Peristiwa

Kecamatan Reok, NTT Tanpa Listrik dan Sempat Terisolasi Setelah Gempa, Warga: Seperti Kota Mati

×

Kecamatan Reok, NTT Tanpa Listrik dan Sempat Terisolasi Setelah Gempa, Warga: Seperti Kota Mati

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Wilayah Reok NTT Tanpa Listrik dan Sempat Terisolasi Usai Gempa, Warga: Seperti Kota Mati

jurnalistik.co.id – Kecamatan Reok, Kabupaten Manggarai, Nusa Tenggara Timur, sempat terputus setelah gempa bermagnitudo 7,7 pada Sabtu (15/8/2026). Warga melaporkan wilayah itu tanpa listrik dan sempat terisolasi karena jalan penghubung terputus akibat longsor.

Selain akses jalan yang terganggu, aliran listrik dan jaringan telekomunikasi juga ikut terputus selama dua hari. Dampaknya terasa langsung pada aktivitas harian warga, termasuk di lokasi-lokasi pengungsian darurat.

Jalan putus, listrik dan komunikasi mati

Menurut Camat Reok, Rita Udin, wilayahnya mengalami keterisolasian karena jalan penghubung ke kota Ruteng sempat putus. Longsor terjadi di beberapa titik, sehingga kendaraan sulit melintas.

Rita menjelaskan, kondisi jalan kemudian berangsur membaik. “Hari pertama benar-benar terisolir, kemarin sudah terbuka tapi tidak lancar, hari ini baru lancar,” kata Udin kepada Kompas.com, Senin malam.

Selama terisolasi, bantuan juga sulit sampai ke titik-titik pengungsian. Rita menambahkan, putusnya jaringan komunikasi membuat koordinasi menjadi lebih sulit dari biasanya.

Warga Kampung Raca Barat, Kecamatan Reok, Ayu Febrianti (24) menyampaikan bahwa pascagempa suasana dipenuhi rasa trauma. Ia juga menyebut warga makin ketakutan karena adanya gempa susulan.

Ayu mengatakan, selama dua malam setelah kejadian, Reok seperti tak berpenghuni karena ketiadaan listrik dan sinyal. “Apalagi selama dua malam ini, Reok seperti kota mati. Tidak ada listrik, tidak ada jaringan telekomunikasi,” kata Ayu kepada Kompas.com.

Dalam kondisi tersebut, warga memanfaatkan lampu senter dari ponsel dan senter baterai. “Kami bergantung listrik dari genset di posko. Gantian untuk cas,” ujarnya, menggambarkan keterbatasan daya listrik yang tersedia.

Sejak hari pertama, ribuan warga menempati posko-posko darurat yang disediakan. Bagi warga, pusat bantuan darurat menjadi titik tumpu untuk kebutuhan dasar sekaligus tempat beraktivitas di tengah minimnya infrastruktur.

Trauma warga dan proses pendataan

Ayu menuturkan bahwa gangguan listrik dan telekomunikasi tidak hanya menghambat penerangan, tetapi juga memukul ritme kehidupan warga. Ia menggambarkan bahwa suasana tanpa jaringan membuat informasi tidak mudah tersampaikan, sementara warga harus terus siaga menghadapi kemungkinan gempa susulan.

Rita juga menjelaskan bahwa pada hari pertama pasca gempa, evakuasi berlangsung secara spontan. Proses penanganan awal kemudian menghadapi kendala karena keterbatasan relawan dan akses untuk mendata warga di masing-masing posko.

“Kami mengalami kendala karena keterbatasan relawan, kemudian akses kami untuk mendata di masing-masing posko itu terbatas,” kata Rita. Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa selain akses fisik yang terhambat, pendataan dan koordinasi lapangan juga menghadapi keterbatasan.

Rita menyebutkan bahwa pada Senin (17/8/2026) kondisi perjalanan mulai membaik, berbeda dari situasi pada hari-hari sebelumnya. Namun, pemulihan akses dan distribusi bantuan tetap memerlukan waktu karena dampak longsor dan terputusnya komunikasi masih terasa di lapangan.

Dengan bergantinya kondisi jalan dari tidak lancar menuju lancar, warga berharap arus bantuan dan koordinasi dapat kembali berjalan lebih tertib. Sementara itu, gambaran “seperti kota mati” yang disampaikan Ayu tetap menjadi penanda bagaimana putusnya listrik dan jaringan telekomunikasi mengubah kehidupan harian masyarakat di Reok selama masa keterisolasian.

Dalam situasi tanpa listrik dan jaringan telekomunikasi, warga harus mengandalkan cara-cara sederhana untuk tetap bisa menjalankan kebutuhan harian di posko darurat. Penggunaan lampu dari ponsel serta senter baterai menjadi penopang utama saat penerangan terbatas, sementara pengisian daya dari genset dilakukan bergantian.

Ketika komunikasi sulit dijangkau dan pendataan terhambat, koordinasi bantuan serta pencatatan warga di masing-masing posko berjalan lebih lambat pada fase awal. Setelah akses jalan membaik bertahap, harapan warga adalah alur informasi dan distribusi kebutuhan bisa kembali lebih teratur, sehingga proses penanganan pascagempa tidak lagi tersendat seperti pada hari-hari keterisolasian.