk warga yang mengalami luka-luka. Proses penanganan juga berjalan sambil memperbarui pendataan korban dan situasi di masing-masing wilayah terdampak.
BNPB melaporkan, total korban luka-luka akibat guncangan gempa M 7,7 mencapai 137 jiwa berdasarkan data akumulasi petugas gabungan. Sementara itu, pada pemutakhiran BNPB tercatat 135 jiwa sedang mendapatkan perawatan di fasilitas kesehatan (faskes) terdekat maupun faskes darurat.
Rincian korban luka yang dirawat meliputi Kabupaten Sikka sebanyak 12 jiwa. Kabupaten Manggarai mencatat 17 jiwa mengalami luka berat dan 20 jiwa luka ringan.
Adapun Kabupaten Manggarai Timur mencatat 21 jiwa luka berat dan 59 jiwa luka ringan. Kabupaten Manggarai Barat mencatat 6 jiwa luka berat.
Pendataan pengungsi akibat gempa NTT masih terus berjalan. Hingga Minggu sore, tercatat 5.488 jiwa mengungsi di posko terpusat, sedangkan 171 jiwa lainnya memilih mengungsi secara mandiri.
Selain dampak pada korban, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat telah terjadi 995 kali gempa susulan (aftershocks). Dari jumlah tersebut, 46 kejadian dilaporkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat.
Berita Terkait
Gempa Magnitudo 7,7 terjadi pada Sabtu (15/8/2026) subuh. Pusat gempa berada di 30 kilometer timur laut Mbay, Nagekeo, dengan waktu kejadian pukul 04.58 WIB, dan mengguncang kawasan Mbay–Nagekeo, Nusa Tenggara Timur.
Guncangan gempa kuat tersebut merusak ribuan bangunan. BNPB melaporkan, data sementara kerusakan infrastruktur permukiman di Provinsi NTT mencakup 1.543 unit rumah rusak berat, 328 unit rusak sedang, dan 532 unit rusak ringan.
Namun, dalam pemutakhiran verifikasi lapangan hari kedua, BNPB mencatat setidaknya 154 rumah rusak berat, 49 rusak sedang, dan 38 rusak ringan yang sudah terverifikasi secara pasti. Abdul Muhari menjelaskan bahwa angka kerusakan akan terus berubah mengikuti hasil validasi di lapangan.
Ia menyampaikan, “Jadi kalau untuk data rumah rusak ini pasti akan dinamis. Karena biasanya di hari pertama itu pencatatan kita lakukan hanya berbasiskan pada laporan di lapangan, laporan visual dan seterusnya,” ujar Abdul Muhari. Menurutnya, tim gabungan telah diterjunkan ke kabupaten/kota terdampak untuk melakukan validasi data secara menyeluruh.
Di sisi pemulihan, listrik mulai pulih dan upaya pembersihan jalur terdampak juga dilakukan. Langkah-langkah tersebut menjadi bagian dari rangkaian penanganan agar mobilitas warga dan proses distribusi bantuan dapat berjalan lebih lancar.
Pemutakhiran korban jiwa itu dilakukan secara bertahap seiring proses pendataan terus berlangsung. Dari pembaruan sebelumnya yang masih menyebut 51 korban pada Minggu siang, BNPB kemudian memperbarui angka hingga menjadi 53 orang pada Minggu sore (16/8/2026) pukul 16.00 WIB.
Selain korban meninggal, BNPB juga melaporkan perkembangan jumlah warga yang mengalami luka-luka. Berdasarkan akumulasi petugas gabungan, totalnya mencapai 137 jiwa, sementara bagian yang masih menjalani perawatan di fasilitas kesehatan terdekat maupun fasilitas darurat tercatat 135 orang. Rincian per kabupaten menunjukkan adanya perbedaan tingkat luka, dengan beberapa wilayah mencatat luka berat maupun luka ringan.
Di luar dampak langsung terhadap korban, dampak gempa juga terlihat dari catatan kejadian susulan. BMKG mencatat terdapat 995 kali gempa susulan, dan dari seluruh kejadian tersebut 46 di antaranya dilaporkan dapat dirasakan langsung oleh masyarakat. Kondisi ini membuat kewaspadaan di wilayah terdampak tetap menjadi fokus penanganan.
Untuk kerusakan bangunan dan infrastruktur permukiman, data awal menunjukkan ribuan rumah terdampak dengan komposisi rusak berat, sedang, dan ringan. Pada pemutakhiran verifikasi hari kedua, BNPB menyebut setidaknya 154 rumah rusak berat, 49 rumah rusak sedang, serta 38 rumah rusak ringan yang sudah terverifikasi pasti. BNPB juga menegaskan angka kerusakan akan terus mengalami perubahan seiring validasi lapangan, termasuk langkah pemulihan seperti pemulihan aliran listrik dan pembersihan jalur terdampak agar distribusi bantuan serta mobilitas warga dapat berjalan lebih lancar.












