jurnalistik.co.id – Tokoh penyiaran televisi dan penggerak kampanye kemanusiaan, Dame Esther Rantzen, wafat pada usia 86 tahun. Perjalanan panjangnya di dunia media dan kerja-kerja amal meninggalkan jejak yang luas, baik di layar maupun di luar layar.
Selama lebih dari dua dekade, Esther dikenal luas sebagai pembawa acara BBC That’s Life!, yang ia pandu sekaligus memproduksi dari 1973 hingga 1994. Menurut laporan, acara tersebut kerap menarik sekitar 20 juta penonton, dengan paduan investigasi isu konsumen yang serius serta tayangan yang lebih ringan dan mudah dicerna.
Perdana Menteri Andy Burnham menyampaikan bahwa sang tokoh telah “changed countless lives”. Dalam penghormatan yang sama, ia menekankan keberanian serta keterbukaan Esther ketika membicarakan kondisi kesehatannya, yang menurut Burnham membuat banyak orang mempertimbangkan pertanyaan-pertanyaan sulit menjelang akhir hayat.
Membangun layanan dukungan untuk anak dan lansia
Di luar layar televisi, Esther mendirikan Childline, sebuah layanan konseling bagi anak-anak dan remaja di Inggris. Ia meluncurkan inisiatif tersebut pada 1986.
Lalu, pada 2013, Esther juga meluncurkan Silver Line untuk membantu warga lanjut usia yang mengalami isolasi dan kesepian. Dua langkah ini memperlihatkan fokusnya yang konsisten: memastikan ada tempat bertumpu ketika orang membutuhkan bantuan, terlepas dari usia mereka.
Esther kemudian dikenal sebagai kampanye yang vokal terkait legalisasi assisted dying. Ia juga disebut menghadapi penyakit terminal, yaitu kanker paru-paru.
Dalam sebuah pengungkapan pada Desember 2023, Esther mengatakan bahwa ia telah bergabung dengan Dignitas, klinik assisted dying di Swiss. Namun, dalam pernyataan yang disampaikan kepada Press Association awal bulan ini, ia mengatakan bahwa meski “spent the money and made the plans” untuk pergi ke Dignitas, ia kemudian sampai pada titik di mana tubuhnya “too physically fragile to make the journey”.
Ia menambahkan bahwa hukum harus “change and change quickly”, sembari memperbarui permohonan agar wacana assisted dying bisa bergerak, seiring berlangsungnya debat dan pemungutan suara terbaru untuk Terminally Ill Adults (End of Life) Bill. Rencana legislatif tersebut gagal lolos melalui Commons.
Pengungkapan kanker dan permohonan saat proses legislasi berlangsung
Sebelum wafat, Esther telah mengungkap diagnosis penyakitnya pada Januari 2023. Ia menyebut bahwa kabar tersebut mendorongnya untuk menyampaikan ungkapan terima kasih yang “profound thanks to everyone who has made my life so joyful”.
Dalam pernyataan keluarga yang mengumumkan kematiannya pada Rabu, keluarga Esther menuturkan penghormatan untuk “the most wonderful mother” dan “cherished grandmother”. Mereka juga menyampaikan bahwa belas kasih dan sikapnya akan terus hidup melalui kerja amal yang ia bangun. Keluarga Esther menambahkan, “We hope the humour, ingenuity and audacity she brought to her work may continue to inspire you as it will do us.”
Perkembangan dukungan politik terhadap assisted dying juga sempat ia soroti. Pada Desember 2024, Esther berbicara tentang “great relief” setelah anggota parlemen mendukung usulan untuk melegalkan assisted dying di Inggris dan Wales. Namun, usulan itu kemudian “stalled in the House of Lords”.
Dalam wawancara dengan The Sunday Times pada November 2025, sebelum rancangan tersebut kehabisan waktu, Esther mengatakan bahwa selama kelak ada pihak lain yang akan mampu meminta bantuan untuk mengakhiri hidup sesuai pilihan mereka, ia akan merasa lega. Ia menyatakan, “as long as others in the future will be able to ask for help to die as they choose, I will die happy”.
