Peristiwa

Nunukan Didera Byarpet Listrik, Ratusan Ayam Mati dan Warga Memprotes

×

Nunukan Didera Byarpet Listrik, Ratusan Ayam Mati dan Warga Memprotes

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi: Listrik "Byarpet" di Nunukan, Ratusan Ayam Mati dan Warga Ngamuk

jurnalistik.co.id – NUNUKAN — Pemadaman listrik berulang dengan pola “byarpet” di Kabupaten Nunukan, Kalimantan Utara, telah berlangsung lebih dari tiga jam dan memicu kemarahan warga. Selain mengganggu aktivitas harian, insiden ini juga dilaporkan berdampak pada ratusan ternak ayam yang mati.

Dalam beberapa unggahan keluhan di kalangan warga, pemadaman yang datang tanpa jeda itu disebut membuat sejumlah pihak kesulitan menjalankan kebutuhan dasar, termasuk pengelolaan ternak. Di lapangan, peternak bahkan melaporkan kerugian yang langsung terasa setelah listrik padam dan tidak kunjung pulih.

“Dari sekitar 2.000 ekor ternak ayam, sekitar 200-an ekor mati. Saat lampu padam tiba-tiba, ayam stres. Belum lagi kita sedot air pakai dinamo. Kalau mesin mati, ayam ikut mati kehausan,” tutur salah satu peternak ayam di Selisun, Wisang, Rabu (12/8/2026).

Wisang menjelaskan bahwa listrik byarpet yang berulang membuat kondisi kandang tidak stabil, terutama karena kegiatan pendukung seperti pengaliran air ikut terganggu. Ia menilai, PLN Nunukan seakan mematikan pasokan listrik tanpa jadwal yang dapat diketahui masyarakat sebelumnya.

Peternak tersebut menyampaikan bahwa ketidakjelasan pemadaman membuat warga dan pelaku usaha kecil berada pada posisi yang terus dirugikan. “Mau komplain ke siapa. Kita mau tak beli pulsa token, listrik rumah kita tak menyala. Bisanya ya cuma protes dan menahan dongkol saja,” imbuhnya.

Selain berdampak pada ternak, gangguan listrik juga menyentuh aspek pengelolaan harian peternakan yang bergantung pada perangkat pendukung. Saat mesin penunjang tidak dapat bekerja, proses yang dibutuhkan ternak menjadi terhambat dan berujung pada risiko kematian.

Menurut Wisang, kematian sekitar 200 ekor ayam bukanlah angka yang nominalnya besar bila dibandingkan skala usaha tertentu. Namun, bagi pengusaha kecil, kerugian tersebut tetap berarti. “Pastikan jadwal pemadaman itu diketahui masyarakat di lokasi target mati lampu sebelumnya. Jadi kita lebih siap, dan sedapat mungkin mengurangi potensi kerugian yang terjadi akibat padam lampu,” harap Wisang.

Ia menyebut, 200 ekor ayam yang mati tidak memiliki nilai yang sangat besar, yakni hanya seharga Rp 10.000 per bibit ayam. Kendati demikian, pengeluaran tersebut tetap berdampak pada keberlangsungan usaha karena uang yang hilang langsung berkaitan dengan modal harian.

Dalam kesempatan terpisah, peternak juga berharap PLN melakukan evaluasi kinerja. Harapan itu berangkat dari keluhan warga yang merasa pemadaman tidak disertai informasi memadai, sehingga masyarakat tidak punya waktu untuk menyiapkan langkah pengamanan saat listrik padam.

Jawaban PLN

Manajer ULP PLN Nunukan, I Putu Sudiarta, menjelaskan bahwa saat ini telah terjadi gangguan pada sistem kelistrikan Nunukan dan Sebatik. Gangguan tersebut berdampak pada terganggunya pasokan listrik di sejumlah wilayah.

Putu menyebut petugas PLN telah mengerahkan seluruh personel siaga dan mengoptimalkan sumber daya untuk penanganan serta pemulihan sistem secara bertahap. “Saat ini, PLN tengah melakukan berbagai langkah penguatan sistem kelistrikan, mulai dari optimalisasi operasi pembangkit yang tersedia, percepatan pemeliharaan dan perbaikan peralatan, pengaturan operasi sistem secara berkelanjutan, hingga penguatan cadangan daya melalui relokasi unit pembangkit reserve ,” ujar Putu melalui pesan tertulis.

Ia menambahkan bahwa sebagian peralatan pembangkit di sistem Nunukan juga sedang menjalani proses pemeliharaan dan perbaikan terencana. Artinya, langkah pemulihan tidak hanya fokus pada perbaikan mendesak, tetapi juga pada penataan sistem agar berfungsi lebih stabil.

Putu juga menyampaikan bahwa PLN terus memantau kondisi sistem kelistrikan Nunukan dan Sebatik selama 24 jam secara real time. “Setiap perkembangan dievaluasi secara berkelanjutan untuk memastikan proses pemulihan berjalan optimal sekaligus memperkuat keandalan pasokan listrik ke depan,” jelas Putu.

Ia menyatakan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan. Putu juga mengungkapkan bahwa ia baru menjabat sebagai manager PLN ULP Nunukan selama dua hari ini, sehingga komitmennya diarahkan untuk memastikan layanan kelistrikan berjalan aman dan andal.

“PLN menyampaikan permohonan maaf atas ketidaknyamanan yang dialami pelanggan serta mengapresiasi pengertian dan dukungan masyarakat selama proses penanganan berlangsung,” kata Putu. Ucapan tersebut disampaikan sebagai bagian dari respons terhadap keluhan warga yang terjadi selama gangguan pasokan listrik berlangsung.

Di tengah upaya pemulihan, warga dan peternak berharap penjelasan yang lebih jelas mengenai kondisi gangguan dan langkah mitigasi di lapangan. Mereka menekankan pentingnya informasi yang dapat diantisipasi, agar risiko kerugian—termasuk pada ternak—dapat ditekan.

Insiden listrik byarpet yang memakan waktu lebih dari tiga jam itu menjadi sorotan karena menggabungkan gangguan layanan dan dampak langsung pada aktivitas ekonomi warga. Dengan pemulihan bertahap yang disampaikan PLN, masyarakat kini menantikan perbaikan sistem sekaligus kepastian pemantauan agar pasokan listrik ke depan lebih stabil.