jurnalistik.co.id – Kabar kematian Jason Arday, mantan profesor University of Cambridge, memicu gelombang respons dari berbagai pihak di tengah sengketa yang sudah berlangsung beberapa pekan. Arday ditemukan tewas pada Jumat pekan lalu di sebuah alamat di Battersea, London selatan, setelah sebelumnya mengundurkan diri dari posisinya.
Dalam konteks kasus tersebut, Cambridge University menyebut bahwa dugaan plagiarisme terkait tesis Arday serta sejumlah publikasi jurnal telah ditangani melalui proses investigasi. Pada tahap awal, lembaga tersebut mengalihkan penelaahan ke Liverpool John Moores University (LJMU) dan jurnal-jurnal yang relevan.
LJMU, yang memberi Arday gelar PhD pada 2015, menyimpulkan bahwa ia tidak melakukan plagiarisme. Kendati demikian, minggu lalu Cambridge mengumumkan adanya investigasi independen terkait pengangkatannya sebagai profesor.
Arday berusia 41 tahun dan mengundurkan diri dari jabatan profesor sosiologi pendidikan di Cambridge pada 5 Agustus. Ia juga menegaskan bahwa pengunduran dirinya tidak boleh dipahami sebagai penerimaan terhadap narasi-narasi yang berkembang di sekeliling dirinya.
Pengunduran diri itu terjadi setelah Arday menjadi pusat perhatian media selama berminggu-minggu. Ia menghadapi pemberitaan mengenai tuduhan plagiarisme serta pertanyaan tentang capaian akademiknya, sementara ia sendiri membantah klaim-klaim tersebut.
Sebagian kritik yang muncul juga menyoroti cara pembahasan kasus berlangsung. Chancellor Cambridge, Lord Chris Smith, dalam komentar publik pertamanya setelah gelombang sorotan media, menyatakan bahwa ada situasi yang ia sebut sebagai “racist feeding frenzy” di sekeliling Arday.
Smith menegaskan gagasan bahwa integritas akademik dan proses evaluasi tuduhan harus tetap berjalan, tanpa menyeret siapa pun ke perburuan bermotif rasis. Dalam pernyataan yang disampaikan setelah kematian Arday, ia mengatakan: “I do believe it is possible to hold to two principles at the same time: to believe in the importance of academic integrity, and where criticisms of plagiarism arise, about any academic, whoever they are, ensure that they are rigorously investigated.”
Ia melanjutkan, “And also to refuse to join in a racist feeding frenzy over a particular academic.” Pernyataan itu menjadi dasar pembingkaian yang lebih luas, yakni bagaimana kritik terhadap dugaan akademik bisa berjalan bersamaan dengan penolakan terhadap perlakuan yang dianggap diskriminatif.
Berita Terkait
Di luar pernyataan individu, publik juga merespons melalui kanal advokasi. Lebih dari 30.000 orang, termasuk Diane Abbott dan Jameela Jamil, menandatangani petisi Good Law Project yang menyerukan adanya penyelidikan atas liputan yang menargetkan Arday. Petisi tersebut menyebut bahwa kematian Arday terjadi setelah “two weeks of relentless harassment”.
Respons politik juga datang dari Sir James Cleverly. Ia mengatakan ia “angry” dengan situasi yang terjadi, dan menilai peristiwa ini tidak akan berlangsung jika “people within the university establishment – not just Cambridge – had done the robust due diligence and checking that should happen with any senior academic appointment”.
Dalam wawancara yang ia sampaikan kepada BBC’s Today programme, Cleverly mengatakan bahwa menurutnya Arday dipakai sebagai “bragging rights by some universities”, serta bahwa dalam pembicaraan publik muncul penekanan pada “age and his ethnicity rather than his talent.” Ia juga menilai bahwa pengawasan yang datang kemudian membuat reputasi Arday jatuh dengan cepat: “I think it was part of the reason that he was lifted so high so quickly and then when the scrutiny did come – external to the universities – his reputation had so far to fall.”
Menurut Cleverly, meskipun pertanyaan terkait plagiarisme tetap sah untuk diajukan, banyak unsur pemberitaan bisa jadi dipengaruhi motif rasis. Ia menyebut “much of the coverage surrounding Arday was quite possibly motivated by racism”, lalu menambahkan bahwa “the questions over plagiarism were legitimate, regardless of motivation.” Ia menggambarkan situasi yang dialami Arday sebagai “unfair on him” dan menilai semuanya berubah menjadi situasi yang “a terrible, terrible situation”.
Kasus ini berawal dari klaim seorang akademik lain, Nathan Cofnas. Cofnas—yang pada masa itu mendeskripsikan dirinya sebagai “race realist”—diberitakan telah mengatakan ia menemukan “numerous instances of plagiarism” dalam karya Arday. Cofnas kemudian diberhentikan dari perannya di Cambridge pada 2024.
BBC melaporkan bahwa unggahan Cofnas berakhir setelah muncul reaksi balik, termasuk terkait pandangannya bahwa dalam “a true meritocracy” orang kulit hitam akan “disappear from almost all high-profile positions outside of sports and entertainment”.
Cambridge sebelumnya merayakan pengangkatan Arday sebagai profesor kulit hitam yang muda, dan ia disebut sebagai bagian dari minoritas yang sangat kecil di dunia akademik. Rujukan yang disebut dalam pemberitaan menyatakan bahwa hanya 1% profesor di universitas-universitas Inggris adalah orang kulit hitam, sehingga setiap pengangkatan menjadi sorotan besar.
Menjelang respons masyarakat, dua rangkaian peringatan direncanakan. Kelompok Stand Up To Racism mengadakan vigil pada Senin malam di Trafalgar Square. Sementara itu, pada Minggu sebelumnya, lebih dari 200 orang menghadiri vigil di Cambridge yang diselenggarakan oleh para mahasiswa pascadoktoral Arday.












