jurnalistik.co.id – Kepergian siswi kelas X SMA swasta di Tangerang Selatan yang tewas tertabrak KRL Commuter Line di area Stasiun Jurangmangu, Tangsel, pada Senin (10/8/2026) meninggalkan duka mendalam. Berbagai kenangan tentang sosoknya kemudian dibagikan oleh pihak sekolah maupun kerabat keluarga.
Di hari-hari setelah kejadian, tempat tinggal korban menjadi ruang berkumpulnya keluarga dan sanak saudara. Suasana duka terasa begitu kental, seiring doa-doa yang dipanjatkan untuk almarhumah.
Dikenang dengan jejak perhatian di sekolah
Kenangan yang paling berkesan, lanjut I, terjadi setelah kegiatan Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS). Saat itu, almarhumah sempat menulis surat ucapan terima kasih dan doa secara personal untuk I.
“Almarhumah itu pribadi yang hangat, beretika baik, dan mudah beradaptasi.” tutur I saat ditemui di sekolah pada Selasa (11/8/2026). I menambahkan bahwa dalam surat tersebut, almarhumah menyampaikan rasa terima kasih atas pengajaran yang diterimanya.
Dalam pengakuannya, I menceritakan isi pesan yang disampaikan almarhumah, termasuk doa yang menyertai ucapan terima kasih tersebut. “Almarhum itu sempat mengirim surat ke saya, memberikan ucapan terima kasih sudah mengajar, mendoakan saya, dan lain-lain. Anaknya baik-baik saja selama di sekolah,” ungkap I.
Kasih sayang keluarga menjadi bagian dari tumbuhnya
Kerabat tersebut menyebutkan bahwa perhatian orangtua tidak berhenti pada hal-hal umum, melainkan terasa nyata dalam keseharian. “Bener-bener disayang mati anak ini. Sayang dan sangat diperhatikan,” ungkap salah satu kerabat di rumah duka di wilayah Ciputat, Tangsel.
Ungkapan duka itu juga disertai permintaan agar masyarakat menghormati proses berkabung keluarga. Pihak keluarga berharap doa terus mengalir, sekaligus memberikan privasi selama masa penguburan dan pemulihan suasana bagi orang-orang terdekat.
Berita Terkait
Bantah isu perundungan di media sosial
“Saya pastikan tidak pernah ada (masalah), mau itu bullying , tugas-tugas, dan lainnya,” ujar I. Menurutnya, informasi yang beredar tidak mencerminkan kondisi di sekolah selama ini.
Lebih lanjut, I mengaitkan penjelasan tersebut dengan konteks penyesuaian bagi siswa baru kelas X. Ia menyampaikan bahwa para siswa kelas X yang baru masuk pada pertengahan Juli 2026 masih diberikan ruang untuk beradaptasi dengan lingkungan sekolah.
“Karena baru kelas X juga, anak-anak masih diberikan kenyamanan untuk beradaptasi. Saya pastikan tidak ada hubungannya dengan sekolah,” tutur I. Dengan demikian, pihak sekolah menutup kemungkinan bahwa perundungan atau masalah akademik menjadi faktor yang melatarbelakangi peristiwa tersebut.
Doa dan privasi untuk masa berkabung
Selain doa, keluarga juga meminta agar orang-orang terdekat mendapat ruang privasi. Dalam situasi yang rapuh seperti ini, kehadiran dukungan diharapkan hadir dalam bentuk doa dan sikap yang menjaga ketenangan keluarga.
Setelah kabar tersebut menyebar, suasana duka tidak hanya dirasakan oleh keluarga inti, tetapi juga meluas dalam bentuk dukungan dari lingkungan sekitar. Doa-doa yang dipanjatkan kemudian menjadi cara yang dipilih untuk menjaga hati tetap tabah, sekaligus menghormati kepergian almarhumah.
Pihak sekolah pun menekankan bahwa penguatan karakter selama masa pendidikan berlangsung melalui perhatian dan pendampingan kepada siswa. Dalam penuturan yang disampaikan, sosok almarhumah digambarkan sebagai murid yang mudah menjalin kedekatan, sehingga jejak kebaikan itu tetap dikenang oleh guru dan pengurus sekolah.
Penjelasan mengenai surat ucapan dan doa yang ditulis secara personal juga dipandang sebagai bentuk kepedulian almarhumah terhadap orang-orang yang pernah mendampinginya. Surat tersebut menjadi penguat bahwa kenangan tidak berhenti pada momen kegiatan sekolah, melainkan juga pada usaha sederhana untuk menyampaikan terima kasih.
Menanggapi beragam pembahasan di ruang publik, keluarga berharap masyarakat menahan diri agar tidak menambah beban psikologis bagi orang-orang terdekat. Pihak keluarga menggarisbawahi pentingnya privasi selama masa berkabung, sekaligus mengarahkan perhatian pada doa agar proses pemulihan berjalan dengan tenang, tanpa gangguan informasi yang berpotensi menimbulkan salah paham.












