jurnalistik.co.id – Keluarga Jason Arday menyampaikan bahwa mereka “masih berusaha berdamai” dengan kematiannya. Pernyataan itu dibacakan saat doa bersama yang digelar di Trafalgar Square, London, sebagai bentuk penghormatan bagi profesor tersebut.
Dalam pernyataan yang dibagikan di acara itu, keluarga Arday menyinggung perlakuan yang ia terima menjelang akhir hayatnya. Mereka menyebut “public cruelty Jason” yang, menurut keluarga, terasa terlalu berat bagi siapa pun untuk ditanggung.
Arday dikenal sebagai dosen termuda kulit hitam di Universitas Cambridge setelah penunjukannya pada 2023. Meski ia kemudian membantah tuduhan plagiarisme yang mengemuka, ia mengalami liputan media yang intens selama beberapa pekan sebelum wafat.
Pada doa bersama di pusat kota, sejumlah tokoh menyampaikan apresiasi sekaligus kritik terhadap cara pemberitaan terhadap Arday. Pernyataan keluarga dibacakan oleh Anggota Parlemen Partai Buruh Bell Ribeiro-Addy, dengan penekanan bahwa dampak Arday terhadap banyak orang terasa besar dalam 72 jam terakhir.
Keluarga juga berharap Arday dikenang sebagai “orang yang luar biasa” serta seluruh capaian yang telah ia kerjakan. Mereka menegaskan bahwa Arday adalah sosok yang “tanpa pamrih” dan lembut, yang selama ini terus mengangkat orang lain lewat kata-kata dan tindakannya.
Lebih jauh, keluarga menyatakan bahwa prestasinya besar dan mereka tidak ingin gambaran yang keliru mengenai karakter Arday menutupi apa yang seharusnya dikenang. Dalam acara tersebut, penyelenggara juga meminta peserta mengenakan warna hitam dan membawa bunga.
Suasana di Trafalgar Square berlangsung sendu, namun diiringi kemarahan yang mendasari. Fokus kemarahan diarahkan pada media, sementara sejumlah pembicara mengaitkan perlakuan yang dialami Arday dengan kampanye pemberitaan yang mereka nilai kejam dan menyudutkan.
Di antara yang hadir sebagai pembicara, Anggota Parlemen Partai Buruh Diane Abbott menyebut Arday menghadapi “vicious and bitter media campaign” yang ia kaitkan dengan pandangan bahwa seorang pria kulit hitam tidak seharusnya menjadi profesor di Cambridge. Abbott juga menyinggung keyakinan bahwa Arday mungkin merasa pengunduran dirinya akan menghentikan serangan, tetapi pada kenyataannya justru makin memburuk.
Abbott menambahkan bahwa hal tersebut adalah kampanye yang menargetkan “kita semua”. Ia memandang pemberitaan yang terjadi bukan sekadar persoalan akademik, melainkan juga menyangkut sikap terhadap kelompok tertentu dalam dunia pendidikan tinggi.
Lord Simon Woolley, principal Homerton College di Universitas Cambridge, menceritakan bahwa saat bertemu Arday pada pekan sebelumnya, Arday mengatakan merasa “dihantui sampai mati” oleh para pengkritik. Sementara itu, Misan Harriman, pembuat film dan aktivis, mengatakan liputan yang ia sebut sebagai “legacy media” melewati batas dalam perlakuannya terhadap Jason.
Harriman menggambarkan kekejaman yang ia nilai bersifat menikmati kesakitan orang lain, lengkap dengan gaya serangan yang menurutnya meracun. Ia menyatakan bahwa Jason seharusnya masih ada hingga hari ini.
Berita Terkait
Secara kronologi, Universitas Cambridge sebelumnya menyatakan klaim plagiarisme terkait tesis dan beberapa publikasi Arday telah ditelusuri oleh Liverpool John Moores University (LJMU) serta jurnal-jurnal yang bersangkutan. LJMU, yang memberi Arday gelar PhD pada 2015, menyimpulkan bahwa Arday tidak melakukan plagiarisme.
