jurnalistik.co.id – Gempa bumi berkekuatan M 7,7 yang mengguncang wilayah Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) masih menyisakan dampak hingga hari ketiga pasca kejadian. Di Kabupaten Manggarai Timur, pendataan korban dan kerusakan terus dilakukan oleh pemerintah daerah.
Hingga hari ketiga, sebanyak 25 orang dilaporkan meninggal dunia di Manggarai Timur. Pada saat yang sama, 442 orang tercatat mengalami luka berat akibat gempa tersebut.
Angka korban itu masih bersifat sementara. Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur masih melanjutkan pendataan terhadap korban maupun kerusakan hingga Senin (17/8/2026) malam.
Selain korban jiwa dan luka-luka, sejumlah bangunan juga dilaporkan mengalami kerusakan. Pemerintah daerah menyampaikan bahwa rincian kerusakan bangunan maupun fasilitas umum masih terus diperbarui sesuai hasil pemantauan di lapangan.
Untuk fasilitas umum, hingga saat ini terdapat tiga jembatan yang dilaporkan mengalami kerusakan. Proses pembaruan data dilakukan karena penelusuran kondisi wilayah terdampak masih berlangsung.
Kepala Bagian Hubungan Masyarakat dan Protokoler Sekretariat Daerah Kabupaten Manggarai Timur, Jeni Wajong, mengatakan pemerintah daerah tetap mendata korban dan fasilitas umum di sejumlah wilayah. Ia menambahkan agar masyarakat tidak lengah mengingat potensi gempa susulan.
“Pemerintah Daerah Manggarai Timur masih terus mendata korban dan fasilitas umum. Pemerintah berharap warga terus berwaspada terhadap gempa susulan,” ujar Jeni kepada Kompas.com melalui sambungan telepon pada Senin malam.
Jeni menyampaikan bahwa gempa susulan masih terjadi hingga Senin malam. Dengan kondisi itu, masyarakat diimbau untuk tetap mengikuti arahan pemerintah serta petugas yang berada di lapangan.
Imbauan tersebut disampaikan bersamaan dengan kelanjutan proses penanganan kepada para korban. Pemerintah kabupaten menegaskan bahwa pendataan dan respons darurat akan disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat terdampak.
Berita Terkait
Mulai Selasa (18/8/2026), Pemkab Manggarai Timur dijadwalkan memulai distribusi bantuan logistik. Bantuan akan disalurkan ke sejumlah posko pengungsian dan posko kemanusiaan yang telah dibangun di 12 kecamatan di wilayah kabupaten tersebut.
Menurut informasi yang disampaikan, penyaluran bantuan dilakukan agar kebutuhan dasar warga yang terdampak dapat segera tertangani. Pemkab juga memastikan distribusi dan pendampingan akan terus berjalan seiring perkembangan kondisi di lapangan.
Dengan data korban dan kerusakan yang masih bergerak, pemerintah daerah berharap masyarakat tetap berada dalam kewaspadaan. Upaya penertiban informasi, pendataan ulang, serta koordinasi di tingkat posko menjadi bagian dari tahapan penanganan hingga situasi dinilai lebih stabil.
Hingga waktu pendataan Senin malam, fokus yang disampaikan Pemkab mencakup dua hal utama, yakni memastikan identifikasi korban secara tepat serta memutakhirkan informasi kerusakan infrastruktur. Langkah-langkah tersebut diharapkan dapat memperkuat penentuan prioritas bantuan pada fase berikutnya.
Gempa M 7,7 yang terjadi di Flores, NTT, membuat respons penanganan berlangsung bertahap. Dari pengumpulan data hingga penyaluran logistik ke posko di 12 kecamatan, pemerintah kabupaten menekankan bahwa seluruh proses akan terus diperbarui sesuai kondisi dan kebutuhan masyarakat terdampak.
Dalam proses penanganan yang masih berlangsung, pemerintah daerah menempatkan pendataan sebagai pekerjaan berkelanjutan sembari memantau kondisi di lapangan. Karena informasi korban serta kerusakan masih dapat bertambah atau berubah seiring verifikasi, masyarakat juga diminta menunggu pembaruan resmi dari pihak berwenang.
Selain pendataan korban, perhatian juga diarahkan pada kelayakan fasilitas umum yang menjadi kebutuhan penunjang aktivitas warga. Pembaruan informasi kerusakan dilakukan bertahap, termasuk untuk infrastruktur yang tercatat terdampak seperti tiga jembatan, sambil penelusuran kondisi wilayah terdampak masih terus berjalan.
Pada fase berikutnya, pemkab menjadwalkan penyaluran bantuan logistik mulai Selasa (18/8/2026). Pengiriman bantuan direncanakan menyasar posko pengungsian dan posko kemanusiaan yang telah disiapkan di 12 kecamatan, agar pemenuhan kebutuhan dasar dapat segera ditangani, disertai pendampingan sesuai perkembangan situasi.
Langkah-langkah itu disertai penataan informasi agar respons di lapangan lebih terarah. Pemerintah kabupaten menekankan koordinasi dari tingkat posko, termasuk pendataan ulang dan pemutakhiran data, guna membantu penentuan prioritas bantuan berdasarkan kebutuhan yang paling mendesak.












