jurnalistik.co.id – Gempa bumi yang mengguncang Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur, meninggalkan kerusakan luas dan memaksa warga bertahan di lokasi pengungsian dengan serba terbatas. Selain rumah-rumah rusak, mata pencaharian nelayan ikut hancur, sementara kebutuhan dasar—terutama air bersih dan sanitasi—belum sepenuhnya terpenuhi.
Ratusan warga Desa Marpokot masih bertahan di beberapa titik pengungsian di perbukitan sekitar Mbay. Kondisi itu terlihat pada Senin (17/8/2026), ketika warga menjalani hari-hari berikutnya setelah bencana melanda wilayah pesisir dan permukiman setempat.
Di tengah suasana duka, kerusakan tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga mengubah pola hidup warga. Banyak keluarga harus mengatur ulang kegiatan harian karena ruang tinggal yang rusak membuat mereka tidak bisa kembali seperti biasa.
Rumah roboh dan perahu nelayan ikut hilang
Salah satu dampak yang langsung dirasakan berasal dari pengalaman Sudarling, nelayan dari Desa Nangadhero. Ia menceritakan bagaimana gelombang laut naik dan menghantam kawasan permukiman pesisir hingga menggenangi rumah warga.
“Keadaan di bawah juga rumah hancur, perahu-perahu juga pada hilang semua. Air naik sampai rumah-rumah tergenang, rumah hancur, perahu kita di bawah pada hancur semua. Alhamdulillah keluarga aman, baik-baik semua,” ujar Sudarling, dikutip dari Kompas TV.
Menurut Sudarling, air yang masuk ke area rumah membuat kerusakan terjadi bersamaan dengan hilangnya perlengkapan nelayan. Ia menyebut bahwa perahu yang biasanya menjadi sandaran pekerjaan juga terdampak parah.
Di tempat lain, warga yang tinggal di kawasan permukiman juga menghadapi kerusakan berat. Pulus Bhara, warga Kolikapa, mengatakan rumah berstruktur tembok atau rumah batu di wilayahnya mengalami kerusakan hingga roboh setelah gempa.
“Kalau di Kolikapa rumah batu sudah hancur, itu memang kami lihat sendiri, kami mengalami sendiri. Ada rumah tetangga yang roboh. Kita mau bagaimana, namanya alam yang begini, kita pasrah saja,” ungkap Pulus.
Bagi Pulus, kerusakan yang terjadi bukan sekadar dampak yang terdengar dari orang lain, melainkan sesuatu yang dialami langsung di lingkungan sekitar.
Keterbatasan tenda pengungsian dan prioritas bagi kelompok rentan
Di lokasi pengungsian, warga berupaya bertahan di tengah minimnya sarana. Sebagian besar korban membangun tenda darurat secara swadaya karena kebutuhan tempat tinggal darurat meningkat seiring waktu.
Berita Terkait
Hingga saat ini, hanya ada satu tenda resmi Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) yang didirikan di Dadiwuwu, Kelurahan Lape, Kecamatan Aesesa, Kabupaten Nagekeo. Tenda tersebut digunakan bersama oleh warga dari Mbai 1 dan Nangadhero.
Karena kapasitasnya terbatas, pemanfaatan tenda BNPB harus diprioritaskan. Penggunaan tenda diarahkan terutama untuk kelompok rentan seperti ibu-ibu yang sakit serta anak-anak.
“Tenda hanya satu, prioritas ibu-ibu yang sakit dan anak-anak. Yang lain tidur di luar tenda dengan kondisi seadanya,” kata Sudarling.
Warga yang tidak tertampung di dalam tenda memilih bertahan di luar dengan perlengkapan seadanya. Pilihan tersebut menunjukkan bahwa keputusan harian di pengungsian lebih sering dipengaruhi keterbatasan tempat daripada kenyamanan.
Untuk memenuhi kebutuhan makan sehari-hari, warga bergotong royong mendirikan dapur dan tungku darurat di area pengungsian. Aktivitas memasak secara darurat menjadi cara mereka menjaga ketersediaan makanan bagi keluarga yang berkumpul di lokasi tersebut.
Ancaman krisis pangan, air bersih, dan sanitasi
Meski bantuan awal berupa bahan pokok (sembako) dari pihak pemerintah maupun perorangan mulai berdatangan, kebutuhan warga pengungsi masih menghadapi berbagai kendala. Salah satu persoalan yang dirasakan adalah sulitnya memperoleh tambahan bahan makanan.
Di sekitar lokasi bencana, banyak toko dan kios sembako yang tutup. Akibatnya, warga kesulitan membeli kebutuhan tambahan untuk melengkapi konsumsi harian.
Selain pangan, kebutuhan yang tak kalah mendesak adalah air bersih serta fasilitas mandi, cuci, kakus (MCK) atau toilet portable. Tanpa sanitasi yang memadai, warga menghadapi risiko kesehatan karena aktivitas kebersihan sulit dilakukan di pengungsian.
Ketiadaan fasilitas sanitasi membuat sebagian pengungsi terpaksa buang hajat ke semak-semak atau area hutan di sekitar lokasi. Kondisi ini memperlihatkan bahwa pemulihan tidak cukup berhenti pada penyediaan tempat berlindung, melainkan juga harus menyentuh aspek layanan dasar.
Warga berharap pemerintah daerah dan lembaga terkait segera menyalurkan bantuan tambahan yang lebih lengkap. Mereka meminta ketersediaan tenda pengungsian yang memadai, pasokan air bersih, serta toilet portable untuk membantu menjaga kesehatan para pengungsi di Nagekeo.
Di tengah bertahan hidup, kebutuhan-kebutuhan tersebut menjadi penentu kualitas hari-hari pengungsian. Ketika air bersih dan sanitasi belum tersedia secara layak, warga harus menghadapi batasan yang lebih berat dalam menjalani rutinitas.
Gempa yang melanda Nagekeo disebut sebagai bencana yang menumbuhkan duka mendalam bagi masyarakat setempat. Karena itu, pemenuhan kebutuhan dasar di pengungsian diharapkan dapat mengurangi beban yang saat ini harus dipikul oleh warga.












