Peristiwa

Gempa Flores di NTT: korban tewas bertambah menjadi 55 orang, terutama dari Manggarai

×

Gempa Flores di NTT: korban tewas bertambah menjadi 55 orang, terutama dari Manggarai

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Korban Gempa Flores Bertambah Jadi 55 Orang, Terbanyak dari Manggarai

jurnalistik.co.id – Jumlah korban meninggal dunia akibat gempa bumi yang mengguncang Pulau Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT), bertambah menjadi 55 orang hingga Minggu (16/8/2026) malam.

Angka tersebut dihimpun dari pendataan yang masuk ke posko Mapolda NTT pada periode sampai pukul 18.00 Wita.

Sementara itu, upaya pencarian dan evakuasi terus berjalan di sejumlah wilayah terdampak.

Update jumlah korban

Kapolda NTT Irjen Rudi Darmoko menyampaikan bahwa selain korban meninggal dunia, tercatat pula 67 orang mengalami luka berat dan 127 orang luka ringan.

Ia menyebutkan rekap yang disampaikan merupakan rangkuman data yang terkumpul hingga batas waktu yang ditentukan pada hari yang sama.

“Jadi berdasarkan data yang masuk ke posko Mapolda NTT sampai dengan pukul 18.00 Wita tadi, yang meninggal dunia berjumlah 55 orang, luka berat 67 orang, dan luka ringan 127 orang,” ujar Rudi saat konferensi pers di Mapolda NTT, Minggu malam.

Menurut Rudi, laporan dari lapangan masih terus berdatangan seiring dengan kerja tim penyelamat di titik-titik terdampak.

Distribusi korban yang terekam dalam rekap juga menunjukkan bahwa Manggarai menjadi wilayah dengan jumlah meninggal tertinggi.

Rinciannya, 25 korban meninggal dunia berasal dari Kabupaten Manggarai.

Selanjutnya, 20 korban meninggal dunia tercatat dari Kabupaten Manggarai Timur.

Adapun korban lainnya berasal dari Kabupaten Sikka dan Kabupaten Nagekeo.

Status pendataan masih dinamis

Irjen Rudi menegaskan bahwa informasi korban yang diumumkan masih bersifat sementara.

Ia menyampaikan jumlah korban dapat berubah seiring proses pencarian, evakuasi, serta pendataan yang masih berlangsung di sejumlah lokasi terdampak.

“Data ini dinamis dan akan berubah seiring dengan perkembangan pencarian dan evakuasi di lokasi,” kata Rudi.

Dengan demikian, angka yang dipublikasikan malam hari itu diposisikan sebagai gambaran kondisi hingga pukul 18.00 Wita sebelum pembaruan berikutnya.

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 7,7 mengguncang wilayah Flores pada Sabtu (15/8/2026) pagi.

Dampaknya dirasakan di sejumlah kabupaten dan menyebabkan kerusakan bangunan serta korban jiwa.

Hingga Minggu malam, aparat gabungan dan tim penyelamat masih melakukan pencarian, evakuasi, serta penanganan bagi warga terdampak.

Pada fase penanganan ini, berbagai langkah diarahkan untuk membantu memastikan keselamatan warga sekaligus menyelaraskan informasi yang diterima posko pendataan.

Dengan adanya rekap yang mencakup korban meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan, aparat dapat menyusun prioritas penanganan sesuai kebutuhan yang muncul di lapangan.

Informasi sebaran korban antar-kabupaten juga membantu memetakan wilayah dengan dampak paling besar berdasarkan data yang telah masuk ke posko.

Untuk sementara, Manggarai dan Manggarai Timur menjadi daerah dengan jumlah korban meninggal dunia terbanyak, yakni masing-masing 25 orang dan 20 orang.

Di luar dua wilayah tersebut, Kabupaten Sikka serta Kabupaten Nagekeo juga mencatat korban lainnya sesuai pendataan yang masuk.

Proses verifikasi dan rekapitulasi terus dilakukan sambil menunggu temuan baru dari rangkaian pencarian yang masih berlangsung.

Rudi menempatkan pengumuman pada konferensi pers sebagai hasil pendataan sampai batas waktu yang disebutkan, dengan kemungkinan angka bertambah seiring perkembangan di lokasi.

Ia menegaskan bahwa pembaruan akan mengikuti kemajuan pencarian dan evakuasi, karena data korban pada dasarnya terus bertambah selama proses penanganan belum selesai.

Dalam konferensi pers tersebut, Kapolda juga menekankan bahwa posko pendataan menjadi rujukan utama untuk menghimpun informasi korban dari lapangan pada jam pengumpulan yang telah ditetapkan.

Pendataan yang memuat kategori meninggal dunia, luka berat, dan luka ringan digunakan sebagai dasar untuk menyamakan keterangan antarwilayah, sekaligus menyesuaikan kebutuhan bantuan yang paling mendesak.

Sambil menunggu temuan berikutnya, tim di lokasi terus melanjutkan pencarian dan evakuasi di wilayah terdampak, sehingga pembaruan angka korban diperkirakan akan mengikuti hasil verifikasi lapangan.