Namun, pada pekan terakhir, Cambridge mengumumkan adanya investigasi independen terkait penunjukan Arday. Arday, yang berusia 41 tahun, ditemukan meninggal di sebuah alamat di London selatan pada hari Jumat.
Arday tercatat mengundurkan diri sebagai profesor Cambridge untuk bidang sosiologi pendidikan pada 5 Agustus. Dalam pengunduran dirinya, ia menyampaikan bahwa langkah tersebut tidak boleh disalahartikan sebagai penerimaan atas narasi-narasi yang mengitari dirinya selama periode tersebut.
Dalam gelombang respons publik, lebih dari 90.000 orang menandatangani petisi Good Law Project yang menyerukan adanya penyelidikan atas liputan media tentang Arday. Di sisi lain, rektor Cambridge juga dikutip mengecam “racist feeding frenzy” yang terjadi di minggu-minggu sebelum kematian Arday.
Lord Chris Smith, yang berbicara secara terbuka untuk pertama kalinya mengenai kontroversi itu, menekankan bahwa integritas akademik tetap dapat dijaga sambil tetap mempertanyakan cara perlakuan terhadap Arday. Ia menyatakan pentingnya investigasi yang ketat ketika muncul kritik plagiarisme, seraya menolak untuk ikut dalam perburuan yang berbau rasis.
Pemerintah Inggris, lewat Downing Street, menolak menyatakan pada tahap ini apakah Perdana Menteri Andy Burnham mempertimbangkan investigasi. Downing Street menyebut ini sebagai momen untuk refleksi, dan menegaskan proses resmi seperti inquest adalah jalur yang tepat untuk menyimpulkan temuan.
Pengadilan koroner London Inner South juga menyampaikan bahwa penyelidikan untuk menentukan penyebab kematian dapat memakan waktu beberapa pekan. Setelah proses selesai, koroner akan mengonfirmasi apakah inquest akan digelar.
Sir James Cleverly, sekretaris bayangan urusan perumahan, mengatakan ia marah atas apa yang terjadi. Ia menilai “establishment” universitas, tidak hanya Cambridge, seharusnya menjalankan due diligence yang kuat dalam setiap penunjukan akademik senior.
Saat berbicara kepada BBC’s Today programme, Cleverly menyatakan bahwa Arday digunakan sebagai “bragging rights” oleh sebagian universitas, serta publik sering membicarakan umur dan etnisnya ketimbang bakatnya. Ia juga mengakui banyak liputan kemungkinan dipengaruhi rasisme, namun mempertahankan bahwa pertanyaan mengenai plagiarisme tetap sah untuk ditinjau secara serius.
Kontroversi plagiarisme bermula setelah akademisi lain, Nathan Cofnas, yang menyebut dirinya “race realist” dan kemudian dipecat dari perannya di Cambridge pada 2024. Ia menyatakan menemukan sejumlah contoh plagiarisme dalam karya Arday, sebelum unggahannya dihentikan setelah mendapat reaksi balik.
Cambridge, menurut laporan yang sama, sebelumnya merayakan penunjukan Arday sebagai profesor kulit hitam yang masih muda, dalam konteks minoritas yang sangat terbatas di akademia. Di Inggris, hanya sekitar 1% profesor universitas berkulit hitam, sehingga satu penunjukan semacam itu dinilai memiliki signifikansi besar.
Selain doa bersama di London, pada hari Minggu juga tercatat lebih dari 200 orang hadir dalam vigil di Cambridge yang diselenggarakan oleh mahasiswa pascadoktoral Arday. Acara-acara tersebut menegaskan bahwa di tengah kontroversi akademik, dampak kematian Arday memicu perhatian luas pada cara pemberitaan, proses pemeriksaan, dan perlakuan terhadap individu dalam lingkungan akademik.












