Peristiwa

Hotspot Karhutla 142 Dalam Sehari, Sumsel Kerahkan 11.567 Personel untuk Pemadaman

×

Hotspot Karhutla 142 Dalam Sehari, Sumsel Kerahkan 11.567 Personel untuk Pemadaman

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: 142 Titik Api Muncul dalam Sehari, Sumsel Kerahkan 11.567 Personel untuk Pemadaman

jurnalistik.co.id – BPBD Sumatera Selatan melaporkan lonjakan titik panas (hotspot) seiring masuknya fase kering yang biasanya menandai peningkatan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Dalam sehari, tercatat 142 hotspot terdeteksi di hampir seluruh kabupaten dan kota.

Menyikapi kondisi tersebut, pemerintah mengerahkan 11.567 personel gabungan untuk memperkuat pencegahan sekaligus pemadaman karhutla. Personel itu berasal dari berbagai unsur, mulai dari BPBD, TNI, Polri, hingga Lanud, termasuk Manggala Agni.

Selain itu, keterlibatan juga datang dari Satpol PP, Polisi Kehutanan, Masyarakat Peduli Api (MPA), kelompok tani, serta regu pemadam kebakaran. Unsur perusahaan juga disebut turut dilibatkan dalam operasi penanganan di lapangan.

Kepala Pelaksana BPBD Sumsel, Muhammad Iqbal Alisyahbana, menilai meningkatnya hotspot menjadi sinyal yang serius. Ia menyebut puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dan berpotensi memperbesar risiko kebakaran hutan dan lahan.

“Ini yang perlu kita waspadai bersama. Puncak musim kemarau diperkirakan terjadi pada Agustus hingga September dan kondisi ini berpotensi meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan,” ujar Iqbal, Rabu (12/8/2026).

Iqbal juga memaparkan bahwa perkembangan karhutla sepanjang tahun menunjukkan tren yang perlu diantisipasi. Ia mencatat jumlah kejadian karhutla sejak Januari hingga awal Agustus 2026 telah mencapai 1.077 kejadian.

Lonjakan paling signifikan terjadi pada Juli, yaitu 456 kejadian. Angka tersebut meningkat tajam dibandingkan Juni yang tercatat sebanyak 120 kejadian.

Secara kumulatif, hotspot yang terdeteksi sejak 1 Januari hingga 10 Agustus 2026 mencapai 7.050 titik. Sementara itu, pada periode 1 hingga 10 Agustus saja, jumlah hotspot sudah mencapai 2.145 titik.

Dalam sebaran wilayah, BPBD Sumsel menyebut beberapa daerah menjadi lokasi dengan jumlah kejadian karhutla tertinggi sepanjang tahun. Wilayah yang paling menonjol adalah Ogan Komering Ilir (OKI), Banyuasin, Musi Banyuasin, Ogan Ilir, serta Muara Enim.

Perhatian khusus di wilayah gambut

Berdasarkan hasil patroli udara, Iqbal mengatakan ada area yang perlu mendapat perhatian lebih, terutama kawasan gambut yang mulai mengalami kekeringan. Kondisi ini dinilai dapat membuat potensi kebakaran meningkat pada bulan-bulan kering berikutnya.

“Wilayah-wilayah gambut sudah mulai mengering dan potensi kebakarannya akan semakin besar pada Agustus dan September. Karena itu, kita perlu meningkatkan kesiapsiagaan dan pencegahan,” katanya.

Ia menegaskan bahwa upaya pencegahan perlu ditingkatkan lebih awal agar risiko meluasnya kebakaran tidak meningkat seiring perkembangan musim. Dengan adanya kondisi gambut yang mengering, langkah antisipatif dinilai menjadi bagian penting dari respons pemerintah.

Operasi darat dan udara serta pemantauan kualitas udara

Komandan Korem 044/Garuda Dempo (Gapo), Brigjen TNI Khabib Mahfud, menjelaskan pengendalian karhutla saat ini dilakukan melalui kombinasi operasi darat dan udara. Pendekatan tersebut diarahkan untuk mempercepat penanganan di lokasi kejadian.

Khabib juga menekankan bahwa selain pemadaman langsung, pemerintah melakukan patroli dan sosialisasi untuk menekan potensi kejadian baru. Upaya lain yang disebutkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) sebagai langkah untuk meminimalkan risiko meluasnya kebakaran.

“Kita sudah berupaya melaksanakan pemadaman. Kita sudah melakukan imbauan, pemadaman dan lain-lain. Termasuk sudah melaksanakan OMC, bahkan jika diperlukan kita juga siap melakukan OMC pada malam hari jika ada awan penghujan,” ujar Khabib.

Ia menambahkan pemantauan kualitas udara terus dilakukan guna memastikan asap karhutla tidak mengganggu aktivitas masyarakat. Fokus pemantauan juga mencakup kegiatan belajar mengajar di sekolah agar dampak asap tidak sampai mengharuskan penghentian aktivitas.

Menurut Khabib, hingga saat ini kualitas udara masih berada pada level yang dinilai aman. Ia menyebut indeks pencemaran udara tidak berada pada kondisi yang memerlukan peliburan siswa.

“Indeks pencemaran udara masih di level yang belum memerlukan untuk meliburkan siswa,” jelasnya.

Dengan meningkatnya hotspot dalam waktu singkat dan tren kejadian yang terus tercatat sejak awal tahun, pemerintah mendorong penguatan koordinasi di berbagai lini. Pengendalian karhutla pun diposisikan sebagai pekerjaan bersama, mulai dari pencegahan, patroli, sosialisasi, pemadaman, hingga dukungan operasi modifikasi cuaca.

Pelibatan 11.567 personel gabungan menjadi bagian dari respons atas peringatan dini yang berasal dari data hotspot. Langkah-langkah tersebut diharapkan mampu menekan risiko karhutla di tengah perkiraan puncak musim kemarau pada Agustus hingga September.