Berita Terkait
Ia juga menyampaikan kekecewaan ketika anggota parlemen menolak upaya baru untuk menghadirkan kembali legislasi tersebut pada September. Sebagian kalangan kampanye disabilitas menggambarkan hasil itu sebagai a “victory”. Namun Esther menilai hasil tersebut sebagai “deeply sad that it won’t come soon enough for many of the people who need it”. Ia menutup pernyataannya dengan kalimat, “I am sure a change in the law will come,”.
Dari BBC Radio hingga menjadi wajah That’s Life!
Perjalanan Esther di BBC bermula dari BBC radio, ketika ia bekerja sebagai asisten efek suara. Setelah itu, ia berkembang menjadi peneliti televisi, dan pada 1968 ia menempuh pelatihan sebagai produser serta sutradara.
Ia kemudian bertugas sebagai peneliti dan pewarta untuk program urusan konsumen Braden’s Week yang dipandu Bernard Braden. Saat That’s Life! meluncur pada 1973, Esther menjadi tokoh utama acara tersebut. Ia kemudian menjadi wajah populer di layar sebagai pembawa sekaligus produser yang dikenal memiliki karakter yang tegas dan menghibur.
Untuk sejumlah segmen yang menonjol, acara itu disebut memuat materi seperti “talking dogs, Jobsworth Awards and campaigns on behalf of abused children, organ transplants, safe playgrounds, and to provide justice for consumers”.
Episode yang paling banyak ditonton, menurut catatan, menampilkan Sir Nicholas Winton yang dikenalkan untuk pertama kali kepada para penyintas yang ia selamatkan dari Holocaust pada edisi 1988. Di kemudian hari, Esther juga muncul dalam berbagai acara hiburan, termasuk Strictly Come Dancing, First Dates, dan I’m a Celebrity… Get Me Out of Here!
Kehidupan pribadi dan pengakuan atas kiprah amal
Esther menikah dengan pembuat film dokumenter Desmond Wilcox pada 1977, dan pernikahan mereka berlangsung hingga Desmond wafat pada 2000. Mereka memiliki tiga anak.
Atas layanan dan kontribusinya bagi anak-anak serta lansia, Esther dianugerahi gelar dame pada 2015. Pengakuan tersebut menjadi pengingat bahwa kiprahnya tidak berhenti pada ranah hiburan semata, melainkan juga dihubungkan dengan kerja-kerja nyata yang menyasar kebutuhan publik.
Tanggapan tokoh dari berbagai sektor
Sejumlah figur dari dunia politik, penyiaran, dan organisasi amal menyampaikan penghormatan. Matt Brittin, direktur jenderal BBC, menyebut Esther sebagai “legend of British broadcasting” dengan kontribusi yang menurutnya “immeasurable”. Ia menambahkan bahwa kehangatan, semangat, serta perjuangan untuk keadilan dan tindakan yang terlihat di layar terus berlanjut setelah program itu berakhir, dengan kampanye seumur hidup yang “changed the lives of millions”.
Kim Leadbeater, anggota parlemen dari Partai Buruh yang mensponsori RUU assisted dying, menyampaikan pandangannya di BBC. Ia menyebut Esther sebagai “a wonderful mix of strength and feistiness, but also really deep compassion and kindness”, dan mengatakan sang tokoh akan terus menginspirasi para penggiat kampanye.
Chris Sherwood, chief executive NSPCC yang menjalankan layanan bantuan Childline, mengatakan Esther telah “gone to exceptional lengths to ensure children and young people across the UK had somewhere to turn when they were in need of help”. Sementara itu, rekan penyiar Esther di That’s Life!, Bill Buckley, mengatakan bahwa tidak ada yang akan menghentikan Esther dalam urusan kampanye.
Ia menuturkan, “nothing would stop her” ketika harus memperjuangkan pendirian tersebut. Buckley menambahkan, “She saw the light at the end of the tunnel and followed it doggedly,” untuk menggambarkan keteguhan Esther dalam menghadapi jalan panjang proses kebijakan.



