jurnalistik.co.id – Hampshire Constabulary merilis foto enam pria yang ingin dimintai keterangan terkait kerusuhan di Portsmouth, pada 6 September. Polisi berharap siapa pun yang mengenali wajah-wajah tersebut dapat menghubungi pihak berwenang.
Insiden bermula ketika ratusan demonstran anti-migran memblokir jalan di area Eastney Marina. Aksi itu dilakukan untuk menghalangi keberangkatan bus yang membawa 120 migran agar tidak meninggalkan kota.
Dalam peristiwa tersebut, para polisi mendatangi lokasi setelah demonstrasi memanas. Pihak kepolisian menyebut sejumlah kendaraan polisi, unit coastguard, serta kendaraan Border Force mengalami kerusakan sepanjang malam kejadian.
Tujuh petugas polisi mendapatkan perawatan di tempat karena mengalami cedera. Polisi menegaskan tidak ada orang yang terluka serius selama rangkaian pengamanan berlangsung.
Assistant Chief Constable Tony Rowlinson menyampaikan seruan agar masyarakat yang mengenali keenam pria dalam foto segera menghubungi polisi. Ia menekankan perlunya informasi dari publik untuk membantu proses penyelidikan.
Pemerintah juga mengecam perilaku yang disebut “intimidating and thuggish behaviour” dalam demonstrasi tersebut. Meski begitu, pemerintah tetap menegaskan hak warga untuk melakukan protes secara damai.
Proses hukum terkait kerusuhan mulai berjalan. Pada Jumat, seorang pria berusia 42 tahun dari Paulsgrove didakwa dengan violent disorder dan tuduhan menyerang seorang petugas polisi terkait insiden itu. Pria tersebut ditahan dalam proses reman.
Sehari setelahnya, pada Sabtu, seorang remaja berusia 16 tahun ditangkap sehubungan dengan kerusuhan. Remaja itu kemudian dilepas dengan status jaminan sambil menunggu penyelidikan lanjutan.
Rowlinson menjelaskan bahwa dalam penanganan ketertiban umum, penangkapan pada saat kejadian tidak selalu dapat dilakukan. Ia menyatakan hal itu terutama terjadi ketika bukti masih perlu ditelaah agar identifikasi pelaku pelanggaran terhadap aturan dapat dilakukan secara jelas.
Ia menambahkan bahwa investigasi sedang berjalan dan langkah-langkah yang diambil memberikan peringatan bagi siapa pun yang berniat mengganggu ketertiban serta menimbulkan kerusuhan pada acara-acara berikutnya.
Kerumunan di jalan dan benturan dua kubu
Berita Terkait
Pada Sabtu, sekitar 500 demonstran anti-migran turun ke jalan di Portsmouth. Mereka kemudian berhadapan dengan ratusan penentang dari kelompok Stand up to Racism.
Perlu diketahui, migran yang sempat dicegat di laut pada umumnya akan dibawa ke Dover untuk tahap pemrosesan awal. Namun, penyeberangan kali ini mengambil pola yang berbeda.
Jarak keberangkatan dan keputusan membawa ke daratan
Dari informasi yang disampaikan, kelompok yang tiba dengan perahu karet/ dinghy di Eastney Marina berangkat dari dekat Cherbourg di Bay of the Seine. Lokasi itu disebut berada sekitar 170 mil atau 274 km ke arah barat dari Calais, sehingga keberangkatan disebut lebih jauh ke barat dibanding titik-titik yang biasanya digunakan.
Jika para migran tersebut tetap dibawa ke Dover, perjalanan akan bertambah sekitar empat sampai lima jam. Polisi dan laporan menyebut durasi awal yang sudah mencapai sekitar 10 jam, sehingga penambahan itu akan membuat keseluruhan operasi menjadi lebih panjang.
Selain itu, rencana membawa rombongan ke Dover juga akan menuntut lifeboat beroperasi di luar area patroli normal untuk waktu lebih lama. Karena pertimbangan itu, Border Force dan coastguard memilih membawa kelompok tersebut ke daratan di Eastney Landing, Portsmouth.
Dalam operasi tersebut, lifeboat dari Bembridge dan Yarmouth di Isle of Wight ikut membantu penanganan di lokasi.
Perkiraan pola baru penyelundupan dan dampaknya
Para analis migrasi menyampaikan kemungkinan bahwa penyelundup manusia sedang bereksperimen dengan titik keberangkatan baru. Tujuannya disebut untuk menghindari kehadiran polisi yang kuat di Calais dan Dunkirk.
Setelah operasi di lokasi, pekerja dari RNLI kemudian menjadi sasaran demonstran. Mereka disebut dibidik melalui unggahan di media sosial yang menampilkan foto dan nama anggota kru, dengan tuduhan mereka berkhianat.
Dengan dirilisnya foto enam pria tersebut, Hampshire Constabulary membuka ruang bagi masyarakat untuk ikut mendukung proses identifikasi. Polisi menegaskan bahwa informasi yang diperoleh akan membantu memastikan tanggung jawab dalam gangguan dan kerusuhan pada 6 September dapat ditentukan dengan benar.












